Pipis aja bayar, apalagi membuang limbah B3

Kalau anda jalan-jalan ke mall, dan kebelet mau pipis, maka anda harus siap-siap merogoh kantong seribu rupiah atau bahkan lebih. Beberapa mall di Surabaya menarik fee di toilet untuk mereka yang akan pipis. “Pipis aja bayar, apalagi membuang limbah B3”, demikian tanggapan seorang peserta sosialisasi yang kami adakan hari ini di Tg. Perak Surabaya.  Bekerja sama dengan Ipperindo (asosiasi galangan kapal Indonesia) Jawa Timur, kami mengadakan workshop dengan berbagai kalangan yang bergerak di pelabuhan. Topik yang dibahas adalah upaya pengelolaan limbah B3 dari kegiatan galangan kapal.

Pada kesempatan itu kami menjelaskan tentang kewajiban pengelolaan limbah B3 bagi kegiatan galangan kapal.  Kami menjelaskan bahwa limbah B3 harus dikelola dengan cara-cara yang benar. Aturan tentang cara pengelolaan limbah B3 sudah tersedia. Untuk mengelola limbah B3 dengan benar, ada biaya yang harus dikeluarkan. Saya mengajak para peserta untuk merubah paradigma para pengusaha selama ini yangberanggapan bahwa biaya mengelola limbah adalah “external cost“. Anggapan ini menyebabkan banyak para pengusaha yang mencoba menghindari upaya pengelolaan lingkungan. Padahal pengelolaan limbah harus diperlakukan sebagai “internal cost” dari suatu usaha.

Atas penjelasan itu, salah seorang peserta (katakanlah si Polan) bertanya, apakah pengusaha “kecil” akan dikenakan biaya tambahan untuk mengelola limbah B3. Tentu biaya itu nantinya akan membebani customer, padahal customer dari pengusaha “kecil” itu selama ini umumnya mencicil pembayaran kepada pengusaha galangan kapal. Apakah dengan mengelola limbah, tidak akan menjadikan customer mereka lari. Atas pertanyaan inilah salah seorang peserta lainnya (katakanlah si Anu) menyatakan, bahwa pengelolaan limbah memang harus dilakukan.  Kemudian  peserta Anu mengatakan:  “Pipis aja bayar, apalagi membuang limbah B3.

Saya seolah mendapat dorongan atas pernyataan si Anu tersebut. Lalu saya mengatakan, kalau limbah B3 tidak dikelola dengan benar, ongkosnya akan jauh lebih besar dibandingkan kalau limbah B3 dikelola dengan benar. Hanya saja ongkos itu berupa pencemaran yang ditanggung oleh banyak pihak, ditanggung oleh masyarakat. Sementara si penghasil limbah lari dari tanggung jawab. Karena itulah aturan mensyaratkan “polluters pay principle“, yang mengharuskan penghasil limbah menanggung biaya pemulihan yang diakibatkan oleh penghasil limbah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s