Justifikasi menikahi anak usia 12 tahun

Bagi saya, suatu kejadian atau kegiatan mestinya didukung oleh kebenaran, akal sehat dan proses yang benar. Kalau ada kejadian yang meski kedengarannya tidak menyalahi aturan atau tidak merugikan orang lain, tapi kalau tidak didukung oleh akal sehat, bagi saya itu tetap sesuatu yang tidak wajar.

Maka ketika baca koran berita tentang seorang yang bernama Pujiono Cahyo Widianto menikahi anak berusia 12 tahun, saya tidak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan itu. Puji, pria berumur 43 tahun, berdalih bahwa ia menikahi Ulfa (12 tahun), bertujuan baik, dan tidak merugikan orang lain.
“Orang tua Ulfa juga setuju atas pernikahan itu, kenapa orang lain pada ribut”, begitu kilahnya.

Komisi Nasional Perlindungan Anak melalui Sekjen Arist Merdeka Sirait, mengatakan bahwa Puji telah melanggar UU No 1/1974 tentang Perkawinan, yang melarang perkawinan dengan anak. Untuk menikah seorang wanita setidaknya berumur 16 tahun. Selain itu yang juga dilanggar adalah UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa persetubuhan dengan anak adalah terlarang. Menurut Sirait, Puji juga melanggar UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Karena Ulfa, dipekerjakan setelah menikah.

Pujiono, seperti ditulis Jawa Pos (23/10), mengatakan bahwa ia menikah sudah sesuai prosedur, yaitu ada ijin dari istri pertamanya. Malahan istri pertamanya yang mencarikan calon istri keduanya itu. Hanni, istri pertama Puji diminta untuk menjadi pimpinan perusahaan dan mengelola usaha yang didirikan oleh Puji. Hanni, mengatakan bahwa ia tidak sanggup memimpin perusahaan itu. Lalu Puji meminta mencari orang yang sanggup memimpin perusahaan itu. Tapi Puji memberikan syarat, orang yang dicari itu akan menjadi istrinya, selain itu harus cerdas, cantik, dan berumur dibawah 12 tahun. Istri pertama Puji kemudian melakukan pencarian calon istri kedua Puji.

Saya kira, alasan Pujiono, hanyalah mengada-ada. Dia tak lebih hanya ingin mencari sensasi, atau bahkan sebenarnya hanya ingin memuaskan libidonya terhadap anak kecil. Tapi karena ia dianggap orang yang terpandang didesanya, maka ia mencari pembenaran (justifikasi) keinginannya itu. Puji memang mendapatkan sensasi yang ia inginkan, dan pada saat yang sama dia juga berhasil memuaskan libidonya.

Saya kira Pujiono mempunyai kelainan jiwa, ia sudah tidak bisa menggunakan akal sehat dan tidak bisa melihat kewajaran. Ia mengklaim bahwa tindakannya bertujuan baik, dan tidak merugikan orang lain. Tapi ia lupa, cara yang ia lakukan sudah tidak masuk akal. Selain itu, Puji sudah merampas masa remaja Ulfa untuk mempersiapkan dirinya sebagai wanita seutuhnya. Ulfa mungkin tidak komplain, mungkin juga tidak menyadari bahwa ia disalahgunakan. Ulfa sekarang dipekerjakan untuk di perusahaan Puji sambil dijadikan istri.

9 thoughts on “Justifikasi menikahi anak usia 12 tahun

  1. poligami sih poligami mbah pujiyono tapi jangan asal pilih mbah masa anak 12 thn dikawinin apa mbah nggak bisa merayu yang lebih dewasa….kalau anak kecil dibohongin sama mbah sih mau aja.

    Like

  2. ….katanya sudah haid, jadi sudah dianggap dewasa dan bisa melakukan “tugas istri”.
    Memangnya menikah, cuma urusan hubungan sex saja…

    …. katanya niatnya baik, mau membantu Ulfa…
    Kalau mau niat membantu, ya dijadikan anak asuh saja, kenapa mesti minta pamrih mengawini…..

    Like

  3. Menurutku semuanya karena HARTA……..
    Coba saja kalo yang melamar Ulfa itu adalah seorang anak Kyai tapi kerjanya cuma sebagai karyawan biasa dengan gaji yang pas-pasan, mau gak dia……?

    Like

  4. menikahi anak 12 tahun..????
    kok dah om2 doyannya sama anak2 kecil 12 tahun, kok ga tunggu ja sampe umur 18 tahun, umur 12 tahun masih belum bisa dibilang dewasa, walaupun sudah mengalami menstruasi, anak umur 12 tahun masih perlu perhatian penuh dari orang tua, jadi ga’ wajarja bila harus berumah tangga.

    Like

  5. Kenapa dia yg mnikah sedang anda2 yg sibuk? gak usah urus orang lae urus diri anda sndiri, agama anda, pekerjaan anda, keluarga anda. Jauh lebih baik orang yg menikahi perempuan dibawah umur dari pada mengkritik dan menolak padahal dia pe-zina. Ato jangan2 anda ini memang pezina?

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s