Kompetisi media, tidak berperasaan memeras ketegangan narasumber

Persaingan adalah adalah mutlak. Hal itu prinsip yang barangkali saat ini diyakini sejumlah media televisi. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menjadi leader. Sesungguhnya persaingan untuk menjadi kampiun adalah sah-sah saja. Akan tetapi dalam persaingan yang sangat ketat itu, media juga harus menghargai perasaan orang lain, yaitu pemirsa, terutama para narasumbernya. Apa yang dilakukan oleh TV One Jumat petang 31 Oktober lalu, rasanya sudah kebablasan. Keterlaluan.

Untuk mencari eksklusifisme berita, stasiun TV One, Jumat lalu menayangkan liputan langsung tentang rencana eksekusi hukuman mati Trio Bomber Bali, Amrozi, Imam Samudra dan Muklas.Untuk itu TV One menayangkan dua nara sumber eksklusif, yaitu ibu Chusnul, salah seorang korban bom Bali, yang sampai sekarang masih harus menjalani perawatan setelah 6 tahun. Narasumber lainnya adalah Uztad Khozin, kakak kandung Amrozi.

Kedua narasumber dimintai pendapatnya langsung dari tempat masing-masing, Ibu Chusnul di Denpasar Bali, dan Uztad Khozin di Solokuro, Lamongan. Mula-mula, dua anchor TV One dari studio, meminta Ibu Chusnul, untuk menceritakan pengalamannya tentang kejadian malam pemboman di tahun 2002. Dengan setengah memaksa, Si anchor TV One ingin mengulang cerita traumatis Ibu Chusnul, ketika mengalami luka-luka bakar yang mengerikan pada tahun 2002.

Ibu Chusnul menceritakan bagaimana ia berusaha menyelamatkan diri, sampai akhirnya pingsan karena luka bakar. Beruntung, ia masih bisa ditolong.

Kemudian si anchor menanya perasaan Ibu Chusnul tentang rencana pelaksanaan eksekusi mati trio bomber Bali. Tentu saja dengan polos dan perasaan yang sangat tertahankan Ibu Chusnul meminta agar trio bomber segera dihukum mati. Sambil matanya berkaca-kaca menahan dan perasaannya Ibu Chusnul meminta pemerintah supaya menghukum para teroris yang sudah membunuh banyak korban.

Kesempatan berikutnya Anchor TV One menanya Uztad Khozin tentang tanggapan pihak keluarga menghadapi rencana pelaksanaan hukuman mati. Uztad Khozin dengan ekspresi wajah yang sangat dingin mengatakan bahwa pihaknya tidak merencanakan apa-apa, karena sejauh ini belum ada pemberitahuan dari pemerintah maupun kuasa hukumnya kepada mereka. Dalam kesempatan itu Khozin sempat mengatakan bahwa apa yang akan dihadapi oleh adik-adiknya (Amrozi dan Muklas) adalah sesuatu perjuangan.

Pada slot berikutnya anchor TV One meminta Ibu Chusnul untuk mengatakan sesuatu kepada Uztad Khozin. Masih dengan perasaan yang tegang, Ibu Chusnul seperti kebingungan tidak tau mau mengatakan apa, tapi akhirnya ia meminta agar keluarga Amrozi tidak menyebarkan perasaan teroris kepada orang lain, termasuk kepada para santrinya. Karena korban teroris itu juga banyak orang Islam. Mendengar perkataan ibu Chusnul itu, Uztad Khozin mengatakan bahwa keluarganya tidak menyebarkan perasaan teroris, dan balik meminta Ibu Chusnul untuk membuktikan pernyataan “tuduhannya”. Khozin malah dengan tegas mengatakan bahwa Ibu Chusnul telah “su’udhon”, selanjutnya Khozin, mengatakan bahwa ia meragukan keislaman Ibu Chusnul. Ibu Chusnul sebagai korban Bom Bali, terlihat shock mendengarkan perkataan Khozin, yang seolah tidak mau tau tentang penderitaan yang dialami oleh para korban bom Bali termasuk Ibu Chusnul.

Suasana “perdebatan” antara korban bom Bali Ibu Chusnul dan Uztad Khozin terasa cukup tegang. Yang anehnya kedua anchor TV one seolah membiarkan perdebatan menegangkan kedua narasumbernya, para achor berita tidak terlihat mendinginkan suasana. Kedua anchor malahan terkesan ingin memaksakan ketegangan itu.

Sampai disini, saya menilai TV One sudah keterlaluan dan seolah tidak mau tau perasaan Ibu Chusnul sebagai korban bom Bali. Sebagai korban, Ibu Chusnul diperhadapkan dengan pihak keluarga Amrozi, yang memang tidak peduli akan korban bom Bali. Sikap Amrozi cs dan keluarganya yang tidak mau tau tentang penderitaan para korban yang berkepanjangan, bukanlah hal baru. Semestinya pihak TV One sudah mengetahui “posisi” keluarga Amrozi, begitu juga “posisi” para korban bom Bali. Mengapa keduanya “diperhadapkan” untuk memeras ketegangan berita.

Mengapa TV One begitu tega “membongkar” perasaan trauma Ibu Chusnul dan menayangkannya secara “live”. TV One benar-benar tidak berperikemanusiaan. Hanya untuk mengejar eksklusifisme dan untuk bersaing dengan stasiun TV lainnya, sampai harus mengoyak-ngoyak perasaan korban bom Bali. Persaingan media TV yang ketat, sudah tidak lagi memperdulikan perasaan narasumbernya.

4 thoughts on “Kompetisi media, tidak berperasaan memeras ketegangan narasumber

  1. waduh lagi-lagi ekspoitasi berita oleh media… hmm
    sering malah sering, apalagi TVOne, pernah nara sumber betul2 dibuat sampai menangis….
    efek nangis ini yg diinginkan media, supaya mereka bisa mendaptkan feelnya..
    hmm… lagi2 terlalu mengeksploitasi

    Like

  2. waduh lagi-lagi ekspoitasi berita oleh media… hmm
    sering malah sering, apalagi TVOne, pernah nara sumber betul2 dibuat sampai menangis….
    efek nangis ini yg diinginkan media, supaya mereka bisa mendaptkan feelnya..
    hmm… lagi2 terlalu mengeksploitasi

    Like

  3. Untung masih ada yang seperti kita ini, bisa melihat apa dibalik tayangan. Dan selain itu masih banyak dampak negatif tayangan itu…karena dapat menimbulkan perpecahan… dan konyolnya mereka mencari duit dari kondisi ini.
    Saya pun melihat acara itu Mas. Rasanya tak layak ditonton TV yang muatannya begitu. Hanya saja terlalu banyak korban dari masyarakat yang kesadarannya terpengaruh pemberitaan demikian, maka hanya pihak penguasalah tempat kita berharap untuk meluruskan dan bertanggung jawab.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s