"Copy-paste" ala mahasiswa.

Kurang lebih 3 bulan lalu, saya ditelpon teman, seorang dosen perguruan tinggi di Surabaya. Saya diminta mengajar mata kuliah “Jaringan Utilitas Perkotaan”. Permintaan itu saya setujui, jadilah kami “tandem”, bertiga; teman saya dosen dan teman dari Pemkot Surabaya, serta saya mengajar satu mata kuliah secara bergantian.

Saya diminta untuk memberikan materi yang menekankan aspek “praktik pelaksanaan” pengelolaan jaringan utilitas perkotaan.  Tujuannya agar mahasiswa memperoleh gambaran pelaksanaan dari dari seorang “praktisi” seperti saya. Sementara teman dosen tersebut akan memfokuskan pada aspek “teoritis” dan akademis.  Saya diminta menyampaikan materi bidang air minum, air limbah perkotaan dan sistem drainase perkotaan.

Ketika tiba saatnya “tatap muka” dengan mahasiswa, saya sudah sampikan, bahwa saya lebih banyak “cerita pengalaman“, ketimbang mengajar teori atau memberi kuliah. Jadi saya  minta para mahasiswa supaya aktif bertanya, klarifikasi atau bahkan membantah apa yang saya ceritakan dan saya sampaikan.  Apalagi mereka adalah mahasiswa S-2, yang memang diharuskan proaktif untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya agar mereka mendapatkan “bekal” ilmu sebanyak-banyaknya.

Waktu yang dialokasikan bagi saya untuk tatap muka dengan mahasiswa, memang tidak banyak. Untuk 3 bidang, air minum, air limbah dan drainase, hanya ada 4 kali pertemuan dengan masing-masing 4 jam mata kuliah. Dengan alokasi waktu yang seperti itu, praktis saya hanya akan bisa memberikan prinsip-prinsip pengelolaan jaringan utilitas perkotaan diketiga bidang itu. Karena itu untuk membantu menambah pemahaman, saya memberikan tugas kepada para mahasiswa. Saya berharap, dengan tugas itu mahasiswa bisa memahami lebih jauh manajemen utilitas perkotaan.

Tugas yang saya berikan adalah untuk menyusun suatu program revitalisasi sistim air minum untuk meningkatkan kinerja sistim air minum disuatu kota yang masuk kategori kota sedang. Dari tugas itu mahasiswa diminta membuat rencana jangka menengah revitalisasi dan menghitung investasi yang dibutuhkan untuk program revitalisasi itu.

Data empiris yang diberikan kepada mahasiswa, saya rancang sedemikian rupa, sehingga setiap orang mempunyai data yang berbeda satu sama lain.   Saya menyampaikan juga, bahwa saya sengaja memberikan data yang berbeda, supaya hasil masing-masing mahasiswa juga berbeda. Untuk beberapa data yang tidak terlalu prinsipil, saya berikan kebebasan untuk menggunakan asumsi. Saya berharap, dengan menggunakan asumsi masing-masing, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Saya memberikan kesempatan untuk konsultasi kepada saya, dan juga bisa dilakukan kapan saja dengan mengirim email kepada saya.

Ketika tugas sudah dikumpulkan, saya membaca satu persatu tugas yang dibuat oleh para mahasiswa. Saya menjadi sangat terkejut mendapati, bahwa nilai investasi yang dihitung oleh para mahasiswa untuk revitalisasi air minum itu mendapati angka yang sama. Ada delapan (8) orang mahasiswa yang hasil perhitungannya sama persis, padahal data tugasnya masing-masing orang berbeda.

Secara pribadi saya kecewa dengan para mahasiswa itu, saya sampaikan, bahwa saya menghormati hasil kerja masing-masing, tapi sangat kecewa dengan sistim “copy-paste” yang dilakukan (apalagi sampai 8 orang). Mestinya para mahasiswa S-2 itu bisa lebih profesional dalam menyelesaikan tugas, yang sebenarnya tidak terlalu sulit. Apalagi saya membuka kesempatan seluas-luasnya untuk bertanya kepada saya. Waktu penyelesaian juga cukup longgar, yaitu 2 minggu.

Tapi itulah, faktanya. Saya tidak tau, apakah praktek “copy paste“, itu sudah sedemikian jauh terjadi di mahasiswa. Bagaimana nantinya mereka bekerja kalau untuk tugas kecil saja sudah membuat “copy paste” saja. Tugas besar mungkin akan “dibajak” habis-habisan. Entahlah…

5 thoughts on “"Copy-paste" ala mahasiswa.

  1. Kalo untuk mahasiswa (mantan) D-3 seperti saya itu masih wajar lah Pak. Tapi ini kan S-2? Secara gitu pak S-2 😯 Jangan-jangan mereka anggota dewan yang terhormat, lagi nyari gelar?

    Waduh maaf pak komen saya agak emosional. Lagi muak ama politisi..

    Like

  2. mahasiswa seperti itu harus diberi pelajaran pak.. tapi saya rasa ndak hanya mahasiswa saja kok yang suka kopi paste. dosen juga. daripada bikin slide sendiri mending download dari penerbit bukunya trus dikopipaste dan diberi nama dia.

    semuanya berangkat dari kedisiplinan pribadi dan didikan lingkungan. kalau diteruskan maka apa jadinya bangsa ini? selamanya akan jadi konsumen!

    Like

  3. universitas yang bersangkutan perlu mempertimbangkan penerapan sistim pemasukan tugas online dengan software anti plagiarisme (seperti kampus2 di negara maju).

    Like

  4. emg kelewatan tu mahasiswa S-2 tp kok kyk ank smu kelakuannya

    tp ya mau gmn lg pak, budaya di indonesia skrg udh pada ga bnr si jd ya kita emg hrs usaha keras utk merubbah kebiasaan seperti itu ^_^

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s