Ramainya hiruk pikuk Pasar Chatuchak

Berbagai barang keperluan ada di sana, mulai dari pakaian, sepatu, kerajinan, souvenir, sampai bahan keperluan sehari-hari seperti sayuran dan sambal. Tentu saja dibeberapa bagian, terdapat “kantin” dimana orang bisa duduk menikmati hidangan dan minuman. Soal ramainya, minta ampun, segala suku bangsa ada disana, pengunjung dan penjual berjejalan di gang sempit, namun bersih. Satu lagi yang juga penting, pasar yang sedemikian besar, tidak ada orang merokok, karena merokok terlarang di pasar Chatuchack.

Ya, merokok di Pasar Chatuchack memang dilarang. Saya kira ada peraturan yang memuat itu. Yang jelas, saya menemukan beberapa papan peringatan. “No smoking. Fine 2.000 Baht”, begitu tulisan yang sangat jelas dipajang di Pasar Chatuchack, Bangkok. Pasar ini letaknya agak dibagian utara Bangkok, persis di dekat stasiun terakhir, “Mochit”, “Bangkok Sky Train”. Letak pasar ini memang strategis, stasiun kereta bawah tanah (subway), hanya berjarak kurang dari 100 meter. Begitu pula stasiun kereta layang, bersebelahan dengan stasiun kereta bawah tanah. Tidak heran, kalau kemudian turis manca negara banyak yang datang ke Pasar Chatuchack. Sepertinya pengunjung pasar ini lebih didominasi oleh turis dari seluruh dunia. Tidak jauh dari pasar terdapat juga “Chatuchack Park”, dimana ditengah-tengahnya terdapat kolam.

Kalau mau dibandingkan, Pasar Katuchack agak mirip dengan Pasar Turi Surabaya sebelum terbakar. Jenis barang dagangan hampir sama, begitu juga kualitas barang juga tidak jauh berbeda. Pasar Katuchak juga melayani penjualan “whole sale” dan retail. Dari segi luas, Pasar Chatuchak cukup luas, menurut perkiraan saya, luas keseluruhan tidak kurang dari 5 hektaran. Ukuran setiap kios, cukup kecil, kebanyakan berukuran sekitar 2 x 1,5 meter. Jadi hampir sama dengan ukuran kios di Pasar Turi Surabaya.

Para penjual, umumnya bisa berbahasa Inggeris. Kita bisa menawar dalam bahasa Inggeris. Saya coba menawar barang separoh harga, tapi tidak berhasil. Mungkin saya kurang gigih menawar. Tapi semua barang harus ditawar, saya perhatikan, turis-turis bule juga pintar menawar harga. Ada juga penjual yang kurang jelas pengucapan bahasa Inggerisnya, tapi biasanya mereka dilengkapi dengan kalkulator untuk menunjukkan harga. Jadi kitapun harus siap-siap untuk menekan tombol kalkulator untuk menawar. Penjual akan menyodorkan kalkulator kepada kita, agar kita menawar dengan kalkulator.

Di peta turis yang saya dapat di hotel, Pasar Chatuchak disebut sebagai “weekend market“. Saya tidak tau apakah pada week day, pasar itu benar-benar tutup. Saya kesana pada hari Sabtu kemarin, dan memang sangat ramai dan penuh pengunjung. Kalau memperhatikan ramainya pengunjung dan banyaknya kios, rasanya pasar itu buka tiap hari. tapi kenapa dituliskan sebagai pasar akhir pekan.

Untuk sampai kepasar Chatuchak, saya naik Sky Train dari stasiun “Phrom Phong” di Sukhumvit, Bangkok. Stasiun Phrom Phong, sekitar 300 meter dari hotel saya menginap, Imperial Queens Park, yang bersebelahan dengan taman “Benjasiri“. Harga tiket adalah 40 Baht (sekitar Rp. 13.000) sekali jalan. Tiket dapat dibeli di “mesin tiket” yang ada di platform stasiun. Karena mesin hanya mau uang koin, maka, saya harus menukar uang kertas lembaran 20 Baht dengan koin. Pada akhir pekan Sky Train Bangkok, sangat padat dengan penumpang. Bangkok memang sudah menjadi kota turis yang sangat ramai.

4 thoughts on “Ramainya hiruk pikuk Pasar Chatuchak

  1. kalo di philipina dan thailand kayaknya bahasa inggris jadi bahasa pengantar jadi lebih ope nterhadap wisatawan asing…
    coba yah pedagang pasar turi juga seperti itu😀 hehe

    Like

  2. Wuih, tdk ada yg merokok di pasar itu?😉
    Oya, masalah bahasa pengantar – patut ditiru itu, karena dg sanggupnya masyarakat berbahasa asing (contohnya Inggris) tentunya bisa menarik turis – termasuk jg spt yg Om Arul bilang.

    Like

  3. Itu memang luar biasa, di kompleks pasar Chatuchak, saya tidak menemukan orang merokok, termasuk di jalan penghubung antar los. Padahal itu di tempat terbuka.
    Saya kira ini patut dicontoh.

    Konstruksi bangunan pasarnya sama persis dengan pasar tradisional di Indonesia, terbuka, tidak ada plafon, tapi Chatuchak bersih. Dagangan di kios didominasi barang souvenir dan kerajinan serta pakaian dan alas kaki.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s