Pendangkalan Ancam Pesisir Surabaya

Kompas, Senin, 24 November 2008 Surabaya, Kompas – Pesisir Surabaya terancam pendangkalan akibat faktor alamiah dan reklamasi yang disengaja. Pendangkalan bisa merusak ekosistem dan merugikan manusia. Selain itu, pendangkalan juga menyebabkan Surabaya lebih mudah banjir.

Pakar lingkungan laut ITS, Mukhtasor, mengatakan bahwa secara alamiah memang ada pertambahan sedimentasi di pesisir Surabaya. Hal itu akibat pesisir Surabaya menjadi muara Sungai Bengawan Solo dan Kali Brantas. “Secara alamiah, kedua sungai itu membawa sedimen ke muaranya di pesisir Surabaya,” ujar Mukhtasor, Minggu (23/11) di Surabaya.

Marine Geological Institute (MGI) Indonesia mencatat Bengawan Solo membawa sedimen rata-rata 2,75 kilogram per meter persegi. Sementara Kali Brantas membawa sedimen 1,3 kilogram per meter persegi. Sedimen Kali Brantas yang dibawa sedikitnya 10 anak sungainya yang bermuara di pesisir Surabaya menambah garis pantai rata-rata tujuh meter per tahun.

Sedimentasi itu semakin parah akibat reklamasi. Reklamasi ilegal menahan arus air laut sehingga endapan tidak dihanyutkan ke palung di Selat Madura atau ke laut Jawa. “Di pesisir timur yang terbentang dari Tanjung Perak hingga Gunung Anyar, banyak reklamasi oleh individu maupun perusahaan. Di sisi barat tanah hasil reklamasi itu sedimen terus bertambah,” ujar Mukhtasor.

Perubahan pola arus laut akibat tertahan reklamasi dapat memengaruhi tingkat keasinan air laut atau salinitas. Perubahan salinitas ini memengaruhi habitat ikan dan makhkuk hidup laut lainnya.

Dampak negatif

Pendangkalan akibat sedimentasi alamiah dan reklamasi itu membawa beberapa dampak negatif. Dasar di hilir sungai akan meninggi akibat sedimentasi ini. Akibatnya, air tidak mengalir dengan baik sehingga meningkatkan kemungkinan banjir. “Jalur air ke laut terhalang oleh sedimentasi. Beberapa kelurahan di pesisir Surabaya sudah semakin sering kebanjiran,” ujarnya.

Ekosistem pesisir juga terancam oleh pendangkalan. Biota-biota perairan dangkal kehilangan habibat. Padahal, biota laut dangkal sumber makanan utama ikan-ikan di Selat Madura. Jika kehilangan makanan, populasi ikan menyusut sehingga jumlah tangkapan nelayan berkurang.

Bagi pelayaran, dampak pendangkalan berupa menyempitnya alur. Akibatnya, perahu dan kapal semakin terbatas ruang geraknya. “Untuk kota pelabuhan seperti Surabaya, penyempitan alur pelayaran merupakan musibah,” kata Mukhtasor.

Dari segi sosial, reklamasi ilegal meningkatan pertambahan penduduk ilegal pula. Pertambahan penduduk secara ilegal ini dapat memicu berbagai masalah sosial bagi Surabaya.

Sementara Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup Surabaya Togar Arifin Silaban mengatakan, Pemkot Surabaya sudah berusaha mengendalikan reklamasi di pesisir. Pemkot melarang pejabat terkait memproses perubahan penguasaan lahan di pesisir. “Hal ini mencegah pemilik menambah luas lahan dengan reklamasi,” ungkap Silaban.

Mengenai tanah oloran atau hasil sedimentasi, sebagian dimanfaatkan untuk hutan bakau. Hutan bakau dibutuhkan untuk mendukung ekosistem laut. (RAZ)

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s