Iklan “layanan masyarakat” (baca: politik) para menteri

Lama-lama saya menjadi gerah melihat iklan para menteri di layar kaca. Sejumlah menteri sedang gencar-gencar promosi diri, nampang di layar kaca. Seolah ingin jadi selebriti, saban hari iklan layanan masyarakat (baca : politik) para menteri itu muncul di hampir disetiap stasiun TV.

Para menteri itu antara lain, Menteri Pemuda, Menteri Pertanian, Menteri Perhubungan, Menteri Kesehatan, dan bahkan terakhir Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Yang agak berbeda, adalah Menteri Kordinator Kesra, Aburizal Bakri, tidak muncul di TV, tapi belanja iklannya sangatlah besar melalui iklan PNPM.

Munculnya iklan para menteri itu, setelah bos mereka Presiden SBY juga membuat iklan politik disejumlah media, termasuk TV. Sehingga, para menteri latah, meniru atasannya. Nampang di TV untuk mencari dukungan rakyat dan jual tampang. Entah karena mereka mau nyalon jadi Kepala Daerah setelah nanti selesai masa jabatannya sebagai mnteri, atau tujuan lain. Tapi iklan-iklan itu adalah pemborosan.

Kalau dilihat dari materi isi iklannya, sesungguhnya tidak ada yang sangat penting alias urgent, sehingga seorang Menteri harus ber acting, didepan kamera. Memangnya Menteri-menteri itu kurang kerjaan. Lagi pula belanja iklan para menteri itu, kan menggunakan APBN. Biaya untuk pembuatan spot iklan dan pembayaran jam tayang di TV cukup tinggi. Yang untung jelas, adalah production house, yang membuat iklan, dan stasiun TV serta biro iklan.

Padahal, kalau anggaran iklan itu digunakan untuk sesuatu yang lebih nyata, barangkali hasilnya akan lebih baik. Seperti merenovasi ruangan sekolah yang rusak, atau memperbaiki bis kota. Para menteri itu hanya sekedar mencoba tebar pesona. Tapi siapa yang bisa melarang mereka beriklan. Dia orang nomor satu di kantornya.

Apa KPK atau kejaksaan “tidak berminat” memelototi belanja iklan para menteri itu?. Entahlah.

7 thoughts on “Iklan “layanan masyarakat” (baca: politik) para menteri

  1. wah pak saya setuju banget pak dengan penggunaan dana iklan untuk aksi nyata…
    tapi gimana yakz, itu semua sudah dipolitis pak, maklum masih menggunakan kekuasaan jadi susah tersentuh hukum.

    Like

  2. Kalau dilihat dari isi iklannya, sesungguhnya tidak ada yang sangat penting alias urgent, sehingga seorang Menteri harus ber acting, didepan kamera. Emangnya Menteri-menteri itu kurang kerjaan. Lagi pula belanja iklan para menteri itu, kan menggunakan APBN. Biaya untuk pembuatan spot iklan dan pembayaran jam tayang di TV cukup tinggi. Yang untung jelas, adalah production house, yang membuat iklan, dan stasiun TV serta biro iklan.

    Padahal, kalau anggaran iklan itu digunakan untuk sesuatu yang lebih nyata, barangkali hasilnya akan lebih baik. Seperti merenovasi ruangan sekolah yang rusak, atau memperbaiki bis kota. Tapi siapa yang bisa melarang mereka beriklan. Dia orang nomor satu di kantornya.

    Itu menurut kita bang.Menurut mereka mungkin menghabis-habiskan anggaran demi popularitas jauh lebih baik dan itulah realita pejabat di negeri kita. Salam dari kami, Masyarakat Marginal Sumatera Utara

    Like

  3. Harusnya ada ketentuan penggunaan anggaran yang lebih ketat. Artinya jangan sampai semua menteri latah minta akting didepan kamera. Wah, bisa jadi acara baru deh, kontes idol para menteri. 🙂
    Salam sukses buat semua.

    Like

  4. Mestinya tak ada anggaran negara buat Parpol dan urusan Kampanye.
    Pastaslah rakyat melarat… belum-belum dana negara dihabiskan buat pesta yang penuh janji kosong…
    Mau berpesta… biayai sendiri.
    Salam balik Bang..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s