Para penguasa Pegete, Jakarta

Si bapak bertanya: “Jadi kapan mau mulai masuk kerja?”. Saya langsung tau itu artinya saya diterima bekerja di kantor itu. “Secepatnya pak, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan di kantor lama”, jawab saya. “Kalau begitu aturlah nanti dengan pak Iskandar”, beliau menambahkan. Saya senang bisa diterima kerja di Jakarta, tapi begitu kembali ke Bandung, saya jadi mikir, “Dimana nanti tinggal, kos-kosan di daerah sekitaran Menteng, kan mahal. Sebagai calon PNS, mana mampu kos di kawasan itu. Kalau kosnya jauh, udah habis waktu naik bis kota, juga masih perlu ongkos transport.

Lagi bingung mikirin tempat tinggal di Jakarta, saya main ke tempat teman. Lalu cerita kalau saya akan kerja di Jalan Surabaya, Menteng, tapi bingung cari pondokan. “Kenapa tidak hubungi aja si Gx@#$”, si teman menyarankan. “Dia kan sendirian di kamarnya yang besar itu, lagi pula dekat sekali dengan Jalan Surabaya”. Ini dia yang ditunggu, dekat ke kantor, bisa kos-kosan bareng “si uda” Gx@#$.

Begitu mulai bekerja di Jakarta, saya langsung menemui “siuda” di Pegete alias asrama mahasiswa UI di Pegangsaan Timur. Pegete adalah panggilan untuk asrama mahasiswa Pegangsaaan Timur. Setelah cerita ngalor-ngidul, saya sampaikan lah bahwa saya lagi cari tempat tinggal, karena baru pindah kerja ke Jalan Surabaya.
Bah, dison ma ho tinggal, sahalakku do di kamar on,” (Sudah, disini aja kau tinggal, aku sendirian kok di kamar ini) katanya. ” Emangnya boleh yang bukan mahasiswa UI tinggal disini”, saya bertanya. “Ah, gampanglah itu diatur, udahlah disini aja kau tinggal” dia menegaskan.

Begitulah, selang beberapa hari saya sudah menjadi penghuni asrama mahasiswa Pegete. Padahal waktu mahasiswa, saya tidak pernah tinggal di asrama. Sekarang setelah bekerja, malahan jadi tinggal di asrama mahasiswa UI. Kamar mahasiswa di Pegete, memang besar, ukurannya sekitar 5 x 6 meter, jadi cukup untuk dua dipan, lemari dan meja. Pas untuk ditinggali dua orang, kamarnya di lantai dua. Kamar mandi ada dibagian Utara di lantai bawah, air PAM mengalir 24 jam, lancar.

Kalau saya bisa masuk dan tinggal di asrama mahasiswa UI, tidak berarti, mahasiswa UI bisa dengan mudah menjadi penghuni asrama. Itu diceritakan sendiri oleh “si uda”. Banyak mahasiswa UI yang ingin tinggal di asrama Pegete, tapi banyak yang tidak bisa masuk, karena kamar dikuasai oleh “penghuni lama”. Para penghuni lama inilah yang jadi “penguasa” di Pegete. Banyak penghuni lama Pegete yang tidak berstatus mahasiswa UI. Ada yang sudah DO atau sudah tamat dari UI, tapi mereka masih tinggal di Pegete.

Bahkan tidak sedikit yang “mewariskan” penguasaan kamar asrama Pegete kepada teman, atau kerabatnya. Seolah-olah, asrama Pegete adalah “milik” mereka. Saya termasuk yang kecipratan bisa tinggal di asrama Pegete, karena mendapat “warisan” kamar dari mantan mahasiswa UI yang sudah bertahun-tahun tamat dari UI. Mereka inilah yang saya sebut sebagai “penguasa” asrama Pegete. Dan mayoritas “penguasa” Pegete itu adalah “halak hita“.

Tinggal di Pegete bagi saya, awalnya agak menyeramkan. Kenapa tidak, sepanjang hari hampir 24 jam, di selasar asrama selalu ada orang yang main “joker karo“, atau permainan kartu semacamnya. Para pemain ini, umumnya adalah para “penguasa” Pegete, dan kalau sudah main “joker karo”, suara mereka keras, apalagi kalau sudah tertawa. Dan umumnya mereka memang “halak hita“.

Setiap pagi mau berangkat ke kantor, atau pulang kantor pada sore atau malam hari, saya harus lewat dari sekitar tempat mereka berada. Dan itu membuat saya merasa tidak nyaman, karena mereka semua terkesan kurang ramah pada orang lain. “Si uda”, teman sekamar saya adalah salah satu yang sangat sering bergabung dipermainan “joker karo” dan sekaligus sebagai salah satu “penguasa” Pegete. Akhirnya para “penguasa” Pegete itu tau, kalau saya adalah kerabat “si uda” Sehingga lama kelamaan mereka tidak memperdulikan saya lagi. Meski begitu, saya selalu berusaha menghindar untuk akrab dengan “penguasa” Pegete, kecuali dengan “si uda”, teman sekamar saya.

Tidak terasa, saya dua tahun tinggal di asrama Pegete, yang jaraknya cuma lima menit berjalan kaki ke kantor saya di Jalan Surabaya. Selama itu, saya tidak pernah bayar sewa kamar, tidak pernah bayar listrik, tidak pernah bayar air. Tinggal di pusat Jakarta, relatif dekat kemana-mana, terutama ke kantor. Saya baru keluar dari asrama itu, ketika saya menikah.

3 thoughts on “Para penguasa Pegete, Jakarta

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s