Menata PKL menjadi indah

Beberapa kali ke Bangkok, saya sering bertanya-tanya dalam hati. Apa yang membuat jalan-jalannya rapi dan bersih, padahal banyak pedagang kaki limanya. Pada kunjungan terakhir November lalu, saya menyempatkan “menelusuri”, jalanan Bangkok di sekitar Sukhumvit, dan menyaksikan bagaimana para pedagang kaki lima berjualan ditepi jalan. Dari penelusuran itu, saya melihat memang ada yang berbeda dengan para pedagang kaki-lima di Surabaya dan dikota-kota Indonesia umumnya.
Saya mencoba berjalan di sekitar kawasan Sukhumvit terutama di sekitar “Benjasiri Park” , sebuah taman terbuka di kawasan di pusat kota Bangkok. Di kawasan ini, banyak terdapat hotel-hotel dan pusat perkantoran. Saya coba perhatikan, bagaimana pedagang kaki-lima (PKL) berjualan dikawasan ini. Saya memang tidak sempat menelusuri seluruh kawasan, hanya sebagian kawasan Sukhumvit. Disekitar  kawasan ini, saya hanya menemukan PKL yang berjualan makanan. Saya tidak menemukan PKL yang menjual barang lain selain makanan.

Para penjaja makanan itu menempatkan dagangannya diatas “gerobak dorong”, yang di Surabaya disebut “rombong”. Dagangan PKL ada yang berupa jagung rebus, kacang rebus, berbagai minuman ringan, sate (daging dan bakso), sejenis rujak tumbuk, serta makanan lainnya. Gerobak dorongnya benar-benar mempunyai roda, sehingga sangat “mobile”, mudah berpindah-pindah. Pada umumnya pedagang makanan di Sukhumvit berjualan pada sore hingga malam hari. Ketika saya lewat pada pagi hari, saya tidak menemukan para PKL tersebut.

Ciri khas dari PKL di Sukhumvit adalah, bahwa semua makanan dijual secara “take away”, artinya pembeli tidak disediakan fasilitas untuk makan ditempat.  Sistim PKL take away, dan jam operasi yang terbatas itulah yang menyebabkan kondisi kaki lima atau pedestriannya tetap terjaga bersih. Pedagang mengolah makanan di rumah, sehingga tidak ada sisa bahan makanan yang dibuang disekitar gerobak PKL. Di lokasi berjualan, masih dimungkinkan untuk menghangatkan makanan. Dengan tidak disediakan makan di tempat, PKL tidak perlu mencuci peralatan makanan, sehingga tidak ada air bekas cuci yang dibuang sembarangan. Para PKL menyediakan plastik tempat sampah, jadi kalau ada pembeli yang menikmati makanan saat itu juga, tempat makanan dan sisanya langsung dibuang ke tempat sampah. Ini lah yang mengakibatkan kaki lima di Sukhumvit tetap bersih.

Berbeda dengan PKL yang ada di Surabaya dan di kota-kota lainnya di Indonesia. Para PKL menyediakan fasilitas untuk makan ditempat, pedagang harus mencuci peralatan makan, dan mengolah makanan di tempat. Biasanya sisa bahan makanan, sisa air cucian dan minyak dibuang ke kawasan sekitar. Selain itu karena makan ditempat, berarti ada fasilitas untuk duduk dan meja yang akhirnya memerlukan areal yang lebih luas. PKL di Surabaya cenderung meninggalkan  gerobaknya di lokasi trotoir. Dan lama-kelamaan karena kurang pengawasan dan sering kucing-kucingan dengan petugas polisi PP, sebagian PKL malah menginap di dalam gerobak dorongnya di tepi jalan. Perilaku PKL yang kurang peduli kebersihan, menjadikan pedestrian menjadi kotor dan kumuh.

Untuk meningkatkan kebersihan dan keindahan kota, maka sesungguhnya semua PKL di Surabaya hanya diperbolehkan beroperasi pada jam tertentu. Tidak ada yang boleh menetap dan gerobak harus “mobile“.  Selain itu, semua produk yang dijual haruslah dengan sistem “take away“, tidak ada yang bisa dikonsumsi di tempat. Bila Surabaya bisa meniru PKL seperti di Sukhumvit Bangkok, niscaya Surabaya akan semakin indah.

Ayo, kalau Sukhumvit bangkok bisa, Surabaya juga bisa.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s