Billboard raksasa ambruk, seorang tewas

Hujan yang disertai angin kencang melanda Surabaya 3 hari ini. Menurut BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika Juanda, Surabaya, angin kencang yang terjadi di Surabaya Senin kemarin kecepatannya lebih dari 60 km/jam. Angin kencang tersebut  berasal dari “comulonimbus“. Akibat dari angin kencang, beberapa billboard iklan tumbang. Salah satu billboard reklame raksasa yang tumbang di pusat kota Surabaya di Jalan Embong Malang, menimpa pengguna jalan, akibatnya satu orang tewas dan 3 lainnya luka-luka.

Angin kencang yang bertiup kemarin, arahnya tidak beraturan. Saya yang masih berada di kantor, melihat derasnya tiupan angin yang disertai hujan. Dari ruangan saya yang berada di lantai 4, terlihat kencangnya angin membuat pohon-pohon bergoyang-goyang, sementara air hujan menggucur. Jarak pandang mungkin hanya sekitar 100 – 200 meter. Beruntung angin kencang tidak terlalu lama, sehingga kerugian yang terjadi tidak terlalu besar.  Ketika hujan agak mereda, dan saya pulang ke rumah, diperjalanan saya mendengar bahwa seorang tewas akibat tertimpa papan reklame yang roboh.

Fenomena angin kencang di Surabaya sebenarnya jarang terjadi. Seingat saya selama 15 tahun menetap di Surabaya, angin kencang yang merenggut nyawa baru  kali ini terjadi. Robohnya bilboard reklame raksasa itu, bisa dikarenakan beberapa faktor, tetapi kekuatan angin yang bertiup nampaknya semakin besar dari tahun ke tahun. BMG menyebut penyebab angin kencang itu adalah comulonimbus. Saya berpendapat bahwa cuaca semakin sulit diprediksi. Dengan kata lain, iklim sudah berubah.

Penanggulangan bencana

Para ahli yang tergabung di IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), belum dapat memperkirakan seperi apa besarnya perubahan iklim di suatu kawasan. Para ahli itu juga belum bisa membuat perkiraan kapan datangnya suatu angin kencang dan seberapa besardampak yang bakal timbul. Ketidak mampuan para ahli itu, karena rumitnya menyusun suatu model perubahan iklim yang akurat. Jadi tidak heran, kalau angin kencang yang terjadi di Surabaya, agak sulit diprediksi sebelumnya.

Akibat sulitnya membuat prakiraan perubahan iklim, maka menjadi lebih sulit untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Dari segi bencana yang mungkin timbul, maka yang paling baik adalah menyusun preparedness (ketersiapan) terhadap bencana. Ketersiapan ini mencakup banyak hal, mulai dari prasarana sarana, dan kesiapan manajemen bencana. Ketika terjadi bencana gempa di Jogya, preparednessnya boleh dikatakan rendah. Sehingga korban yang jatuh cukup banyak, dan penanganan korban kurang sistematis.

Salah satu faktor utama dalam ketersiapan adalah adanya “pusat informasi” yang tahan bencana. Artinya ketika terjadi suatu bencana, pusat informasi tersebut, tidak mengalami gangguan.  Secara fisik, pusat informasi bencana itu, tidak mengalami kerusakan fisik, meski properti lainnya sudah rusak.  Di pusat informasi itu harus tersedia lengkap informasi yang dibutuhkan dalam penanganan bencana. Ketika terjadi suatu bencana, maka pusat informasi harus bisa menjadi pusat kendali kegiatan penanggulangan bencana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s