Transportasi, cara paling jitu menurunkan GRK perkotaan

Untuk kawasan perkotaan, sumber pencemar udara yang terutama adalah emisi gas buang kendaraan bermotor. Berbagai penelitian di kota-kota di dunia membuktikan, bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar polusi udara. Di beberapa kota, sumbangan sektor transportasi bisa mencapai 70% dari pollutan. Kecenderungan ini berlaku juga bagi kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya.

Berdasarkan fakta itulah maka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang berasal dari perkotaan, intervensi di sektor transportasi dipandang sebagai cara paling jitu untuk mengurangi GRK.  Bila transportasi perkotaan bisa dibenahi menjadi sistim transportasi yang ramah lingkungan, maka emisi GRK perkotaan dapat ditekan. Salah satu upaya pembenahan transportasi perkotaan adalah dengan mengembangkan transportasi angkutan umum massal.

Hal ini ditegaskan kembali oleh Kepala IPCC (Intergovernmental panel on Climate Change), Dr. Rajendra Pachauri, pada salah satu sesi COP 14 UNFCCC di Poznan, Polandia awal Desember ini.

Dr Rajendra Pachauri, the head of the IPCC, the Intergovernmental Panel on Climate change addressed the Local Governments Climate Sessions in Poznan, Poland. He is recognized as one of the lead scientist explaining to governments and policy-makers the relevance of addressing climate change urgently.

Dr. Pachauri told cities that transport planning can be a key municipal contribution to reducing climate change. Particularly he stressed that ‘Transportation has a rapid turn-over in terms of local investments, compared to buildings for example. Promoting sustainable mobility is an effective way for cities to reduce carbon emissions’

Pengembangan angkutan umum massal perkotaan memerlukan investasi yang sangat besar.  Sistem angkutan umum massal yang dinilai paling murah adalah yang berbasis jalan raya seperti busway (bus rapid transit, BRT). Angkutan umum massal yang lain yang berbasis rel seperti LRT, monorail maupun MRT jauh lebih mahal dari pada BRT. Perbedaan biayanya bisa mencapai 5 -10 kali lipat per kilometer investasi.

Kota Jakarta, yang mengembangkan BRT berupa busway, merupakan pilihan realistis yang bisa dilaksanakan. Dengan kemampuan pendanaan yang ada (terbatas), Jakarta mengembangkan busway di berbagai kawasan Jakarta.

Jakarta yang semula sangat ingin mengembangkan MRT, akhirnya harus memilih busway karena pertimbangan biaya pelaksanaan. Bisa saja nekat membangun MRT, tapi harus minjam dari lembaga keuangan, dan pinjaman itu harus dikembalikan plus bunganya. Bila biayanya sangat besar, agar bisa mengembalikan pinjaman, maka tarifnya terpaksa tinggi. Bila tarifnya terlalu tinggi, dikuatirkan, malah penumpangnya sepi, dan pengembalian pinjaman bisa seret.

Itulah sebabnya akhirnya pilihannya pada busway, yang pembiayaannya jauh lebih kecil dari MRT. Bila Jakarta saja masih belum bisa melaksanakan MRT, apalagi kota-kota lainnya, sudah pastilah kemampuan keuangannya jauh lebih   rendah dari Jakarta.  Kota-kota lain di Indonesia jangan bermimpi bisa mengembangkan LRT, monorail, atau bahkan MRT. Angkutan massal berbasis jalan raya, nampaknya masih pilihan paling optimal bagi kota-kota di Indonesia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s