Refleksi Akhir Tahun 2008 Lingkungan Hidup

Hari Selasa kemarin, Radio Trijaya Surabaya tiba-tiba menelpon saya, minta pendapat saya tentang catatan akhir tahun 2008 bidang lingkungan hidup. Petugas penelpon meminta opini saya saat itu, ketika beberapa orang sedang “on air” membahas beberapa isu, termasuk isu lingkungan hidup. Permintaan mendadak itu, tidak mungkin saya tolak, tanpa persiapan data apapun, saya menjawab beberapa pertanyaan “host” radio.

Pertanyaan awal adalah tentang persoalan lingkungan hidup secara umum selama tahun 2008 khususnya di kota Surabaya. Saya menjawab bahwa ada berita buruk dan ada berita baik. Berita buruknya adalah, bahwa secara umum, kualitas lingkungan hidup menurun, dan mengalami degradasi secara bertahap. Penurunan kualitas itu sudah berlangsung lama, sejak bertahun-tahun yang lampau. Secara global, lingkungan memburuk. Pemanasan global adalah salah satu akibat kelalaian manusia yang tidak mengelola lingkungan dengan benar.

Secara lokal, kualitas lingkungan memburuk ditandai dengan masih tingginya kejadian penyakit menular seperti diare, demam berdarah, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan penyakit lainnya. Para ahli membuktikan bahwa penyakit-penyakit itu berkorelasi langsung dengan lingkungan hidup yang buruk. Indikator lain yang bisa dilihat adalah banjir. Di perkotaan, banjir seringkali disebabkan oleh banyaknya sampah dan sedimen yang mengendap di saluran, sehingga dimensi saluran berkurang. Ketika hujan turun, saluran meluap dan terjadilah banjir. Di luar kota, banjir disebabkan oleh penggundulan dan perambahan hutan. Praktek pertanian yang tidak benar, merusak hutan dan lereng-lereng gunung. Maka terjadilah tanah longsor dan banjir bandang di musim hujan.

Berita baiknya adalah mulai tumbuhnya kesadaran berbagai pihak untuk menyelamatkan lingkungan. Meski agak terlambat, kesadaran akan perlunya pelestarian lingkungan merupakan langkah yang terus harus ditingkatkan. Gerakan kepedulian lingkungan terus dikumandangkan dan terus ditingkatkan. Berbagai pihak memberikan komitmen yang cukup tinggi untuk usaha-usaha peningkatan lingkungan. Salah satu contoh nyata adalah kegiatan pemilahan sampah di masyarakat.Gerakan pengomposan yang dilakukan dengan menggunakan Takakura Home Method (THM), adalah upaya nyata untuk membantu pelestarian lingkungan.

Selama tahun 2008, gerakan pelestarian lingkungan cukup gencar dilakukan di Surabaya. Akan tetapi gerakan itu belum cukup untuk menjamin lingkungan hidup yang nyaman dan sehat. Kerusakan lingkungan sudah pada taraf yang serius, perlu upaya sangat serius selama bertahun-tahun untuk memperbaikinya. Perlu intervensi dan investasi besar untuk mendapatkan lingkungan yang sehat.

Tahun 2008 sudah ditetapkan sebagai Tahun Sanitasi Internasional. Pencanangan ini dimaksudkan agar pengelolaan sanitasi dapat memberikan tingkat kesehatan masyarakat yang baik. Akan tetapi sepanjang tahun 2008, upaya yang dilakukan di Indonesia, baru sebatas pembahasan wacana. Diperlukan upaya dan komitmen yang lebih tinggi untuk mengembangkan sistem sanitasi perkotaan yang baik. Untuk kota besar seperti Surabaya, sistem sanitasi yang mengandalkan sistem septik tank tidaklah cukup. Karena itu diperlukan kemauan dan keinginan yang amat kuat untuk mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik.

3 thoughts on “Refleksi Akhir Tahun 2008 Lingkungan Hidup

  1. saya rasa memang benar teman-teman kita sudah banyak yang sadar akan kelestarian lingkungan,namun kembali hal ini bisa terealisasi dengan baik jika didukung penuh komitmen dari semua pihak,terutama pemerintah

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s