Quo vadis sistim transportasi Surabaya ?

Kota metropolitan yang maju selalu didukung oleh suatu sistim transportasi umum massal yang baik. Kota-kota yang bertumbuh mutlak memerlukan sistim transportasi yang efisien. Tidak ada kota besar yang dapat berkembang dengan sistim transportasi seadanya.  Tidak mungkin suatu kota dapat melayani fungsi kota dengan sistim transportasi asal-asalan. Sistim transportasi yang efisien, nyaman, tepat waktu, aman, akan mendukung fungsi pelayanan kota.

Sejatinya, Surabaya tadinya akan menyiapkan suatu sistim transportasi massal yang efisien. Hal itu direncanakan dengan mengembangkan sistim angkutan massal ber basis jalan raya, yang disebut dengan Bus Rapid Transit (BRT).  Pengembangan BRT di Surabaya, sudah didukung oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2006-2010). Suatu feasibility study untuk pembangunan BRT di Surabaya sudah diselesaikan. Bahkan, sebuah Memorandum of Understanding (MOU) antara Walikota Surabaya dan Departemen Perhubungan untuk pelaksanaan BRT sudah ditanda tangani.

Untuk menyiapkan rencana pelaksanaan BRT di Surabaya, pada tahun 2008 sudah dianggarkan di APBD sejumlah puluhan milyar rupiah untuk menyiapkan detailed engineering design (DED) dan pelaksanaan fisik infrastruktur pendukung. Departemen Perhubungan di Jakarta, tadinya juga sudah menganggarkan dana di tahun 2008 untuk mendukung pelaksanaan BRT Surabaya.

Akan tetapi ditengah jalan (pertengahan 2008), APBD kota Surabaya yang sudah tersedia senilai kurang lebih Rp. 92 milyar direvisi alias dicoret. Sehingga DED untuk BRT tidak jadi dilaksanakan demikian pula dana pembangunan fisik infrastruktur juga batal.  Karena direvisinya APBD kota Surabaya, anggaran Depertemen Perhubungan APBN, yang semula sudah disiapkan, sekitar Rp. 18 milyar, ikut-ikutan di revisi dan dirubah. Dengan di revisinya anggaran BRT tersebut, maka praktis pembangunan sistim transportasi massal di Surabaya menjadi terhenti.

Untuk tahun 2009, program pengembangan BRT Surabaya, tidak mendapatkan anggaran sama sekali, alias nol.  Maka di tahun 2009 pun, tidak akan ada kegiatan untuk mewujudkan sistim transportasi massal di Surabaya. Agak sulit memperkirakan bahwa tahun 2010, Surabaya akan memulai lagi persiapan BRT, karena di tahun 2009, sama sekali tidak ada kegiatan untuk mendukung rencana BRT Surabaya.

Pada tahun 2010, Surabaya akan melakukan pemilihan Walikota. Bisa diduga walikota yang baru, belum akan memasukkan transportasi massal sebagai prioritas program. Hal itu dikarenakan seorang Kepala Daerah baru akan memfokuskan pada pemenuhan janji-janji pada saat kampanye.  Agak sulit membayangkan bahwa Calon Walikota Surabaya 2010-1015 akan menjadikan transportasi massal sebagai isu kampanye.

Biasanya Calon Kepala Daerah akan memilih isu-isu populis untuk bahan kampanye yang ditawarkan kepada masyarakat, supaya ianya dipilih. Isu transportasi tidak termasuk isu populis pada tahun 2010. Isu kampanye akan berfokus pada isu  kesejahteraan rakyat, kemiskinan, pengangguran, dan mungkin kesehatan. Calon Kepala Daerah, kalau nekat mengangkat isu transportasi dalam kampanye, bisa-bisa tidak akan terpilih.

Dengan melihat kondisi diatas, maka hampir bisa dipastikan bahwa dalam 5 tahun kedepan tidak akan ada persiapan perencanaan sistim angkutan massal di Surabaya. Apa yang akan terjadi di Surabaya adalah meroketnya pemakaian sepeda motor, meningkatnya kecelakaan, tingkat kemacetan yang parah, dan peningkatan polusi udara karena emisi kendaraan bermotor. Angka kematian karena kecelakaan sepeda motor, akan semakin meningkat. Dan ini adalah kecendrungan negatif yang saat ini menghantui kota Surabaya.

Sistim transportasi Surabaya mengalami kemunduran. Set-back ini tidak tanggung-tanggung, kalau harus mulai dari awal lagi, maka sistim transportasi Surabaya mundur 20 tahun ke belakang.  Kecendrungan ini semakin terlihat manakala para pengambil keputusan tidak memberi perhatian yang cukup.

Ketika transportasi nanti menjadi masalah berat, biasanya sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki. Keterlambatan itu terpaksa dibayar mahal oleh masyarakat dan oleh kota Surabaya. Kalau tingkat kemacetan sudah seperti Jakarta, maka Surabaya akan ditinggalkan orang, tidak ada lagi insentif melakukan investasi di Surabaya. Dan bila saat itu tiba, barulah banyak orang akan terperangah.

Bagaimana memutus kecendrungan negatif tersebut, supaya kenyamanan dan keamanan transportasi di Surabaya. Nampaknya, perlu intervensi kuat untuk meningkatkan komitmen para pengambil keputusan agar transportasi massal di Surabaya bisa segera diwujudkan. Peningkatan komitmen ini, menjadi tugas yang amat sulit. Berbagai pihak yang semestinya punya kewenangan untuk segera mewujudkan transportasi massal, seperti tidak terusik dengan masalah ini.

Apakah karena tidak tau, atau karena tidak mau tau???. Quo vadis transportasi Surabaya. Kasihan Surabaya… transportasimu akan semakin semrawut.. dan amburadul…

3 thoughts on “Quo vadis sistim transportasi Surabaya ?

  1. Pak, katanya 2009 tahun pembangunan??? apakah tak dianggarkan sama sekali??? tertinggal dong dibandingkan pekan baru, semarang solo dan jogjakarta ya??? Surabaya… aduh kenapa ya???

    Like

  2. Masalah transportasi memang selalu menarik didiskusikan ya Pak.
    Kalau menurut Pak Silaban, mangkraknya semua rencana transporasi massal itu lebih ke aspek teknis ekonomis atau politis ekonomis?
    Mungkin Pak Silaban bisa menyampaikan informasi kepada masyarakat, apa yang menyebabkan anggaran untuk transportasi massal tahun 2008 dibatalkan dan tahun 2009 ditiadakan.
    Jika hendak melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, bukankah proses pengambilan keputusan itu peru dibuat transparan ya Pak?
    Terima kasih.

    Like

  3. Saya juga sangat menyayangkan kondisinya menjadi seperti sekarang. Itulah sebabnya saya tulis posting ini. Setidaknya mengungkapkan keprihatinan saya. Soal ketinggalan dengan kota lain, seperti yang sudah saya tulis diatas, Surabaya memang jadi mundur jauh untuk transportasi massal.

    *
    Saya juga mendukung transparansi.
    Maaf, saya tidak dalam posisi yang bisa menjelaskan apa penyebab dibatalkannya program BRT Surabaya.

    Saya lebih tertarik membahas bagaimana memperbaiki atau mencari solusinya. Menurut saya salah satunya adalah dengan mengajak pihak-pihak yang peduli transportasi kota untuk sumbang saran. Bagaimana memulai kembali, supaya ada program pengembangan transportasi perkotaan Surabaya.

    Saya salah satu yang tidak sependapat dengan wacana pengembangan “elevated commuter train” di Surabaya. Persoalannya, bukan karena tidak setuju. Tapi rencana itu lebih tidak realistis lagi untuk dilaksanakan. Elevated commuter train, membutuhkan biaya yang sangat besar. Dari mana uang untuk membiayai rencana itu. Siapa yang akan menanggung beban yang sangat besar itu.

    Membangun elevated commuter train sepanjang satu kilometer, mungkin biayanya sudah sama dengan membangun BRT 50 kilometer. Jadi pilih yang lebih realistis aja.

    Secara informal, saya sudah pernah menyampaikan itu kepada pengurus MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) cabang Jatim. Kita tunggu saja apakah MTI akan membuat rekomendasi konkret, dan kapan rekomendasi itu diberikan ke Pemerintah.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s