It is just another night

Tahun baru selalu ditunggu banyak orang. Banyak pihak menganggap malam pergantian tahun adalah suatu saat yang istimewa, karena itu malam itu dirayakan dengan berbagai cara. Ada yang merayakan dengan kontemplasi, tafakur sesaat mengenang kembali perjalanan kehidupan selama setahun. Lalu kemudian mencoba memperbaiki setiap “kekeliruan” yang ada, dan dari situ menatap tahun depan dengan semangat yang lebih baik. Tidak sedikit orang yang merayakan pergantian tahun dengan “kegembiraan” yang meluap-luap, acara digelar mulai dari pesta di hotel bintang lima sampai pesta jalanan. Sesungguhnya malam pergantian tahun hanyalah satu malam biasa. It is just another night.

Malam pergantian tahun seolah menjadi suatu momen penting. Padahal setiap malam semestinya adalah momen penting. Setiap saat adalah waktu yang berharga yang selain harus disyukuri tapi juga digunakan untuk menatap ke belakang dan kedepan.

Kali ini saya melewati pergantian tahun yang berbeda dari yang pernah saya jalani sebelumnya. Siang kemarin, sewaktu kembali ke kantor dari sebuah rapat, saya mendapati selembar undangan kantor untuk menghadiri acara yang diberi judul “refleksi akhir tahun”. Acara di gelar di lobby balai kota Surabaya dimulai jam 21.00. Membaca undangan itu saya sebenarnya kurang sreg, karena melewati malam pergantian tahun di kantor. Tapi karena undangan dari atasan saya, ya mau-tidak mau saya datang juga.

Sekitar jam 20.30, saya berangkat dari rumah, beberapa menit menjelang jam 21.00, saya sudah hampir sampai di halaman balaikota. Lalu lintasnya sudah cukup ramai, beberapa pengendara sepeda motor sudah bergerombol melakukan konvoi. Ketika sampai di lobby balai kota, beberapa undangan sudah hadir. Acara “refleksi akhir tahun” sangat sederhana, hanya sekedar berkumpul menunggu saat pergantian tahun, sambil diiringi permainan organ tunggal. Rencananya pada detik-detik pergantian tahun, Walikota akan menyampaikan ucapan selamat tahun baru secara langsung disiarkan oleh TV lokal Surabaya.

Di disepanjang jalan yang mengelilingi balai kota, jumlah sepeda motor semakin bertambah. Suara sepeda motor meraung-raung, digas kencang secara bersamaan. Dari kejauhan terdengar seperti suara dengungan jutaan tawon. Para pengendara sepeda motor itu tampaknya sengaja memodifikasi knalpot dengan melepas “saringan”, sehingga suara sepeda motor menjadi sangat keras.

Semakin malam, jumlah sepeda motor di sekitar balaikota semakin bertambah. Jalanan sudah penuh, para pengendara sengaja bergerak perlahan-lahan sambil kadangkala berhanti dan terus membunyikan raungan suara sepeda motornya.Sekitar sam 23, di sekitar jalan Yos Sudarso dan jalan Jakgung Suprapto, jalanan sudah penuh sepeda motor. Lalu lintas sudah tertutup, pengendara sepeda motor menutupi semua jalan. Saya merencanakan untuk pulang saja ke rumah dan ingin melewatkan pergantian tahun di rumah. Saya lihat dibagian samping halaman balai kota di Jalan Sedep Malem, masih agak longgar. Jam 23.15, saya memutuskan pulang saja melalui jalan Sedep Malam di bagian belakang balaikota.

Ketika keluar dari halaman Balaikota, saya masih bisa bergerak, tapi ketika berbelok ke jalan Jimerto, jalanan sudah penuh, tidak ada ruang untuk lewat. Dari bagian depan, ratusan sepeda motor muncul dan menutupi seluruh jalan. Para pengendara didominasi anak muda, mereka menarik habis gas sepeda motornya hingga meraung memecahkan telinga. Begitu kerasnya suara raungan motor, banyak yang terpaksa menutup telinga, tidak tahan dengan kebisingan yang luar biasa.

Sebagian anakmuda berdiri di boncengan sepeda motor mengacung-acungkan tangan dan jempol melampiakan emosi yang meluap-luap. Mereka berteriak-teriak dalam gaya Suroboyoan yang khas. Sebagian lagi melompat-lompat di jalanan, berjingkrak-jingkrak secara berkelompok. Anak-anak muda itu terhanyut dalam emosi, mereka seperti histeris.

Sebagian pengendara sepeda motor adalah keluarga, banyak pengendara yang membawa serta anak-anak, bahkan bayi digendongan sambil dibonceng sepeda motor. Begitu runyamnya lalu lintas di penggalan jalan itu. Kendaraan didominasi sepeda motor yang bergerak dari segala arah ke segala arah.Setiap ada ruang yang sempit, para pengendara memajukan kendaraan, sehingga nyaris terhenti. Pembonceng turun dari motor, mencoba untuk menyiapkan ruang bagi motornya; dan hampir semua melakukan hal yang sama.

Di dalam mobil saya hanya berdoa dan berharap, semoga tidak ada yang memulai iseng atau anarkis merusak. Seandainya ada orang iseng memecahkan kaca, atau lampu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Mesin mobil terus saya hidupkan dan lampu depan terus menyala, supaya orang tau, kalau saya juga akan bergerak. Beberapa orang mencoba menyisihkan ruang di depan, agar saya bisa maju sedikit-demi sedikit, tapi hanya bergerak dalam hitungan jengkal. Setelah berhasil maju beberapa jengkal, orang itu mengetuk jendela kaca, dan saya harus menyodorkan beberapa lembar ribuan.

Tepat detik-detik pergantian tahun dari 2008 ke 2009, saya terjebak di tengah kerumunan ribuan sepeda motor di jalan Wijaya Kusuma. Hiruk pikuk raungan suara sepeda motor memecahkan telinga, diselingi suara terompet. Bergerak dari balaikota hampir 45 menit hanya mencapai beberapa puluh meter saja. Ditengah kerumunan begitu banyaknya orang, terdengar juga suara petasan, dan dan sesekali terlihat kembang api yang meluncur ke atas. Saya sendiri di dalam mobil yang nyaris tidak bergerak. Inilah pergantian tahun baru yang benar-benar belum pernah saya alami.

Setelah beberapa menit memasuki tahun 2009, beberapa orang didepan saya mencoba menyisihkan ruang agar saya bisa maju beberapa jengkal lagi. Mereka berusaha keras untuk memberi jalan kepada saya. Setelah detik pergantian tahun berlalu, kerumunan motor juga sedikit semi sedikit mulai bergerak. Untuk mencapai ke Jalan Kusuma Bangsa yang jaraknya hanya sekitar kurang dari seratus meter dari Jalan Wijaya Kusuma, saya membutuhkan hampir setengah jam, itupun dengan bantuan beberapa orang yang menyisihkan ruang di depan saya. Lagi-lagi mereka meminta uang untuk jasa “membuka jalan”, ketika saya sodorkan lembaran lima ribuan, mereka tidak mau, dan meminta lebih. Saya terpaksa memenuhi permintaannya dengan meberikan tambahan.

Setelah hampir lebih dari satu jam, akhirnya, saya benar-benar bisa “terbebas” dari kemacetan malam pergatian tahun di seputar balaikota. Di sisa perjalanan menuju rumah, lalu lintas cukup ramai. Lega rasanya, ketika akhirnya bisa sampai di rumah dengan selamat. Padahal malam itu just another night.

SELAMAT TAHUN BARU.

2 thoughts on “It is just another night

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s