Internet tahun 93: Catatan si Bursok

Pemanfaatan internet tahun 1992-1993, di Indonesia masih sangat terbatas. Boleh dibilang mungkin baru beberapa perguruan tinggi yang mulai mengoperasikan. Saya berkesempatan menggunakan internet, karena kampus saya di Manitoba, Canada pada waktu itu sudah on-line. Beruntung juga pada waktu itu ada beberapa orang Indonesia yang mendalami hal itu di Winnipeg. Selain Budi Rahardjo, ada juga Armein Langi, dosen ITB, yang pernah satu pondokan dengan saya. Masih ada beberapa mahasiswa Indonesia yang dikirim BPPT, seperti Bona Tambun, Reza, dan beberapa orang yang saya sudah lupa namanya.

Di kampus, kami mahasiswa beasiswa dari Departemen Pekerjaan Umum, memperoleh ruangan tersendiri di Engineering Building. Ada 3 buah komputer on-line yang digunakan untuk sekitar 15 orang mahasiswa. (Jadi kalau di ruangan itu, ya kayak di kantor PU aja). Kalau dari rumah (apartemen), saya harus menggunakan line telepon dengan modem.

Dengan fasilitas seperti itulah saya mulai memanfaatkan internet. Selain untuk tugas-tugas kuliah, juga untuk diskusi di USENET. Beberapa bahan diskusi di USENET, sekarang sudah tidak bisa diakses lagi. Tapi beberapa catatan masih bisa diakses dengan Google. Salah satu catatan yang dulu ada di USENET, dan sekarang masih bisa diakses di Google Group, saya copy lagi seperti dibawah ini.

Bursok melemparkan pantatnya ke bangku kafetaria, dia mulai makan fries dan chiken finger yang dipesannya. Dia udah lapar banget soalnya dari pagi belon ada yang masuk ngeganjal perutnya. Biasanya dia bawa nasi ke kampus, karena perutnya masih lebih doyan nasi dengan lauk buatan sendiri daripada makanan yang di kafetaria ini. Tapi tadi pagi Bursok bangun kesiangan, jadi tak sempat ngidupin rice cooker apalagi bikin lauk. Jadi terpaksa dia mampir ke kafetaria.

Friesnya udah hampir setengah waktu Bursok ngeluarin buku catatan kumal yang entah udah berapa lama tak pernah ganti. Buku ini, buku saktinya Bursok. Mulai dari harga cabe merah di Pangalengan sampai ringkasan politik luar negeri Bill Clinton ada disitu.

Bursok berhenti pada lembaran alamat teman-temannya, diperhatikannya nama-nama disitu. Ada Pentul teman es-em-a yang sekarang sudah jadi dosen, ada Onah yang bodinya bikin Bursok sering nelan ludah.

“Ahh.. pada dimana mereka sekarang ya” pikir Bursok.
Matanya berhenti pada nama Tompel, sobatnya dulu di es-em-a. Tompel yang kagak pinter banget, tapi cerdik, malahan sering licik.
“Tompel…Tompel”, bisik Bursok dalam hati.

Tompel sekarang udah keren banget, kerja di perusahaan konglomerat. Gaji berjut-jut, mobilnya sedan mengkilap keluaran tahun terakhir. Dia memang hebat, ide-idenya memang jenius buat bossnya yang punya konglomerat. Tompel sering kasi proposal yang bisa kasi profit gede.

Pernah iseng-iseng Tompel kasi saran ke bossnya untuk dagang permen karet. Bossnya seneng banget, soalnya mereka bisa monopoli pabrik permen karet, sampe dagang ecerannya. Itu semua idenya Tompel. Sontak aja rekening Tompel melejit karena bonus yang dia terima, bossnya senang.

Yang kasian si Ujang, soalnya dia engga bisa lagi dagangin permen karet di lampu merah. Temen-temen Ujang udah banyak yang dirajia lantaran dagangin permen karet di lampu merah. Padahal Ujang dagang di lampu merah juga lantaran bapaknya kagak bisa beli baju seragam sekolah baru, soalnya Ujang udah mau masuk es-em-pe. Maklum bapaknya Ujang kerjanya cuman dagang asongan di kereta jabotabek.

Tompel memang jagoan, dia em-be-a jebolan negeri sebrang, perkara gimana kasi profit gede, Tompel yang ditanya. Soal si Ujang jadi engga bisa dagang lagi di lampu merah, itu bukan urusan Tompel. Kenapa Ujang engga sekolah embea juga, pikir Tompel.

Tompel sering ketemu temen-temen sekolahanya dulu di negri sebrang, sering makan baso di hayat, trus main tenis di hilton, abis itu ngedisko di stardust. Mereka muda-muda, gesit lagi, kerja di konglomerat semua. Sering kongkow-kongkow di pub, malahan banyak juga yang maen poker, tentu taruhannya bukan permen karet, tapi duit beneran, jutaan lagi. Ada malah yang ke singapur dan australi segala cuman buat maen poker dan sejenisnya. Habis mereka pada bingung sih, rekening di bank menggembung
terus enggak tau gimana ngabisinnya.

“Tompel.. Tompel”, pikir Bursok.
“Kenapa uang kalian tidak kalian sumbangkan ke yayasan sosial, supaya Ujang-Ujang tidak pada kebingungan mikirin seragam di sekolah, daripada judi-judian segala”.

“Duuk”…, Bursok tersentak dari lamunannya.
Bahunya ditepuk Shanonn, cewek bule sekelasnya. Bursok habis ngelamunin Tompel temannya itu.

***********
Kisah diatas adalah catatan saya yang di posting di tahun 1993 melalui forum diskusi internet pada waktu itu. Format internet dan blog belum seperti sekarang.

Ternyata posting yang sudah berumur lebih dari 15 tahun itu masih ada di internet. Hebatlah internet.

Sumbernya bisa diklik di Alt-culture-Indonesia.

——————–

5 thoughts on “Internet tahun 93: Catatan si Bursok

  1. Ya, itu mulainya.., tapi cuma sebagai “user” tok, sementara orang-orang seperti Budi Rahardjo, jadi “developer” internet sampai sekarang.

    Asal saja tidak diartikan, kalau sekarang saya sudah tuek…he..he…(emang sudah berumur kepala 5 kok).

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s