Dari email only ke jaringan komunitas

Perkembangan teknologi sungguh amat luar biasa. Pemakaian dan kemampuan internet sekarang, sampai pada taraf yang tak pernah dibayangkan 20 atau 25 tahun lalu. Lima belas tahun lalu, saya menggunakan internet baru sebatas email untuk komunikasi. Sekarang, kondisinya jauh berkembang.

Sekembalinya ke Jakarta pertengahan 93, saya ditugaskan untuk “mengawal” persiapan pelaksanaan sebuah proyek perkotaan di Surabaya. Dalam proses itu saya harus sering berkomunikasi dengan lembaga pembangunan seperti the World Bank, OECF (sekarang JICA) maupun lembaga-lembaga lain. Untuk berkomunikasi dengan lembaga-lembaga itu, maka internet dengan email menjadi andalan. Sejak pertengahan 93 sampai pertengahan 94, berkomuniasi dengan lembaga itulah yang sering saya kerjakan, selain mondar-mandir Jakarta-Surabaya.

Ketika itu koneksi ke internet masih sangat terbatas, kantor saya di Jakarta pada waktu itu belum on-line, jadi andalannya hanya menggunakan modem untuk sambung ke service provider. Kualiitas dan kapasitas modem belum seperti sekarang, tapi sudah cukup untuk memfasilitasi email yang keluar masuk. Komunikasi dengan lembaga-lembaga donor dapat dilakukan secara efektif.

Penugasan saya di Surabaya pada tahun 94, memaksa saya harus secara rutin untuk menggunakan email. Pada saat itu sebuah service provider menawarkan fasilitas “email only” dengan rate yang lebih ringan, ketimbang fasilitas koneksi portal. Fasilitas email only hanya bisa untuk cek mailbox, apakah ada email yang masuk, fasilitas ini tidak bisa browsing. Meski komunikasi email yang saya lakukan mayoritas untuk keperluan kantor, tapi kantor tidak memberikan fasilitas apa-apa, jadi saya harus bayar sendiri biaya koneksi internet yang saya lakukan, karena itu pula, pilihan saya adalah pada “email only”, yang lebih murah. Koneksi ke service provider masih harus menggunakan modem.

Begitulah pemanfaatan email only berlangsung beberapa tahun. Sementara itu pemakaian internet di Indonesia semakin luas, kantor-kantor mulai membangun jaringan internet. Hal yang sama terjadi di lingkungan pemerintah kota Surabaya, dimana saya bekerja. Jaringan internet semakin kuat, dan pemakainnya semakin bervariasi.

Sekarang ini berkembang jaringan situs komunitas, yang menghubungkan jutaan manusia di belahan bumi. Kawan lama yang tak pernah bertemu, mendadak bisa kontak berkat jaringan komunitas seperti facebook, friendster, my space, where are you now dan banyak lagi. Orang semakin mudah mencari teman masa lalu, dan menambah teman baru lewat internet. Banyak juga yang kuatir, jangan-jangan jaringan internet kantor lebih banyak dipakai untuk jaringan komunitas. Karena itu perlu rasanya dikendalikan, supaya orang tidak salah kaprah dalam pemanfaatan internet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s