Pengelolaan lingkungan perkotaan yang strategis

Judul posting ini sangat “ngejreng” pengelolaan lingkungan perkotaan yang strategis. Tapi itulah penafsiran saya pada suatu topik yang dipilih untuk dibahas bersama beberapa pihak di Kitakyushu bulan Februari 2009. Saya diundang untuk mengikuti “Workshop on the Worsening Urban Environmental Problems in Asia to make Intellectual Strategic Base”, pada tanggal 18 Februari di Kitakyushu, Jepang. Mudah-mudahan saya tidak keliru mengartikan judul workshop menjadi “Pengelolaan lingkungan perkotaan yang strategis“.

Workshop difasilitasi dan disponsori oleh Pemerintah Kota Kitakyushu, kota yang sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Selain itu sebuah lembaga sosial masyarakat di Kitakyushu yaitu KITA (Kitakyushu International Techno-cooperative Association) juga ikut memprakarsai wokshop tersebut.  Saya didaulat sebagai salah satu dari lima orang penanggap dalam workshop tersebut. Selain saya, penanggap dan pembicara yang lain adalah Prof.Dr. Agamuthu Pariatamby dari University of Malaya, Malaysia; kemudian ada Ms. Rosmah Mohamad Yusof, dari Ministry of Natural Resoucers and Environment, Malaysia; Prof. Orawan Siriratpiriya, dari University of Chulalongkorn, Thailand; kemudian Mr. Tran Minh Tuan, dari Haipong City, Vietnam. Pembicara dari Jepang adalah Prof. (Emeritus) Ryokichi Hirono dari Seikei University.

Topik utama yang akan dibahas dalam workshop ini adalah antara lain, trend atau kecenderungan internasional dalam penyelesaian-penyelesaian permasalahan lingkungan perkotaan.   Kota-kota di Asia dilihat mempunyai peran penting dalam perjalanan perbaikan lingkungan hidup karena kota-kota di Asia mempunyai kontribusi yang cukup signifikan terhadap perkembangan lingkungan hidup di Asia. Meski begitu, kebijakan pengelolaan lingkungan hidup di kota-kota Asia belum dapat dikatakan cukup berhasil. Pengecualian tentu untuk kota-kota di Jepang, dan Singapura.

Selain kota-kota di Jepang dan Singapura, mayoritas, kota-kota Asia mengalami persoalan yanghampir sama, yaitu tekanan pencemaran yang semakin lama semakin besar. Kota-kota di Asia memerlukan strategi intervensi yang jitu untuk menyelesaikan permasalahan perkotaan. Hal inilah mungkin yang mendasari  pelaksanaan workshop yang akan dilangsungkan di Kitakyushu pertengahan Februari nanti.

Kalau dilihat dari  daftar yang di undang, kemungkinan besar, saya menjadi peserta satu-satunya dari Indonesia. Karena itu representasi saya, setidaknya harus mencerminkan kebutuhan kota Surabaya, dan kalau bisa sekaligus mewakili kota-kota di Indonesia. Selain untuk mencari strategi jitu, pertemuan ini tentu akan kami manfaatkan untuk memperkuat networking antara Surabaya dengan lembaga-lembagainternasional dan kota-kota di Asia. Sehabis workshop, saya akan posting apa hasil-hasil yang didapat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s