Respons Terus Melonjak

Sindo, Senin 19 January 2009

SURABAYA(SINDO) – Program car free day (CFD) atau hari bebas kendaraan yang digagas Pemkot Surabaya dan Harian Seputar Indonesia (SINDO) Jatim terus menuai respons positif warga. Salah satu indikasinya, warga yang memanfaatkan momen segar dan sejuknya udara di ruas Jalan Raya Darmo terus meningkat. Jika pada pada 2008 lalu,sekitar 3.000 warga mendatangi lokasi CFD, kemarin, jumlahnya melonjak menjadi 5.000 warga.

Apresiasi yang tinggi ini semakin mengukuhkan niat pemkot untuk menambah volume CFD. “Setelah melihat respons positif dari masyarakat, Pak wali (Wali Kota Bambang DH) ingin car free day diselenggarkan setiap pekan,”kata Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Pemkot Surabaya Togar Arifin Silaban kemarin. Menurut pemilik website bertema pembangunan kota dan lingkungan http://www.togarsilaban. com ini, penambahan volume CFD sekaligus mengintensifkan kampanye gerakan kepedulian terhadap kualitas udara dan lingkungan hidup. Lewat CFD,pemkot berharap bisa mengubah pe-rilaku masyarakat menjadi lebih peduli terhadap lingkungan. Togar menegaskan, manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini sangat banyak. Namun pada sisi kesehatan, tidak bisa dirasakan secara langsung hasilnya.

Yang pasti, semakin bersih udara, semakin tinggin pula tingkat kesehatan masyarakat. Karena itu, dia meminta masyarakat memanfaatkan optimal program CFD, misalnya untuk jalan sehat atau bersepeda. Kepala Biro SINDO Jatim Sonny Djoko Sasongko menambahkan, dari empat pelaksanaan CFD, masyarakat yang ikut ambil bagian memang terus bertambah. Jika dikalkulasikan, acara ke-marin dimanfaatkan sekitar 5.000 orang.

”Kami senang respons masyarakat terhadap car free day terus bertambah,” katanya. Menurut Sony,Wali Kota Bambang DH sebenarnya menginginkan program CFD dilakukan seminggu sekali. ”SINDO sebagai media partner siap mendukung sepenuhnya. Nanti tinggal melakukan pembicaraan teknis selanjutnya untuk merealisasikan keinginan itu,” katanya. Tak dimungkiri, CFD memang menarik antusias warga untuk ikut memberikan andilnya.

Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Situbondo Sugik, misalnya, rela meluangkan waktu untuk merasakan bersihnya udara di Jalan Raya Darmo.”Sekalian pulang ke Surabaya, saya ingin melihat acara car free day,”katanya. Sugik menerangkan, dirinya penasaran dengan acara bebas polusi yang dicanangkan pemkot, dengan melihat acara tersebut nantinya akan disampaikan pada pemerintah Situbondo.”Acara cukup menarik,”tutur dia.

Alat Deteksi Kualitas Udara Rusak

Program car free day yang telah dilakukan di beberapa kota besar di dunia memang menjadi alternatif yang sangat baik untuk mengurangi pencemaran udara di Surabaya. Apalagi, selama ini,udara di Surabaya belum sepenuhnya berada pada kategori yang baik. Sayangnya, untuk mengetahui kualitas udara Surabaya saat ini cukup sulit mengingat dua dari lima alat pemantau udara rusak berat. Dua alat yang tidak bisa berfungsi adalah pemantau udara di wilayah Sukomanunggal dan Keputih. Kerusakan alat untuk memantau suhu udara ini merupakan hal yang ironis karena anggaran Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) untuk tahun 2009 naik dari Rp6,5 miliar menjadi Rp12,4 miliar. Kepala BPLH Pemkot Surabaya Togar Arifin Silaban mengakui kerusakan tersebut.

“ Untuk alat yang di Sukomanunggal rusak total, sedangkan di Keputih jalan Arif Rahman Hakim rusak berat,”katanya. Dia berjanji alat-alat tersebut akan segera diperbaiki seiring dengan kenaikan anggaran yang cukup besar. ”Untuk menghindari indikasi kecurangan yang bisa merugikan keuangan negara dalam proyek perbaikan ini, pengeluaran anggaran dari APBD akan dihitung secara detail, termasuk anggaran untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada bagian- bagian alat tersebut,” ungkapnya.

Togar menegaskan, perbaikan akan dilakukan secepatnya mengingat semakin banyak alat pemantau kualitas udara, maka hasilnya lebih baik.Namun, jika mengacu pada DKI Jakarta, lima alat sudah cukup dengan syarat semuanya berfungsi dengan baik. Togar memamparkan, selain perbaikan pada alat yang rusak,pemkot berencana memasang dua alat pemantau kualitas udara yang baru, hasil sumbangan pemerintah pusat. Sesuai rencana, alat tersebut akan ditempatkan di Surabaya barat. “Kita masih mencari lokasi yang tepat,” ujarnya.

Sementara itu,anggota komisi A DPRD Surabaya Akhmad Suyanto menyatakan, kerusakan alat pemantau kualitas udara harus segera dibenahi karena persoalan itu bersentuhan langsung dengan masyarakat.“Sekarang anggaran sudah besar,berarti harus segara diperbaiki,” katanya. (arief ardliyanto)

Sumber : Sindo Jawa Timur

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s