Global Warming dan Car Free Day

Think globally, act locally. Demikian bunyi pernyataan yang sering dijumpai diberbagai forum yang mencoba menjelaskan hubungan antara berbagai fenomena global yang perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan lokal.  Global warming menjadi hot issue yang belakangan ini sering dibahas dan didiskusikan diberbagai belahan dunia. Fenomena global warming menjadi isu yang semakin sexy, manakala semakin jelas terlihat hubungan antara global warming dengan berbagai bencana lingkungan. Global warming dan car free day, punya  jalinan benang merah, sebagai bagian dari  think globally, act locally.

Car free day (CFD), diakukan semakin sering di Surabaya. Kegiatan yang menutup ruas jalan dari kendaraan bermotor, dimaksudkan untuk mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Secara terbatas, penutupan ruas jalan dari kendaraan bermotor disuatu kawasan, dapat mengurangi tingkat polusi  udara di kawasan ruas jalan yang ditutup.

Kendaraan bermotor mengeluarkan berbagai gas, antara lain CO2 (karbon dioksida), gas hidrokarbon (HC), dan gas karbon monoksida (CO). Gas tersebut merupakan bagian dari proses pembakaran dalam mesin, ketika kendaraan bermotor dijalankan. Semakin baik proses pembakaran, maka semakin rendah emisi gas buang, sebaliknya bila pembakaran kurang sempurna, emisi gas buang menjadi lebih buruk dan mencemari lingkungan. Kendaraan bermotor masih dapat berfungsi, meski pembakaran dalam mesin berlangsung kurang sempurna. Akan tetapi dalam kondisi demikian, selain emisi gas buang yang buruk, proses pembakaran akan semakin boros bahan bakar.  Agar proses pembakaran berlangsung baik dan irit BBM, diperlukan perawatan mesin secara periodik.

Gas buang kendaraan bermotor CO2 adalah salah satu penyumbang gas rumah  kaca (GRK) yang signifikan. Selain CO2, penyebab GRK yang lain adalah gas metan (CH4), gas N2O, (nitrous oxide)  gas hydrofluorocarbon (HFCs), dan kelompok gas perfluorocarbons (PFCs). Gas rumah kaca (green house gases) adalah penyebab menipisnya  lapisan ozon di atmosfir. Lapisan ozon diatmosfir adalah pelindung bumi dari pancaran sinar matahari langsung yang dapat merusak lingkungan. Dengan semakin banyaknya gas rumah kaca di atmosfir, lama kelamaan lapisan ozon semakin menipis dan menjadi bolong. Akibatnya panas matahari yang dipantulkan bumi tidak dapat diserap oleh lapisan ozon, melainkan dipantulkan kembali ke permukaan bumi.  Proses inilah yang mengakibatkan suhu permukaan bumi semakin hari semakin panas.

Bencana Lingkungan

Akumulasi GRK di atmosfir dalam 50 tahun terakhir meningkat luar biasa.  Pada tahun 1950, konsentrasi gas CO2 di atmosfir adalah sekitar 250 ppm (part per millions), angka ini melonjak menjadi hampir 400 ppm pada tahun 2000. Padahal selama lebih dari 200 tahun sejak sekitar tahun 1750 sampai 1950, konsentrasi CO2 diatmosfir relatif stabil pada 250 ppm.  Peningkatan konsentrasi gas CO2 inilah yang menimbulkan temperatur rata-rata bumi terus meningkat.  Menurut Intergovermental  Panel on Climate Change (IPCC), selama hampir 900 tahun dari tahun 1000 sampai tahun 1900, temperatur rata-rata bumi berfluktuasi hanya sebesar antara 0,0 sampai 0,5 derajat Celcius.  Akan tetapi sejak tahun 1950an, kenaikan temperatur rata-rata bumi meningkat dengan tajam. Para ahli memperkirakan, bila tidak ada perubahan yang signifikan terhadap perlindungan lingkungan, maka sampai tahun 2100, kenaikan temperature rata-rata bumi bisa melebihi 6 derajat Celcius.

Perubahan temperatur rata-rata bumi yang dikenal dengan global warming (pemanasan global),  kemudian memicu perubahan iklim.  Bila kecendrungan pemanasan global terus berlangsung, akibatnya ada beberapa hal antara lain: bencana kekeringan di berbagai kawasan Afrika, banjir banding dan tanah longsor di Indonesia, sepertiga wilayah Bangladesh akan tenggelam, pulau-pulau kecil di Pasifik akan hilang, topan dan badai di kawasan Karibia, es di kutub mencair, dan longsor, serta banyak bencana lingkungan lainnya. Kejadian bencana lingkungan sudah terjadi sekarang, diperkirakan dalam 5 sampai 10 tahun ke depan, bencana lingkungan yang lebih besar masih akan terjadi, meski semua manusia di bumi ini sepakat melakukan perbaikan lingkungan yang revolusioner.

Bencana lingkungan akibat perubahan iklim dapat dikurangi bila laju pemanasan global dapat dihambat.  Semua orang dapat ikut menghambat laju global warming dengan melakukan upaya-upaya sederhana, tapi digerakkan secara massal. Warga kota dapat menghambat global warming dengan mengurangi emisi gas CO2.  Bentuk pengurangan emisi CO2 yang dapat dilakukan warga kota adalah dengan penghematan enerji. Cara lain adalah dengan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor bila tidak terlalu perlu. Bila jarak tempuh tidak terlalu jauh, usahakanlah untuk menghindari pemakaian kendaraan bermotor.

Car free day (CFD), digunakan sebagai gerakan untuk mengajak penghematan pemakaian BBM dan penghematan enerji. CFD dapat menurunkan emisi CO2 di kawasan pelaksanaan CFD. Tapi tujuan yang lebih utama dari CFD adalah gerakan untuk mengajak masyarakat peduli tentang lingkungan.

***** 

Tulisan ini sudah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Edisi Jawa Timur, tanggal 25 Januari 2009.

2 thoughts on “Global Warming dan Car Free Day

  1. saya mendukung sekali mengenai program car free day.
    hal itu merupakan salah satu cara untuk mengurangi banyaknya GRK (Gas Rumah Kaca) yang terjebak pada ozon kita sehingga membuat Global warming yang saat ini sedang gencar di perbincangkan.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s