Memberi marga, apa resikonya

Sebuah email baru masuk di inbox saya, memberikan tanggapan tentang resiko yang mungkin timbul kalau kita memberi marga kepada seseorang. Contohnya ketika kami di Surabaya, mangain (mengangkat) seseorang menjadi marga Silaban beberapa waktu lalu. Ketika itu seorang kelahiran Filippina bernama Moises Castro diberi marga Silaban pada 30 Nopember 2008. Posting ini sekaligus menjawab tanggapan dan pertanyaan dari sdr. KS Turnip.

Saya tidak berpikiran macam-macam ketika proses pemberian marga itu dilakukan, apalagi membayangkan resiko negatif yang mungkin timbul. Pada waktu itu saya positive thinking aja, bahwa itu keinginan mereka untuk melaksanakan prosesi adat Batak. Esther Sianturi menikah dengan Moises Castro dan sudah punya 3 anak. Esther adalah anak perempuan satu-satunya dari Bp. Sianturi. Saya bisa memahami, kalau pak Sianturi ingin merasa “tugasnya lengkap” sebagai orang tua manakala anak perempuannya “diadati“. Kebetulan Pak Sianturi punya bere kandung di Surabaya bermarga Silaban yang bisa mengemban tugas sebagai “pangamai” (wali) bagi menantunya Moises Castro.

Jadi sebenarnya sederhana saja, bukan karena Moises Castro “membeli” marga. Saya tidak tau seberapa dalam Moises Castro mengetahui keinginan Pak Sianturi “melengkapi tugas“, sehingga ia mau dinobatkan menjadi marga Silaban. Kami marga Silaban di Surabaya, sebenarnya secara finansial rugi dalam acara peresmian pemberian marga kepada Moises Castro, karena kami juga mempunyai pengeluaran, meski tidak banyak. Jadi Silaban tidak dibeli, tidak ada hitungan finansial disana.

Untuk kasus Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin, saya tidak tau banyak tentang hal itu. Informasi yang saya dapat, ketika Syamsul Arifin masih muda, (konon waktu itu kondisinya susah secara sosial ekonomi), ia diangkat menjadi anak oleh seorang bermarga Silaban, dan diberi marga Silaban (di daerah Langkat atau Pangkalan Brandan ?). Sebagai anak yang diangkat dia dibimbing dan dibantu. Saya tidak tau kapan tahun persisnya (saya coba cari tau nanti) Syamsul Arifin diberi marga Silaban,

Entah karena diangkat jadi marga Silaban, atau karena memang keuletan dan kerja keras Syamsul Arifin muda, secara bertahap kehidupannya bertambah baik. (hanya Pak Syamsul dan Tuhan yang tau ini). Orang kemudian tau, ia menjadi Bupati, dan sekarang menjadi Gubernur Sumatera Utara melalui Pilkada langsung.

Sewaktu kampanye pemilihan Gubernur, Pak Syamsul Arifin mengunjungi desa Silaban di Humbang Hasundutan. Pada waktu itu ia berjanji, kalau terpilih menjadi gubernur, akan membantu kemajuan daerah Silaban (sebagai kawasan). Beberapa tokoh marga Silaban di Humbang, merestui dan mendukung Syamsul Arifin untuk Pilgub Sumut. Setelah menjadi Gubernur, saya dengar Pak Syamsul Arifin berjanji akan membantu membangun kawasan Silaban di Humbang. Menurut yang saya baca di beberapa media, Gubernur Syamsul Arifin beberapa kali menegaskan kalau dia bermarga Silaban.

Moises Castro dan Gubernur Syamsul Arifin berbeda latar belakang menjadi marga Silaban. Kalaupun kemudian hari ada kasus atau masalah yang negatif yang dilakukan oleh Moises Castro atau Syamsul Arifin, saya kira persoalannya harus dilihat dan dinilai secara obyektif dan bijaksana. Harus bisa dipilah secara proporsional.

Pada kondisi ekstrimya, katakanlah suatu saat Gubernur Syamsul Arifin terlibat kasus memalukan (ini sekedar contoh), saya kira harus dipisahkan apakah itu adalah tanggung jawabnya pribadi, atau tanggung jawab marga Silaban. Jangankan Syamsul Arifin, ketika seorang yang asli kelahiran dan marga Silaban, dan ternyata adalah merampok (misalnya), kasus merampok itu adalah tanggung jawab pribadi, bukan tanggung jawab marga (Punguan) Silaban secara kolektif.

Kecuali misalnya Gubernur Syamsul Arifin secara kolektif mengajak Punguan Silaban untuk melakukan suatu tindakan tidak terpuji. Barulah itu menjadi masalah bagi marga Silaban. Tapi saya kira, hal itu tidak terjadi. Meskipun Pak Syamsul Arifin seorang Gubernur, dongan tubu saya Silaban, yang ada di Medan atau di Bona Pasogit tidak akan menjadi buta dan tidak bisa menilai yang baik dan yang buruk.

7 thoughts on “Memberi marga, apa resikonya

  1. Saya setuju dengan pendapat amang (blum tau partuturan yg sebenarnya), memberi marga bagi seseorang atau mangain harus selalu dipandang dr pikiran positif. Mengenai nantinya ada perbuatannya yg salah, itu tanggung jawab sendiri n di luar kumunitas marganya…

    Like

  2. Kalo mama laki ma wanita sama boru silaban,,,bisa nikah ga?
    tolong dijelaskan,,,,terimakasih,,,,salam anton nababan

    Like

  3. Horas bapauda. Saya mau nanyak ni. Kalau sejarah marga silaban dengan boru simbolon itu gimana? Mohon pendapatnya y bapauda?

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s