Membangun disiplin anak

Andrew, anak berusia kurang lebih 4 tahun, marah, menendang kursi, dan barang-barang lain didekatnya, ia menjerit-jerit dan mencoba merusak apapun yang bisa ia raih. Ia marah, dan berteriak-teriak ketika permintaannya tidak dipenuhi. Andrew, selalu menggangu dan merusak mainan adiknya, dan sering memukuli adiknya. Di kelompok bermain (play group), Andrew sering bikin masalah, karena ingin menang sendiri ketika bermain dengan temannya. Ia merampas mainan yang sedang dipakai temannya. Pokoknya Andrew, tak bisa dikendalikan.

Andrea, ibu Andrew, sudah berusaha mengajari dan membujuk agar Andrew merubah perilakunya. Andrea sudah mencoba dengan membujuk, tapi tidak berhasil. Begitu juga suami Andrea, juga tak mampu mengendalikan anaknya. Kedua pasangan suami istri itu sudah melakukan berbagai cara, mulai dari yang lembut sampai cara yang keras, termasuk memberi hukuman. Andrew dihukum untuk duduk dipojok dekat lemari, selama waktu tertentu. Tapi setiap diberi hukuman, Andrew, juga meronta-ronta dan melanggar hukumannya. Kedua suami isteri itu hampir putus asa, bagaimana caranya mendidik anaknya supaya lebih sopan dan lebih baik.

Ditengah kebingungan itu, akhirnya Andrea dan suaminya meminta pertolongan “Super Nanny” untuk membantu mereka mengatasi perilaku Andrew. Nanny datang mengunjungi rumah Andrea, memperhatikan dan mencatat apa yang terjadi dari pagi hingga malam di rumah Andrew. Selama mencatat dan memperhatikan itu, Nanny tidak memberikan pendapat apapun.

Setelah cukup memperhatikan dan mencatat, keesokan harinya Nanny membuat rencana kerja bagi seisi rumah, Andrew dan adiknya, Andrea dan suaminya. Nanny menyusun jadwal bagi penghuni rumah mulai dari saat bangun pagi hingga malam. Nanny membantu keluarga itu untuk melakukan hal-hal sehari-hari, sampai ke hal yang kecil. Nanny bahkan melatih bagaimana seorang ibu harus merubah intonasi suaranya ketika berbicara kepada anaknya. Di lain kesempatan, Nanny, melatih si ibu untuk berbicara “eye to eye”, dimana si ibu harus jongkok agar “sama tinggi” dengan si anak.

Sebuah program televisi yang isinya membantu suatu keluarga mengatasi perilaku anggota keluarga yang kurang baik (parenting assistance). Program “Super Nanny”, menggambarkan suatu keluarga (biasanya keluarga muda) yang kewalahan dengan perilaku anaknya yang kurang baik, dan cenderung merusak. Dalam kenyataanya, dari bantuan yang diberikan Nanny, akar persoalannya justru karena kekeliruan atau ketidak tauan orang tua dalam mendidik anak. Anak menjadi bandel atau menjadi nakal, dan tidak disiplin, karena orang tua kurang perhatian atau salah memperlakukan dan mendidik anaknya.

**
Kenapa disiplin kita sedemikian rendah. Kenapa kita tidak bisa menghargai disiplin. Ada banyak pertanyaan senada yang bisa diajukan, dan ada banyak jawaban untuk berkelit. Asal muasalnya, lebih banyak karena kita tidak terlatih untuk disiplin ketika masih anak-anak. Kita tidak melatih anak kita untuk disiplin. Disiplin dalam keluarga tidak menjadi kehidupan massal.

Hampir setiap saat di setiap tempat, kita bisa melihat orang yang kurang disiplin. Di jalan, dengan mudah orang menyalip kendaraan orang lain atau bahkan melanggar rambu lalu lintas. Yang paling sederhana adalah, orang tidak mau antri, ditempat yang seharusnya antri supaya terlayani dengan baik. Kita sering melihat, orang berebut ketika menerima daging kurban, atau ketika menerima BLT.

Apakah kita memerlukan “Super Nanny Komunal” untuk membantu meningkatkan disiplin.

3 thoughts on “Membangun disiplin anak

  1. IMO, karena pada dasarnya perilaku anak mengikuti orangtuanya..
    dan kebanyakan orangtua mendidik anak seperti cara orangtuanya mendidik dia saat masih kecil..
    mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga yang cenderung turun menurun..

    Like

  2. Salam perkenalan.
    Saya kebetulan pernah juga menonton ‘super nanny’ itu. Menurut saya, kegiatan seperti itu sangat baik dan membantu pertumbuhan anak dalam keluarga yang hasil akhirnya akan memperbaiki masyarakat dan bangsa.
    Saya sampai berangan-angan, seandainya ada badan atau lembaga yang melakukan hal seperti itu di Indonesia. Lebih hebat lagi kalau itu dapat dilakukan sesuai dengan kultur budaya masing-masing suku bangsa di Indonesia.
    Ada yang mau mulai?

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s