Bergerak bersama membangun sanitasi perkotaan

Rencananya pada pertengahan April 2009, Bappenas akan “melaunching” sebuah buku tentang sanitasi. Tentu saja maksudnya bukan sekedar launching dan bukan pula sekedar bikin buku. Harapannya tentu adalah untuk meningkatkan komitmen bersama untuk “membenahi” sanitasi secara menyeluruh. Dari segi format, buku itu termasuk bagus, kertas lux,  setebal 51 halaman. Pak Nug (Nugroho Tri Utomo) dan kawan-kawan tentulah sudah bekerja keras menyiapkan buku ini.

Mencermati buku itu, yang terdiri dari 7 bab, pesan yang disampaikan cukup jelas. Isinya adalah bagaimana menyusun sebuah strategi sanitasi suatu kota. Tentu bukan cuma karena buku ini  produk sebuah lembaga perencanaan, tapi memang “pedoman praktis” untuk menyusun strategi sanitasi kota, rasanya belum ada di Indonesia. Karena itu kehadiran buku ini pantaslah diacungi jempol. Walau begitu, Bappenas sendiri mewanti-wanti, bahwa buku ini belum bisa digunakan otomatis sebagai buku manual pembangunan sanitasi.

Dari bab-1 sampai bab 7, buku yang berjudul Bergerak Bersama dengan Strategi Sanitasi Kota, menjelaskan semua tahapan yang perlu dilakukan untuk menyiapkan suatu strategi sanitasi perkotaan.  Bab 1 terdiri dari pengertian-pengertian  tentang sanitasi secara menyeluruh. Bab ini juga menjelaskan tahapan umum dalam penyusunan strategi sanitasi.

Bab-2 adalah identifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan strategi sanitasi dan juga dalam pelaksanaan program sanitasi. Untuk menyusun strategi sanitasi, diperlukan kelompok kerja ad-hoc, yang bertugas menghimpun informasi dan merumuskan bagaimana menyiapkan tahap selanjutnya.

Bab-3 adalah proses menghimpun informasi sekaligus memetakan kondisi sanitasi suatu kota. Penjelasan rinci tentang bagaimana memetakan kondisi sanitasi kota dijelakan dalam bab ini. Dengan melaksanakan tahapan dalam bab-3 ini, maka potret kota dibidang sanitasi akan diperoleh. Gambaran tersebut akan menjelaskan sejauhmana kota tersebut sudah memiliki atau tidak memiliki fasilitas sanitasi.

Bab-4 mengupas bagaimana menyusun suatu visi dan misi program sanitasi suatu kota. Visi sanitasi perlu dirumuskan, kemudian visi itu dijabarkan menjadi misi. Selanjutnya dari misi, diuraikan tujuan dan strategi-strategi yang akan ditempuh untuk mencapai misi dan visi.

Bab-5 berisi proses penentuan sasaran-sasaran spesifik dalam bidang sanitasi. Dari serangkaian proses dalam tahapan mapping, maka bisa ditentukan langkah-langkah untuk merencanakan program pembangunan sanitasi. Pendekatan apa yang perlu dilakukan untuk mendapatkan masukan yang maksimal dalam merencanakan komponen sanitasi yang akan dibangun. Bila tahapan dalam bab ini selesai dilakukan, maka sebenarnya sudah dapat diketahui apa program sanitasi untuk kota yang direncanakan.

Bab-6 adalah identifikasi terhadap “komponen pendukung” dari strategi sanitasi yaitu kelembagaan, aspek legal, pendanaan, dan keterlibatan stakeholder dalam perencanaan dan pelaksanaan program sanitasi. Sistim monitoring dan evaluasi terhadap keseluruhan proses perencanaan dan pembangunan sanitasi, juga disorot dalam bab ini.

Bab-7  adalah catatan tentang proses setelah tersusunnya strategi sanitasi kota. Bila suatu kota sudah menyusun strategi sanitasi kota dan disetujui, perlu diperhatikan ulang, apakah keseluruhan proses sudah terdokumentasi dengan baik. Pendokumentasian ini dinilai penting untuk mendapatkan informasi secara lengkap tentang strategi sanitasi itu sendiri.

Secara keseluruhan buku ini telah mengupas apa-apa yang harus dilakukan apabila suatu kota akan menyusun strategi pembangunan sanitasi kota. Secara teoritis, buku ini menjelaskan berbagai proses, tahapan, informasi yang dibutuhkan, pihak-pihak yang harus terlibat dan bagaimana mensinergikan semua unsur dalam penyusunan program sanitasi. Buku ini adalah buku perencanaan, yang khusus menyoroti bidang sanitasi. Dengan mencermati buku ini, para manajer kota dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk merencanakan dan membangun sanitasi di kota.

Sayangnya, buku ini terlalu teoritis, hanya berisi prinsip-prinsip saja. Tidak ditemukan contoh kasus dalam pelaksanaan proses  penyusunan strategi. Selain itu, yang paling penting dalam proses pembangunan sanitasi kota justru terlewat dalam buku ini. Proses yang terlewatkan itu adalah BAGAIMANA CARANYA AGAR SANITASI MENJADI PROGRAM PRIORITAS PEMBANGUNAN DI SUATU KOTA.  Bagaimana meyakinkan kepala daerah, Walikota dan Bupati, agar mau menjadikan program sanitasi mendapatkan prioritas penting dalam pembangunan kota.

Nampaknya perjalanan panjang untuk memprioritaskan sanitasi, masih memerlukan tambahan proses yang lebih lanjut.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s