Manajemen atau keroyokan

Sebagian pekerja menarik beban ke arah utara, sebagian pekerja lainnya menarik ke arah selatan. Untuk sesaat beban yang akan diangkut bergerak tidak karuan. Tapi proses tarik menarik itu hanya berlangsung sebentar, tak lama kemudian semua pekerja secara bersama-sama membawa beban ke arah yang sama.

Waktu masih anak-anak, saya sering mengamati rombongan semut yang bekerja membawa beban berupa bahan makanan ke sarangnya. Semut-semut itu bekerja seolah tak ada komando, tapi mereka dapat bekerja sama dengan baik membawa beban yang beratnya jauh melebihi ukuran badan semut. Mereka bekerja terkesan seperti keroyokan. Kadang-kadang terlihat ada sebagian anggota semut yang tak peduli pada teman-temannya yang sedang memanggul beban berat, yang lain tak ada yang kelihatan protes terhadap temannya yang tak mau membantu. Saya menduga ada juga manajemen kerja para semut.

Pengalaman saya mengamati semut, teringat ketika saya mengamati para pekerja di airport Hongkong dalam perjalanan ke Fukuoka, Februari lalu. Para pekerja bandara itu seolah bekerja tanpa komando, mereka menyelesaikan tugas masing-masing secara berurutan. Saya sempat memperhatikan sejumlah pekerja yang sedang mempersiapkan keberangkatan sebuah pesawat.

Sewaktu petugas boarding memproses penumpang masuk ke pesawat, sejumlah petugas di area parkir pesawat juga sibuk. Beberapa orang memasukkan barang dengan peralatan conveyor ke “perut” pesawat. Sementara itu ada juga petugas yang memeriksa kondisi pesawat secara umum. Setelah semua barang dan cargo masuk, sipetugas menyelesaikan dengan menutup pintu pesawat. Semua berjalan mengikuti proses yang sudah standar. Persiapan pemberangkatan pesawat, tentulah sudah berdasarkan SOP (standard operation procedure) yang sudah ditetapkan.

Saya jadi terpikir antara manajemen semut dengan SOP di bandara. Yang mana yang lebih efektif diantara keduanya. Jangan-jangan ilmu manajemen modern sebenarnya “mencuri” ilmu manajemen semut.

8 thoughts on “Manajemen atau keroyokan

  1. Menurut saya intinya adalah komunikasi. Saling pengertian, bertepa salira, saling menghargai dan lain-lain yang sejenis dengan itu. Karena sering juga dalam kegiatan sehari-hari baik dirumah maupun dalam bisnis ; disadari atau tanpa disadari, kita menjadi capek tanpa hasil. Misalnya salah satu dari kita menanam, yang lain justru mencabuti..

    Like

  2. Ya, mencuri dan memodifikasinya. Cuma menejemen manusia “lebih hidup” dengan adanya ambisi, persaingan dan intrik-intrik negatif yang bisa merusak.

    Like

  3. Salam kenal, lae ama ni Daniel!
    Di Alkitab juga ada contoh tentang semut. Dan pak Domo waktu masih Menaker juga menjadikan makhluk ini sebagai logo untuk produktivitas tenaga kerja dengan nama si Proni. Itulah ilustrasinya …

    Selain kompak, komunitas semut juga adalah kumpulan orang-orang, eh …, hewan yang sangat peduli satu sama lain. Coba ingat ulang, bukankah setiap semut kalau berpapasan dengan yang lain akan menyapa? Sebenarnya mereka mau salaman, namun tidak punya tangan seperti manusia, malah jadi berciuman ….

    Horas jala gabe!
    http://www.tanobato.wordpress.com

    Like

  4. adalah hal yang bijaksana kalo manusia ‘belajar’ dari alam dan mahluk hidup lain, termasuk semut.
    adalah hal yang akan membawa bencana kalo manusia ‘mencuri’ dari alam dan mahluk hidup lain, termasuk semut.

    Like

  5. Semut selalu bersalaman bila bertemu, tampaknya mereka berbicara atau berkoordinasi satu sama lain lalu melanjutkan perjalanan sambil membawa beban.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s