Diskriminasi terhadap yang taat aturan

Di wilayah perkotaan (setidaknya di Surabaya), banyak jalan-jalan di daerah perumahan yang dilengkapi dengan “polisi tidur” . Polisi tidur yang dimaksud bukan Pak Polisi atau Ibu Polwan yang sedang tidur, tapi peralatan tambahan pada jalan berupa gundukan untuk mengurangi kecepatan kendaraan. Dalam bahasa teknisnya, “polisi tidur” disebut “speed trap“.  Tujuan pemasangan alat itu sesungguhnya baik, untuk melindungi masyarakat dari pemakai jalan yang tidak peduli dengan masyarakat sekitar.  Akan tetapi yang sering terjadi, ukuran, bentuk dan jumlah speed trap di jalan di daerah permukiman, terkesan dipaksakan pemasangannya. Sehingga saya menyebutnya, “diskriminasi terhadap pemakai jalan yang taat aturan”.

Kekuatiran yang berlebihan atau ketidak tauan, akhirnya masyarakat di perumahan “mengambil jalan pintas” dengan membuat speed trap, sering tidak memenuhi aturan dan berlebihan. Masyarakat memasang gundukan yang terlalu tinggi dan jarak satu sama lain terlalu dekat. Sehingga pemakai jalan sering seperti jalan diperbukitan. Kendaraan yang lewat terpaksa harus “endut-endutan“, karena banyaknya speed trap.

Kecepatan kendaraan di daerah perumahan, seharusnya memang cukup lambat, dimana diharapkan tidak akan terjadi kecelakaan lalu lintas. Akan tetapi, memang sering ada orang yang “ngebut” di kawasan perumahan, yang bisa membahayakan. Warga perumahan tidak ingin ada korban dari ulah orang yang ngebut. Solusi praktisnya adalah membuat “ketentuan setempat” dengan membuat speed trap yang melebihi ketentuan.

Bagi pengguna jalan yang “taat aturan”, bentuk dan jumlah speed trap menjadi suatu siksaan. Kondisi itu menjadi suatu “diskriminasi terhadap orang yang taat aturan”. Kondisi ini menjadi kontroversi, mereka yang taat aturan dipaksa mengikuti “ketentuan  setempat” karena ulah sebagian orang yang melanggar “aturan” lalu lintas di kawasan perumahan.

Antara aturan yang sesungguhnya dan ketentuan setempat menjadi saling bertolak belakang. Pengguna jalan sebagai obyek, ada yang jadi korban, ada yang jadi “pengganggu”. Lha, trus gimana menyelesaikannya supaya fair kepada semua pihak.

3 thoughts on “Diskriminasi terhadap yang taat aturan

  1. Sukar sulit, ya, pak Silaban.
    Sebenarnya hukuman yang berat sangat ampuh menghasilkan efek jera. Berkendara dengan kecepatan melampaui batas jika dihukum dengan ditarik sim selama setahun plus denda uang, tentu orang akan takut berkendara melampaui aturan. Tetapi…………

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s