Kalau Presiden SBY keceplosan ngomong

Apa jadinya kalau seorang kepala negara “terpeleset lidah” ketika sedang berbicara di depan publik. Sebagai kepala negara, setiap omongan Presiden akan diperhatikan oleh publik dan banyak pihak. Sebagai manusia, setiap orang bisa keliru, termasuk SBY. Tapi sebagai presiden, kekeliruan yang kecilpun bisa berakibat fatal. Salah omong yang tak disengajapun, tak boleh dilakukan oleh seorang Presiden. Sebab bila omongan presiden keliru atau meski hanya “terpeleset“, maka omongan itu bisa “dimanfaatkan” secara tidak wajar oleh pihak tertentu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemarin “keceplosan ngomong” dan langsung “disambar” untuk digunakan untuk kepentingan sempit.

Dalam kunjungan kerja ke Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu Presiden SBY mengalami gangguan pencernaan, sehingga beberapa acara yang sedianya dihadiri Presiden terpaksa dibatalkan. Berita sakitnya SBY menjadi headline masmedia cetak maupun elektronik. Kabar gangguan pencernaan Presiden itu benar-benar menjadi “gangguan” bagi SBY dan Partai Demokrat, yang akan bertarung pada Pemilu nanti. Karena itu untuk mereduksi “gangguan” kabar itu, setibanya di Jakarta Presiden SBY memberikan penjelasan kepada media perihal penyakit gangguan pencernaan itu. Dalam penjelasan itulah, SBY sempat keceplosan menyebut merk obat tertentu.

Dalam siaran berita “Kabar Petang” stasiun televisi TV One hari Senin 16 maret 2009, pernyataan SBY digabungkan dengan iklan obat, sehingga terkesan seperti “satu kesatuan” iklan. Anchor siaran berita TV One memberikan pengantar bahwa sebelum acara dilanjutkan, akan disiarkan berita tentang pernyataan Presiden SBY tentang penyakit gangguan pencernaan yang dialaminya di Makasar. Detik berikutnya, muncullah gambar SBY yang sedang berbicara dan, Presiden SBY kurang lebih mengatakan:

    Ketika masih muda, saya pernah mengalami sakit mag. Tapi sakit mag itu tidak terlalu saya hiraukan. Waktu dalam penerbangan menuju Makasar, penyakit mag saya agak kambuh. Lalu dokter (SBY menyebut nama dokter kepresidenan yang mendampinginya) memberi saya obat mag. Menjelang mendarat di Makasar, sakit mag saya idak juga sembuh. lalu saya katakan kepada dokter bahwa saya biasanya cocok dengan ****”.

Begitu SBY selesai menyebut merk obat tersebut, TV One langsung melanjutkan dengan iklan dari obat yang baru saja disebutkan oleh SBY.

Keceplosan menyebut merk obat tertentu itu, benar-benar tidak disia-siakan oleh produsen obat tersebut menjadi iklan gratis. Kalau digabung antara berita dan iklan, seolah-olah SBY mengiklankan obat tersebut. Sebenarnya Presiden SBY tidak salah menyebut merk obat tertentu, tapi agaknya SBY kurang mengantisipasi kalau omongannya bisa menjadi iklan gratis bagi produsen obat.

Apakah SBY yang keceplosan, atau produsen itu yang sangat jeli memanfatkan momen berita. Sudah barang tentu penyiaran berita yang langsung diikuti iklan, sudah dirancang oleh produsen obat bersama stasiun TV One.

Saya jadi teringat isi buku “Harus Bisa“, buku tentang kepemimpinan SBY yang ditulis oleh Dino Patti Djalal. Dalam buku itu SBY mengatakan bahwa seorang pemimpin tidak boleh asal bicara. Setiap omongan pemimpin harus terukur dengan pas dan tidak multi interpretasi.

Lha, kejadian di berita distasiun TV One itu menjadi “gangguan informasi” bagi SBY.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s