Para pedagang kecap “perubahan”, bergentayangan

Orang Indonesia latah meniru Obama, atau sekedar jualan kecap. Saat ini para elit Indonesia ramai-ramai “jualan” dagangan yang namanya “perubahan“. Rakyat dijejali dengan berbagai resep dengan bahan baku “perubahan”. Orang-orang yang selama ini jelas-jelas pelaksana “status-quo” juga ikut jualan “perubahan“. Semua kebelet kekuasaan, inign menarik simpati rakyat menjelang Pemilu.

Seperti biasanya, tidak ada kecap nomor dua, semua nomor satu. Para pedagang kecap “perubahan” berlomba-lomba menjajakan dagangannya. Semua mengklaim kecap ‘perubahan” punya dia lah yang nomor satu. Padahal setidaknya ada 44 kelompok pedagang yang sedang mengadu untung. Selain mempromosikan dagangannya sebagai yang paling “top-margotop”, sebagian besar menjanjikan bonus dan “hadiah langsung” tanpa diundi. Bahkan banyak yang mengajak selebritis untuk jadi pedagang “perubahan”.

Masyarakat “pembeli”, sebenarnya sudah tau bahwa sebagian besar pedagang “perubahan” itu hanya omong doang. Yang benar-benar “maknyus” cuma segelintir, atau bahkan nyaris tak ada. Tapi namanya “pedagang”, ya terus saja berkoar-koar agar dagangannya laku terjual. Maklum sebagian juga berperan sebagai “tengkulak perubahan“, sekedar ikut meramaikan situasi yang sedang marak. Soal yang beli nanti puas atau kecewa, itu urusan nomor sekian. Kelincahan menjual dagangan dipadu dengan “hadiah langsung”, maka tak sedikit rakyat yang tergiur.

Sebagian masyarakat, berpikiran jeli, “Kita ambil saja semua hadiah & bonus nya, soal nanti jadi beli atau tidak, itu urusan belakangan”. Ada juga yang beranggapan, “anjing mengonggong, kafilah lalu”. Kelompok yang kedua ini tidak peduli seberapa besar dan seberapa kuat para pedagang itu berkoar-koar. Tetapi masih banyak masyarakat yang terjebak pada “dagangan” perubahan yang cuma kecap nomor satu alias omong doang.

Masyarakat perlu mencermati dengan teliti para pedagang perubahan tersebut jangan sampai sistim dagangan, yang sebenarnya tadinya adalah “ad-hoc”, alias “pedagang kagetan”, kemudian menjadi “melembaga”. Padahal sistim kagetan itu terjadi hanya sekedar “memanfaatkan situasi”.

Para “pedagang perubahan”, ini TIDAK AKAN PERNAH benar-benar akan melaksanakan PERUBAHAN yang sesungguhnya.

One thought on “Para pedagang kecap “perubahan”, bergentayangan

  1. Memang mereka memperkenalkan komposisi baru dari kecap mereka: kedelai dan gandum bermutu dari wawasan yang luas dan naluri politik yang jernih dan tajam; air, gula, dan garam dari visi mereka yang besar dan terarah; bahan pengawet yang membuat mereka tahan bantingan untuk mengatasi krisis. Semua dibuat dalam formula yang baru.

    Tetapi karena partai politik yang merekrut mereka adalah partai yang tidak mau berjuang dengan segala resiko untuk mengemban ampera, melainkan menghimpun kekuasaan yang memungkinkan mereka sibuk untuk memerkaya diri sendiri.

    Mereka terbius didalam kekuasaan itu.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s