“Saya kira ayam cuma kepala dan ceker…”

“Dulu, waktu saya masih anak-anak, saya kira ayam cuma terdiri dari kepala dan ceker. Karena kalau di rumah ibu memasak lauk ayam, saya cuma kebagian kepala, atau ceker”.
Begitu omongan Pakde Karwo, Gubernur Jawa Timur ketika kami diterima di rumah dinas gubernur. Siang itu kami diajak menikmati makan setelah selesai konsultasi dengan Pakde Karwo. Sambil menyantap siang, Pakde bercerita tentang beberapa hal, soal banjir di Lamongan, dan kebiasaan masyarakat pada jaman dahulu. Ketika itulah beliau bercerita tentang ceker dan kepala ayam.

Pada Sabtu 14 Maret 2009, saya bersama pengurus MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia), menemui Gubernur Jatim untuk melaporkan persiapan pelaksanaan EAST Conference di Surabaya. DR.Bambang Susantono, Ketua MTI Pusat mempimpin delegasi MTI, ada juga pengurus MTI Jatim. Setelah selesai melakukan pembicaraan dan konsultasi dengan Pakde Karwo, beliau mengundang kami untuk makan siang. Hidangan yang disajikan selain soto ayam, ada rujak cingur, dan rawon.

Ditengah menikmati makan siang itu, obrolan ringan berlangsung cukup gayeng, tapi juga agak serius. Ketika cerita menanggapi banjir yang terjadi di Jatim, khususnya di Tuban dan Lamongan, muncul pembicaraan untuk menyiapkan fasilitas penyimpanan barang yang diletakkan pada bagian langit-langit rumah. Jadi kalau banjir datang, maka barang-barang relatif lebih aman, ketimbang kalau disimpan di lemari yang terletak di lantai. Sesungguhnya fasilitas seperti itu, sudah dikenal masyarakat pada jaman dulu. Fasilitas jaman dulu juga termasuk untuk menyimpan makanan.

Dari pembicaraan fasilitas penyimpanan barang jaman dulu itu, akhirnya sampai juga pada kebiasaan keluarga dimasa lalu. Jaman dulu, karena kondisi yang memang masih sulit, biasanya makan enak dengan lauk ayam dalam keluarga adalah serasa “pesta”. Karena hal itu tidak terjadi setiap hari. Saya masih ingat ketika masa anak-anak dulu, kalau di rumah kebetulan sedang potong ayam untuk lauk, ketika makan bersama, maka bapak saya yang dapat kesempatan pertama untuk memilih bagian mana yang paling dia sukai. Anak-anak mendapat giliran setelah ibu.

Rupanya hal seperti itu terjadi tidak cuma di keluarga saya, juga di keluarga Pakde Karwo, itu sebabnya Pakde Karwo mengatakan kalau dulu, pengetahuannya tentang ayam, ya terdiri dari cuma kepala dan ceker. Sebab dada dan paha sudah menjadi bagian orang tua, anak, cuma kebagian ceker dan kepala. Prioritas makan enak adalah pada orang tua. Saya ingat dulu sering diingatkan : “Jangan makan ikan banyak-banyak, nanti kulitnya bisa bersisik”. Padahal maksudnya supaya berhemat, sebab pada masa itu ikan memang sedikit.

Kondisi sekarang sudah berbalik, kalau ada makanan enak di rumah, maka bagian yang paling enak adalah untuk anak. Orang tua, mendapat nomor dua. Saya dan istri mesti mendulukan memberi yang paling baik untuk anak. Tujuannya, ya supaya anak sehat dan bergizi. Jadi kalau dianalogikan sekarang, mungkin pengetahuan anak saya tentang ayam, ya terdiri dari dada dan paha.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s