Memanjakan mata dengan “deritainment”

Deritainment, istilah yang saya ambil dari “entertaiment penderitaan“, yaitu suatu jenis pemuasan keinginan dan atau nafsu dengan “menikmati” dan menonton penderitaan orang lain. Ketika ada sekelompok orang yang menjadi korban penderitaan, ada sekelompok orang lainnya yang justru “menghibur diri” dengan menonton penderitaan korban. Mereka sama sekali tidak membantu mengurangi penderitaan korban. Kelompok “penonton” itu hanya ingin memuaskan keingintauannya sendiri, memuaskan nafsunya semata. Hormon adrenalinnya seolah dipacu menyaksikan bagaimana korban berusaha mengatasi penderitaan.

Kelompok “penonton” menjadikan penderitaan korban sebagai hiburan (entertainment). Mereka terhibur menyaksikan bagaimana korban berjuang mempertahankan hidup, mereka terpuaskan dengan melihat langsung kejadian bencana atau kecelakaan yang menimbulkan jatuhnya korban.Tapi penonton ini sama sekali tidak bermaksud untuk membantu korban. Mungkin mereka merasa terharu dengan penderitaan korban, tapi tidak berbuat apa-apa kecuali menonton dan sebatas merasa prihatin semata.

Gejala “deritainment” seolah terus terjadi di negeri ini. Ketika hampir seratus orang tewas dan ratusan lainnya luka dalam bencana Situ Gintung di Tangerang, ribuan orang justru datang ke lokasi bencana untuk menonton penderitaan korban. Para “turis bencana” itu dihinggapi penyakit “deritainment“, yang merasa tidak cukup hanya melihat melalui televisi. Mereka merasa lebih “afdol” dengan menyaksikan langsung dilapangan korban yang sedang menderita.

Kehadiran para penggembira “deritainment” di lokasi bencana selain tidak membantu korban, tetapi justru mengganggu proses pertolongan yang dilakukan oleh para relawan SAR. Jalan raya Ciputat mulai dari Lebak Bulus macet karena ulah penggembira “deritainment“, mereka memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Kehadiran para maniak “deritainment” itu benar-benar sudah keterlaluan.

Fenomena maniak “deritainment“, sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Tetapi “penyakit” aneh ini semakin mengganas ketika terjadi bencana tsunami di Aceh Nanggoe Darusalam Desember 2004 lalu. Para maniak “deritainment” bahkan banyak yang datang khusus dari Jakarta hanya sekedar untuk “melihat-lihat”. Kehadiran maniak “deritainment” alias turis bencana di Aceh paska tsunami, sudah banyak dikeluhkan oleh para relawan dan juga oleh para korban. Kehadiran mereka hanya sekedar membuat dokumentasi pribadi dan bikin foto untuk diri sendiri.

Para maniak “deritainment“, juga sangat mengganggu upaya pemulihan ketika terjadi bencana gempa di Yogyakarta dan sekitarnya. Banyak korban gempa bahkan sampai marah melihat para turis bencana yang hanya sekedar “mejeng” bikin foto di lokasi bencana. Kehadiran pengidap penyakit “deritainment” di Yogyakarta telah menambah luka para korban.

Ketika terjadi bencana lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, lagi-lagi para pengidap “deritainment” datang ramai-ramai ke lokasi di Porong. Pengidap penyakit “deritainment” tidak mau tau dengan penderitaan korban Lapindo. Mereka hanya sekedar memuaskan nafsu keingintauan yang keliru, dengan datang menyaksikan penderitaan para korban.

Penyakit “deritainment“, terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Entah apa yang menyebabkan begitu besarnya keingintauan orang akan kejadian bencana, tapi tidak dibarengi dengan rasa empati, dan rasa solidaritas. Pengidap “deritainment” bukannya membantu, tapi hanya menambah penderitaan para korban.

Ada yang tidak beres dengan masyarakat kita.

2 thoughts on “Memanjakan mata dengan “deritainment”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s