Pelestarian air dengan warung jamu

“Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sungai dan sumber daya air?. Sebab ketika terjadi bencana banjir, semua lempar tanggung jawab, dan banyak instansi mengatakan bahwa pihak nya tidak dapat berbuat banyak, dan pihak lainlah yang lebih berkompeten.” Demikian pertanyaan seorang mahasiswa kepada Menteri PU, Djoko Kirmanto, dalam “Diskusi Nasional Penanggulangan Banjir Bengawan Solo”, di ITS, Senin 30 Maret 2009.

Menteri PU menilai bahwa pertanyaan mahasiswa itu sangat mendasar dan filosofis. Karena itu beliau memberikan jawaban yang lebih panjang kepada penanya mahasiswa itu daripada penanya yang lain.

Pertanyaan yang hampir sama diajukan juga oleh Karni Ilyas dalam suatu dialog “live” di TV One, Senin malam 6 April 2009. Perbedaan antara si mahasiswa dan Karni Ilyas adalah, bahwa karni Ilyas, kentara ingin “memojokkan” Pak Djoko Kirmanto dalam dialog yang live. Saya melihat air muka Pak Djoko sebenarnya kurang senang dengan cara-cara Karni Ilyas.

Ketika menjawab mahasiswa ITS di Surabaya, Djoko Kirmanto menjelaskan bahwa pengelolaan air itu didasari dengan prinsip”WARUNG JAMU”.  Kata “warung jamu” adalah singkatan dari 4 kata tentang pengelolaan dan pelestarian air.

WA, adalah waktu.  Seringkali kedatangan air tidak sesuai dengan waktu yang kita butuhkan. Di waktu musim kemarau, petani mengharapkan datangnya air dalam bentuk hujan. Tapi air malah tidak datang. Sementara di waktu musim hujan, masyarakat mengharapkan hujan yang sedikit supaya tidak banjir. Kehadiran air sering tidak sesuai waktu yang diinginkan.

RUNG adalah Ruang. Air sering kali hadir di ruang yang tidak diinginkan. Karena kekeliruan pengelolaan, air yang seharusnya di sungai dan laut, tapi malah hadir di permukiman dalam jumlah besar.

JA adalah pengertian dari jumlah, yang sangat erat kaitannya dengan waktu. Ketika musim hujan, kita menghendaki jumlah air yang tidak terlalu banyak untuk menghindari banjir. Tapi ternyata air datang dalam jumlah yang sangat besar. Dan ketika musim kering, kita mengharapkan jumlah yang besar, malahan sedikitpun air tidak datang.

MU adalah singkatan dari mutu. Untuk kebutuhan air minum, dibutuhkan mutu yang baik. Air yang didistribusikan kepada pelanggan pdam, hendaknya sesuai standar mutu yang sudah ditetapkan. Untuk itu, air baku juga harus memenuhi standar air yang  baik. Di bidang pertanian, khususnya perikanan mutu air diharapkan dapat mendukung usaha-usaha pertanian dan budidaya perikanan dan peternakan. Namun seringkali mutu air yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Pengelolaan air adalah suatu kebutuhan yang mendesak di Indonesia. Djoko Kirmanto, menegaskan pengelolaan yang baik dalam warung jamu akan menjadikan air sebagai “sahabat” yang tepat waktu, tepat mutu, tepat ruang dan tepat jumlah.  Bagaimana menjadikan itu semua, adalah tanggung jawab semua pihak. Pada diskusi di IT, Djoko Kirmanto, mengatakan, kalau 15 tahun dari sekarang, masalah air, masih menjadi masalah yang tak terselesaikan, maka mahasiswa (yang sekarang) yang akan menyelesaikan kemudian.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s