Secangkir “coffee lattee” SB, menghabiskan 250 liter air

Bagi anda penikmat kopi, perlu sekali sekali berhitung secara cermat tentang proses menyiapkan secangkir kopi. Kalau kebetulan anda nongkrong di “Starbuck” coffee shop dan menyeruput kopi , ketahuilah bahwa untuk menyiapkan secangkir coffee lattee membutuhkan setara dengan 250 liter air. Tidak percaya ??, hitungannya berdasarkan “ecological footprint”.

“Ecological Footprint” (EF) adalah suatu metoda untuk menelusuri dan menghitung pemanfaatan enerji dari suatu proses dan atau kegiatan berdasarkan jejak awal proses dan kegiatan itu. Dalam terminologi Indonesia   “ecological footprint” disebut “jejak ekologis”. Dengan EF maka dapat ditentukan besaran enerji atau bahan yang terpakai untuk sampai pada suatu kondisi tertentu.

Dalam contoh coffee lattee diatas, dibuat dari satu setengah sendok teh kopi Kolombia. Perhitungan “ecological footprint” nya dimulai dari proses pemetikan biji kopi di kebun kopi di Kolombia. Setelah kopi dipetik, kemudian kopi di seleksi dan kupas di lokasi perkebunan. Kopi yang telah dikupas keringkan sampai kekeringan tertentu sebelum dikemas untuk dibawa ke USA di pusat “Starbuck” (SB) sebagai bahan setengah jadi. Di pabrik SB, bahan setengah jadi diseleksi kembali dan kemudian dikeringkan. Setelah itu kopi siap digiling dengan proses SB. Kopi giling SB kemudian dikemas dengan baik didistribusikan ke semua outlet SB diseluruh dunia. Setibanya di Jakarta, kopi SB dibawa ke cofee shop yang full AC (air conditioned) untuk dihidangkan kepada konsumen.

Sejak proses pemetikan biji kopi, maka dihitung enerji yang terpakai untuk satu setengah sendok teh bubuk kopi.  Dihitung juga enerji yang terpakai dalam proses seleksi, transportasi, pengeringan, pengemasan, penggilingan, pengemasan kembali, sampai pada proses penyeduhan di coffee shop. Dengan suatu formula dan metode yang dikembangkan, maka enerji yang terpakai untuk memproses secangkir coffee lattee, bisa dihitung. Dari perhitungan ecological footprint tersebut, ternyata untuk menyiapkan secangkir kopi hangat tersebut enerji yang terpakai setara dengan nilai 250 liter air.

Kalau SB menggunakan kopi Toraja dari Sulawesi, biasanya bahan setengah jadi dari Toraja dibawa ke pusat SB di Amerika, kemudian setelah di proses dibawa kembali . Jadi meski kopi Toraja asal Indonesia, proses “perjalanan” secangkir kopi itu hampir sama dengan kopi yang berasal dari Kolombia.

Kalau anda menyeruput kopi tubruk di warung “Mpok Minah”  di pinggir jalan di Bekasi, kopi yang disajikan biasanya berasal dari perkebunan setempat. Katakanlah kopi berasal dari daerah Wonosobo, Jawa Tengah, maka “ecological footprint” kopi “Mpok Minah”, dimulai dari perkebunan di Wonosobo. Setelah dipetik, kemudian dikupas dan dikeringkan di Wonosobo. Kopi yang sudah kering itu di dalam karung dibawa ke Semarang untuk digiling dan dibungkus. Dari Semarang, kopi dibawa ke Bekasi dan akhirnya diseduh di warung “Mpok Minah” yang full AC (angin cendela).

Kalau dihitung secara “ecological footprint“, proses pembuatan kopi tubruk “Mpok Minah” mungkin hanya menghabiskan enerji setara 25 liter air atau kurang.   Soal rasa kopi tubruk “Mpok Minah” dan kopi SB, adalah hal yang sangat subyektif dan tergantung selera.  Yang pasti kopi SB jauh lebih boros dan tidak ramah lingkungan.

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah, bahwa penggunaan bahan lokal jauh lebih peduli lingkungan dan menyelamatkan bumi. Barang-barang impor menghabiskan enerji yang sangat besar. Hindarilah penggunaan produk impor, selain secara ekonomi lebih menguntungkan ekonomi lokal, secara lingkungan, produk lokal lebih ramah lingkungan.

3 thoughts on “Secangkir “coffee lattee” SB, menghabiskan 250 liter air

  1. Salam kenal,
    saya tertarik dengan ecological footprint. Namun ketika saya googling eco-footprint di Indonesia, ternyata info-nya sangat sedikit. Apakah indikator ini sudah dikembangkan di Indonesia? Apakah Bpk mengetahui paper2 terkait mengenai eco-footprint di Indonesia? Mohon infonya.. ^^
    Terimakasih..

    Like

  2. @Tiwi: Analisis tentang ekologikal footprint di Indonesia memang masih terbatas. Belum banyak yang menyusunnya, meski itu sangat penting.
    ….. Itu bisa juga berarti kesempatan bagus bagi anda untuk menjadi yang pertama atau yang terbaik……

    Like

  3. Terimakasih atas reply-nya ^^
    Tp sy msh bingung bgmn implementasi eco-footprint ini nantinya di Indonesia.. Sy tertarik utk menjadikan topik ini sbg tesis, tp msh bingung hrs mulai dari mana krn minimnya paper ttg hal ini di Indo..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s