Indeks Kualitas Udara (IKU)

Beberapa kota di Indonesia termasuk Surabaya, dilengkapi dengan peralatan monitoring kualitas udara ambien, yaitu udara bebas di permukaan bumi di suatu kawasan atau wilayah. Sistim yang dikenal dengan Indeks Kualitas Udara (IKU), mengukur 5 (lima) parameter kadar kualitas udara yaitu Ozon, Partikulat (PM), Karbon Monoksida, Nitrogen Oksida dan Sufur dioksida. Konsentrasi masing-masing parameter diukur dan kemudian di analisa untuk mendapatkan hasil Indeks Kualitas Udara secara keseluruhan.

Sistem IKU, pada waktu yang lalu dikenal dengan sebutan ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara), secara umum digunakan secara luas di berbagai kota-kota di Amerika, Asia dan Eropa. Sistim ini dilengkapi dengan peralatan pengukuran parameter kualitas udara,  yang ditempatkan dibeberapa titik lokasi pengukuran. Peralatan ini sering disebut sebagai stasiun monitoring. Di stasiun monitoring ada sejumlah peralatan untuk mengukur 5 parameter kualitas udara.

Stasiun monitoring mengukur parameter-parameter tersebut secara terus menerus selama 24 jam, 7 hari seminggu. Karena itu pencatanan pengukuran dilakukan dengan alat otomatis yang bekerja dengan bantuan tenaga listrik. Sejumlah peralatan teknis seperti filter, alat hisap, pompa hisap, dan reagen melengkapi stasiun monitoring. Penempatan stasiun monitoring dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak terganggu oleh kondisi setempat.

Data mentah dari stasiun monitoring ditransfer ke peralatan analisa untuk diolah dipusat analisa dan digabung dengan data dari stasiun monitoring lainnya. Suatu kota biasanya mempunyai beberapa stasiun monitoring udara ambien. Kota Surabaya memiliki 5 unit stasiun monitoring yang ditempatkan di lima lokasi. Pemilihan lokasi dilakukan agar dapat mewakili kawasan sekitarnya. Misalnya suatu stasiun ditempatkan dikawasan pusat kota yang ramai dengan lalu lintas. Sementara stasiun lainnya ditempatkan di kawasan perumahan dan permukiman.

Pengiriman data dari stasiun monitoring ke pusat analisa dilakukan secara digital melalui jaringan telepon. Sehingga baik peralatan di stasiun monitoring dan peralatan pusat analisa dilengkapi dengan modem yang sudah menjadi paket dari peralatan tersebut. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer yang sudah diprogram sedemikian rupa, sehingga petugas operator tidak perlu lagi melakukan analisa sendiri.

Sayangnya program komputer analisa indeks kualitas udara yang digunakan di kota-kota di Indonesia saat ini, dikemas sedemikian rupa sehingga pengelola sistem monitoring kualitas udara tidak bisa mendapatkan data asli dari hasil pengukuran. Hasil analisa data adalah berupa angka katagori secara umum yang akan ditampilkan pada peralatan display. Dengan demikian, data-data detail hasil pengukuran tidak dapat dikembangkan lebih lanjut.

Hasil analisa data kualitas udara terdiri dari 0 – 500, dimana hasil tersebut dibagi atas 5 level atau kategori. Semakin tinggi IPU, berarti kualitas udara semakin buruk.

Level I adalah dengan nilai 0-50;  kategori baik. Pada level ini kualitas udara dapat dikatakan tidak tercemar oleh ke lima parameter yang sudah disebutkan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pada tingkatan ini tidak ada resiko akibat kualitas udara ambien.

Level II adalah dengan nilai  51-100; yaitu level dengan kategori sedang. Secara umum tingkatan ini adalah tingkatan yang masih dapat ditolerir untuk manusia secara umum. Meski pada level sedang sudah ada beberapa parameter kualitas udara yang mencapai nilai sensitif bagi kondisi tertentu.

Level III adalah dengan nilai 101-199; kategori tidak sehat. Bagi orang yang mempunyai gangguan pernafasan, kondisi kualitas pada level ini akan dapat membawa konsekuensi serius. Karena itu, orang-orang yang rentan terhadap penyakit ISPA harus segera melakukan upaya-upaya perawatan diri.

Level III adalah dengan nilai 201 – 300; kategori sangat tidak sehat.  Pada tingkatan ini, diharapkan sudah ada langkah-langkah untuk melindungi masyarakat dari bahayapencemaran udara. Bagi manusia dengan kondisi yang kurang baik dan anak-anak, disarankan untuk tidak banyak keluar rumah agar tidak terpapar langsung dengan udara yang buruk.

Level IV adalah dengan nilai 301 – 500; kategori berbahaya. Kondisi ini membahayakan kesehatan manusia. Harus dilakukan langkah-langkah penanggulangan baik perlindungan bagi manusia maupun menghentikan sumber pencemar.

Dengan data-data dari hasil monitoring IPU, dapat diketahui, langkah-langkah yang harus diambil untuk melindungi masyarakat dari akibat kualitas udara yang buruk. Sistem IPU adalah bagian dari “warning system” tentang kondisi udara pada suatu kota atau daerah.

7 thoughts on “Indeks Kualitas Udara (IKU)

  1. terima kasih banyak buat infonya pak..
    baru tahu klo skarang istilah ISPU sudah dignti menjadi IKU…

    Like

  2. Secara resmi istilah ISPU belum diganti menjadi IKU. Di dalam Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1999, terminologi yang digunakan adalah ISPU.

    Saya sengaja memperkenalkan terminologi IKU, karena menurut saya, IKU lebih berkonotasi positif dari pada ISPU. Pengertian “kualitas udara” lebih positif ketimbang istilah “pencemaran udara”.

    Dengan begitu, kita diajak lebih mempromosikan upaya-upaya memperbaiki kualitas udara, tidak saja hanya menanggulangi pencemaran udara.
    Tidak perlu menunggu udara sampai tercemar, baru ada upaya penanggulangan. Kita harus terus meningkatkan kualitas udara, meski belum tercemar.

    Like

  3. terima kasih infonya. saya mahasiswa ilmu dan teknologi lingkungan. banyak sekali pertanyaan di kepala saya. tapi sejauh ini menurut anda apakah sistem ini efektif untuk dijadikan patokan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menjaga masyarakat dari akibat kualitas udara yang buruk.

    Like

  4. @Izzati Winda: Tidak ada sistem yang kalau berdiri sendiri efektif untuk mengatasi suatu masalah termasuk kualitas udara buruk. IKU hanya satu sub sistem dari suatu sistem yang lebih besar.
    Ibaratnya IKU saya analogikan kepada manusia, seperti hasil laboratorium yang memeriksa kadar kolesterol darah kita.
    Hasil laboratorium itu sendiri tak bisa berbuat banyak, tapi itu bisa sangat berguna untuk menetapkan langkah selanjutnya.

    Semakin banyak pertanyaan di kepala anda, berarti semakin banyak jawaban yang akan bisa ditemukan…..

    Like

  5. mau nanya nih pak “mendapatkan data asli dari hasil pengukuran” tuh maksudnya apa? data dari analisernya….atau data yg belum di konversi ke ISPU (IKU)?…. setau saya data tsb bisa kok diliat/diprint……untuk analisa lebih lanjut……

    Like

  6. kebetulan saya lagi tugas akhir mengenai udara ni pak..saya mau nanya2 :
    1. Metode apakah yang dipakai dalam ispu ini untuk memantau pencemar udara
    2. Apakah faktor emisi mempengaruhi dari nilai ispu itu
    3. bagaimana perhitungan dari stasiun pemantau sehingga nantinya dapat terlihat di layar LCD.
    Mohon dijawab ya pak..matur nuwun

    Like

    • @Eben:
      1. Mmmm,…. nama metodanya ?. Wah apa ya namanya, yang jelas cara kerjanya adalah, di stasiun monitoring ada sejumlah peralatan dilengkapi dengan “sensor” untuk “menangkap” parameter seperti SOx misalnya. Sensor itu menghitung konsentrasi SOx, lalu kemudian hasil perhitungan dikirim ke pusat analisa. Di pusat analisa ini data diolah sehingga didapatkan skor. Skor yang didapat “langsung untuk 1 hari (24) jam. Seperti disebutkan, semua data diprogram secara otomatis oleh komputer, sehingga operator tidak bisa mendapatkan angka real time konsentrasi SOx pada suatu titik, pada waktu tertentu (misalnya dari jam 09.00-10.00).
      Program komputer di”protect” sedemikian rupa sehingga tidak dapat dirubah.

      2. Jelas emisi mempengaruhi nilai ISPU. Emisi berasal dari kegiatan “stationary source” dan “non-stationary source”.

      3. Seperti disebutkan, perhitungan dan analisa semua dilakukan oleh “software komputer”. Jadi operator tinggal mendapatkan hasil yang berupa skor untuk 1 hari. Hasil akhir itu yang muncul di monitor.

      Semoga menjawab.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s