Jamila, si pelacur, menggugat

Saya sudah lupa kapan terakhir menonton film di gedung bioskop, mungkin sudah lebih dari 7 tahunan. Maka ketika istri saya menawarkan ingin nonton “Jamila dan Sang Presiden“, tanpa pikir panjang saya langsung setuju. Minggu siang, saya dan istri berangkat menuju gedung bioskop yang berada di salah satu pusat perbelanjaan terdekat dari rumah.

Film diawali dengan kejadian terbunuhnya “Menteri Nurdin”, seorang menteri dalam kabinet di pemerintahan. Terbunuhnya pejabat tinggi negara, sontak menjadi berita yang menggemparkan. Pembunuh, yang tak lain adalah Jamila, wanita cantik berprofesi seagai pelacur kelas atas, menyerahkan diri dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Dari sinilah cerita mengalir tentang kehidupan Jamila. Berasal dari keluarga miskin di kampung, Jamila kecil merantau ke Jakarta untuk “memperbaiki” nasib. Alih-alih dilindungi oleh keluarganya, Jamila malahan jadi korban pelecehan seksual dari keluarga “terhormat” yang masih terhitung saudara dari Jamila sendiri. Tidak tahan dinista oleh sepupu dan omnya, Jamila membunuh dua laki-laki ayah dan bapak itu. Inilah awal pemberontakan dan pembangkangan Jamila terhadap ketidak adilan.

Cerita film ini mengalir “bolak-balik”, antara “flash back” dan waktu yang sebenarnya. Sampai pertengahan cerita, masih sulit mengikuti alur cerita yang demikian. Apalagi “flash back” yang ditampilkan tidak sekaligus melainkan menurut “ingatan” Jamila sewaktu ia di penjara.

Tema yang diangkat sutradara Ratna Sarumpaet melalui “Jamila dan Sang Presiden” adalah tema yang sangat bagus dan “up to date”. Human (woman) traficking, diangkat sebagai latar belakang cerita. Pada realita yang sebenarnya human traficking membawa derita yang sangat memilukan bagi korban-korbannya. Gadis-gadis muda Indonesia dijual ke Malaysia dan tempat-tempat lain melalui Kalimantan. Korban human traficking sudah sangat banyak dan meninggalkan trauma psikologis yang amat berat bagi korban.

Jamila (dewasa), yang diperankan dengan cukup baik oleh Atiqah Hasiholan, adalah potret dari kehidupan rakyat negeri ini. Jamila menggugat semua orang, mengapa ia harus menjalani nestapa yang demikian. Ia menggugat kemiskinan, yang menyebabkan keluarganya terjebak dalam human traficking. Jamila menggugat negara yang tak mampu melindungi warga yang terjepit dan terjebak. Jamila menggugat masyarakat yang tak peduli pada penderitaan sesama. Human traficking merendahkan peradaban manusia.

Sayangnya film ini memiliki beberapa kelemahan yang cukup menonjol. Editing yang kurang sempurna menjadikan film ini seperti tempelan gambar yang berjalan. Kesatuan cerita menjadi tidak utuh karena cerita yang terkadang terlalu memaksakan. Kehadiran Surya (Surya Saputra), seolah hanya sekedar tempelan cerita. Demikian pula tokoh Ibrahim, yang menjadi “pahlawan” pembela Jamila. Tak jelas apa hubungan antara Jamila dengan Ibrahim. Begitupula kehadiran LSM yang demonstrasi menuntut hukuman mati Jamila.

Padahal kalau mau mengekspose kondisi “human traficking” di Kalimantan, itu menjadi luapan emosi yang sangat dalam. Bagaimana ganasnya manusia memperlakukan manusia lainnya. Bila ini bisa diangkat dengan baik, dengan gambar-gambar yang bagus, niscaya film ini menjadi sangat mengagumkan.

Sisi baiknya, film ini juga membongkar kemunafikan manusia. Tokoh pimpinan demonstran yang seolah pejuang kebenaran, tak lebih hanyalah seorang munafik yang menerima bayaran dari “kontrak” demonstrasi.

Artis senior dilibatkan dalam film ini, sebenarnya kalau digarap cukup baik, Christine Hakim, Ria Irawan, Jajang C Noor akan mampu menjadikan film ini lebih baik lagi. Sayang nampaknya itu semua belum digarap secara maksimal.

Tapi namanya juga film, tak ada yang sempurna. Jadi nikmatilah.

One thought on “Jamila, si pelacur, menggugat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s