Antasari juga manusia, punya rasa, punya hati

Berita yang paling banyak di ekspose dalam 2 minggu terakhir tentulah cerita seputar Rani, Antasari, dan pembunuhan Nasrudin. Kasus ini menyita perhatian publik, mulai dari pembicaraan di warung rokok pinggir jalan sampai coffe shop hotel bintang lima, bahkan disela-sela pertemuan para elit partai. Berbagai versi dikemukakan oleh media, maupun dalam obrolan ngalor ngidul. Ada yang berteori tentang konspirasi besar, sebagian melihat sebagai pembunuhan berlatar belakang pemerasan dan cinta segitiga. Tapi bisa juga dilihat secara sederhana, bahwa Antasari juga manusia.

Orang-orang pintar membuat analisa tentang penangkapan Antasari. Alasan yang dikemukakan antara lain, bahwa selama menjadi Ketua KPK, Antasari (bersama KPK), berhasil mengungkap berbagai kasus korupsi. Sehingga banyak pihak yang merasa “terjepit” dan tidak senang dengan Antasari. Dengan alasan itu, seolah-olah ada pihak yang ingin menghancurkan bahkan “melenyapkan” Antasari. Analisis ini tidak sepenuhnya salah.

Adapula yang menilai bahwa Antasari adalah orang yang tidak mungkin menjadi dalang pembunuhan hanya karena alasan cinta segitiga. Mereka beranggapan adalah terlalu naif, bila sampai membunuh hanya karena perempuan. Kelompok ini beranggapan bahwa seorang pejabat tinggi negara seperti Ketua KPK tidak mungkin menjadi otak pembunuhan berencana. Apalagi Antasari adalah orang yang sangat mengerti hukum, karena ia adalah mantan jaksa senior. Antasari tau betul bahwa hukuman bagi otak pembunuhan berencana bisa diganjar hukuman mati. Pandangan ini tidak dapat dikatakan salah.

Logika sederhana

Kalau dilihat dari hal yang sederhana, Antasari bukanlah seorang malaikat, ia juga manusia biasa yang punya kelemahan. Pada suatu saat yang tidak tepat, Antasari bisa berada pada tempat yang salah, dan bisa melakukan hal yang salah. Pada saat yang tidak tepat itu, bisa saja ia berjumpa Rani, dan bisa saja secara laki-laki Antasari “kepincut” pada Rani. Pandangan seperti ini tak bisa disalahkan.

Antasari boleh jadi tak pernah merencanakan akan berjumpa Rani. Dan kalaupun akhirnya pada “saat yang salah“, ia kemudian “terpeleset” dan kesengsem pada Rani. Sebagai seorang laki-laki, sebenarnya itu toh masih suatu hal yang tidak terlalu aneh. “Terpeleset” pertama itu yang paling sulit, untuk kali kedua, dan seterusnya “terpeleset” menjadi jauh lebih mudah. Bisa saja karena kadung “terpeleset” agak jauh, seseorang mudah menjadi jadi panik. Dalam kondisi panik, seseorang bisa melakukan hal yang salah, mengambil tindakan yang salah.

Raja Sulaiman, “terpeleset” kepincut pada Ratu Sheba. Presiden Bill Clinton tergoda dan affair dengan Monica Lewinsky. Itulah manusia, itulah kelemahan laki-laki.

Kalau kondisi “terpeleset” yang terjadi pada Antasari, apakah hal itu sesuatu yang tidak mungkin?. Antasari juga manusia. Kalaupun saat ini Antasari membantah merencanakan pembunuhan Nasrudin, dan membantah ada “affair” dengan Rani, tentulah juga bukan hal yang tidak mungkin.

Adalah tugas polisi untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Waktu akan memberikan jawaban yang paling jujur.

One thought on “Antasari juga manusia, punya rasa, punya hati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s