Hantu yang bernama “akseptabilitas”.

Beberapa hari sebelum deklarasi pencapresan, SBY “memberitahu” calon mitra koalisinya, bahwa Cawapres yang akan mendampinginya adalah Boediono, Gubernur Bank Indonesia. Langsung saja timbul reaksi keras dari para petinggi partai calon mitra koalisi. Alasan yang dikemukakan bermacam-macam. Tapi salah seorang petinggi partai P** sampai bilang : “Cawapres kok diambil dari kolong jembatan”. Elit partai itu menilai bahwa Boediono tidak punya “akseptabilitas” di masyarakat Indonesia sebagai cawapres.

Saya sedang tidak ingin membahas soal koalisi partai dalam Pilpres yang akan datang. Saya jadi ingin mencermati terminologi “akseptabilitas” yang dikemukakan diatas. Kata ini sering digunakan manakala ada seseorang yang dipromosikan pada suatu posisi. Suatu waktu si Anu dipromosikan menduduki posisi tertentu, maka (kadang dan sering) ada yang menyudutkan promosi itu dengan mengatakan kalau si Anu tidak punya cukup akseptabilitas di posisi itu. Argumentasi dan suara akseptabilitas itu menjadi semakin besar bila posisi yang ingin ditempati adalah posisi pada jabatan publik.

Biasanya alasan akseptabilitas dikemukakan untuk menolak promosi seseorang. Ada pihak yang tidak menginginkan si Anu di promosi, maka dihembuskanlah isu akseptabilitas. Padahal yang sesungguhnya adalah karena ada orang lain (katakanlah si Polan) yang menginginkan posisi yang akan ditempati si Anu. Suara-suara yang menghembuskan akseptabilitas akan semakin besar, manakala si Anu berasal dari kelompok minoritas.

Argumentasi akseptabilitas tidak lagi memperdulikan kapabilitas. Meski si Anu mempunyai kapabilitas berlipat kali dibandingkan si Polan, tapi dengan alasan akseptabilitas, kapabilitas dianggap tidak ada arti. Akseptabilitas memang tidak ada sangkut pautnya dengan kapabilitas. Boleh dikata akseptabilitas sudah merupakan “ilmu pokoke”. Untuk menjegal laju si Anu, alasan akseptabilitas dikemukakan. Padahal yang sesungguhnya ingin disampaikan adalah “pokoknya bukan si Anu”.

Pemahaman dan pengertian akseptabilitas sebenarnya sangat subyektif. Nilai akseptabilitas dianggap rendah manakala si Anu dianggap tidak mewakili kelompok terbesar. Tak ada rumus yang pasti apa yang dianggap pembuktian seseorang “akseptabel”, dan diterima. Sebaliknya, sulit untuk menjelaskan tolok ukur seseorang dianggap “tidak akseptabel”. Jadi dua-duanya sebenarnya mempunyai kesulitan yang sama untuk membuktikan seseorang “akseptabel” atau seseorang “tidak akseptabel”. Faktor “akseptabilitas” menjadi ibarat hantu, sulit dibuktikan, tapi sering digunakan oleh kelompok tertentu untuk merusak sistem yang benar.

Dalam dunia kerja, terutama birokrasi pemerintahan, ada beberapa kriteria agar seseorang dapat dipromosikan pada suatu jabatan tertentu. Secara normatif, kriteria promosi untuk seseorang adalah kemampuan, kredibilitas, dan tanggung jawab. Bakan secara normatif, ada sistem “merit” yang menjadi patokan dalam promosi birokrasi. Dalam bahasa manajemennya yaitu faktor profesionalisme. Aturan yang sebenarnya sangat baik.

Tapi di negeri ini, aturan normatif hanyalah digunakan sebagai jawaban diplomatis, manakala ada pihak yang mempertanyakan kenapa seseorang di promosi, dan kenapa seseorang tidak dipromosi. Dalam realitas yang sebenarnya, faktor suka dan tidak suka, adalah faktor yang dominan. Kalau si Polan dekat dengan “decision maker”, maka nilai ‘akseptabilitas’ nya tinggi.

Negeri yang mau maju, seharusnya tidak lagi menggunakan “akseptabilitas” sebagai faktor untuk promosi suatu posisi. Seharusnya, faktor profesionalisme adalah kriteria yang jadi penentu.
Hayo maju, maju……

3 thoughts on “Hantu yang bernama “akseptabilitas”.

  1. harus kita sadari kita tinggal di indonesia dan bukan negara antah berantah, sehingga ketika sistem birokrasi pemerintahan masih seperti itu (klo itu dianggap suatu sistem), mau tidak mau suka tidak suka …. harus diterima sebagai fakta dan bagian dari hidup kita.
    yg hanya bisa dilakukan adalah tetap bekerja dan berusaha semakin hari lebih baik, namun bila berhadapan dengan suatu kata promosi maka itu adalah hanya masalah beruntung atau tidak…..
    apapun yang diperoleh, patut untuk disyukuri sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.
    tetap semangat belajar, bekerja, bermimpi dan berdoa agar mimpi menjadi nyata…..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s