Kalau dokter terlalu cepat menyimpulkan diagnosa, pasien bisa jadi korban

Prita Mulyasari mendekam di penjara gara-gara menuliskan pengalamannya melalui email ke teman-temannya. Pengalaman yang tak bisa dia lupakan mendapati pelayanan rumah sakit Omni Internasional di Tangerang. Tak pernah terbayangkan bahwa ia harus dijebloskan dalam penjara hanya karena mengirimkan email ke rekan-rekannya.

Menurut media, Prita, ibu dua anak, memeriksakan dirinya ke RS Omni Internasional karena temperatur tubuhnya meningkat. Oleh dokter RS Omni, Prita disuruh memeriksa darah, agar dokter dapat mendiagnosa penyakitnya. Tak lama Prita diberi tahu, kalau trombositnya cuma 27.000, dan diinstruksikan harus segera opname. Tentu saja Prita tak kuasa berbuat apa, karena trombosit 27.000 memang terlalu rendah. Setelah opname, esoknya darah diperiksa lagi, dan kali ini hasilnya konon “direvisi”, bahwa trombosit ternyata 180.000. Dengan nilai trombosit 180.000, sebenarnya tak perlu rawat inap.

Dari sinilah awal kasus Prita dimulai. Prita menilai, hasil laboratorium tidak akurat, dan tak ada pihak yang mau bertanggung jawab. Dalam proses selanjutnya, manajemen RS Omni Internasional dinilai tidak transparan dan tidak profesional menangggapi keluhan pasien. Cerita Prita, sampai menarik perhatian ketiga Capres.

**
Peristiwa yang dialami Prita di rumah sakit, hampir mirip dengan pengalaman saya bertahun-tahun lalu. Bedanya, saya tidak menuliskan pengalaman itu dan saya tidak mengirimkannya kepada siapapun, cuma beberapa kali menceritakannya kepada teman-teman dan keluarga.

Ketika itu anak saya Daniel yang masih berumur kurang dari 2 tahun mengalami sakit diare. Karena saya tidak mau terjadi apa-apa, saya membawa anak saya ke rumah sakit P******** di kawasan Mayestik, Jakarta Selatan. Saya memilih rumah sakit itu, karena banyak orang mengatakan kalau RS itu punya reputasi.

Anak saya memang langsung ditangani, diberi obat, dan karena dokter tidak mau terjadi infeksi, dokter merencanakan memberi suntikan antibiotik. Dokter bertanya kepada saya apakah anak saya punya alergi antibiotik. Saya menjawab tidak tau, karena memang anak saya yang berumur kurang dari dua tahun belum pernah disuntik antibiotik. Lalu dokter melakukan tes alergi kulit untuk mencari tau, apakah anak saya alergi terhadap antibiotik.

Setelah ditunggu beberapa saat, dokter menyimpulkan anak saya tidak alergi antibiotik, karena katanya tes alergi kulit yang dilakukan negatif. Maka kemudian Daniel disuntik antibiotik (saya sudah lupa nama antibiotik yang disuntikkan). Selang dua hari, sakit diare anak saya memang mereda, tapi pada saat yang sama, badan anak saya membengkak, mulai dari wajahnya, tangan, kaki dan seluruh tubuhnya.

Kami bertanya kepada dokter anak yang menangani, mengapa tubuh anak saya membengkak. Dokter mengatakan bahwa anak saya tidak apa-apa, dan akan segera ditangani dan diberi suntikan. Dokter meminta suster untuk periksa darah, urine dan faeces, untuk mencari tau penyebab membengkaknya tubuh anak saya. Setelah disuntik bengkaknya memang agak berkurang.

Besoknya, saya bertanya tentang hasil pemeriksaan darah, faeces dan urine. Dokter mengatakan bahwa hasil pemeriksaan, semuanya baik, tapi belum tau mengapa badan Daniel menjadi seperti balon, membengkak. Saya tanya lagi, apa yang harus dilakukan, lalu dokter mengatakan, untuk mengetahuinya perlu dilakukan observasi khusus kurang lebih sebulan di rumah sakit. Observasi itu hanya untuk mengetahui penyebab pembengkakan.

Saya katakan, saya harus diskusi dulu dengan keluarga, sebelum dilakukan observasi khusus itu. Lalu saya ceritakan permintaan dokter itu kepada keluarga. Saya membayangkan akan jadi apa anak balita saya, bila dijadikan percobaan selama sebulan. Percobaan yang akan dilakukan belum tau akan seperti apa, dan bagaimana. Selain itu dokter juga tak bisa memberi gambaran bagaimana keberhasilannya. Kami sekeluarga kemudian memutuskan untuk mencari opini dari dokter lain dan pulang saja dari rumah sakit P.

Begitu keluar dari RS P, kami membawa Daniel ke dokter spesialis anak alergi. Begitu dokter anak alergi melihat, dia mengatakan bahwa Daniel hanya alergi antibiotik. Tapi Daniel mempunyai alergi reaksi lambat. Sehingga ketika dilakukan tes alergi, karena Daniel alergi lambat, hasilnya test dalam 2-3 jam tidak akan terlihat. Reaksi alergi lambat baru terlihat setelah 2-3 hari. Setelah diberi obat anti alergi, pembengkakan langsung hilang.

Jadi yang sesungguhnya terjadi adalah Daniel alergi terhadap antibiotik, sehingga setelah 2 hari, badannya mulai membengkak. Untuk mengatasinya adalah dengan menghentikan pemberian antibiotik dan memberi obat anti alergi. Saya tidak habis mengerti kenapa dokter anak, mudah saja bilang harus diobservasi khusus dan tinggal di rumah sakit selama sebulan, kalau ternyata hanya alergi reaksi lambat.

Saya memang agak bingung, karena ada teman bilang, semakin lama pasein dirawat inap di RS, berarti tempat tidur dan kamar rumah sakit “sold out“. Hal itu berarti revenue buat RS, dan siapa tau dokternya malah dapat bonus dari “sold-out” tersebut. Kalau itu yang terjadi, maka pasien hanya akan jadi korban dari bisnis medis yang licik.

Apakah dengan menulis pengalaman saya diatas, RS P akan menuntut saya dengan tuduhan pencemaran nama baik ?. Seperti yang dilakukan RS Omni Internasional Tangerang kepada Prita Mulyasari. Helehh…helehh…Aya-aya wae …

3 thoughts on “Kalau dokter terlalu cepat menyimpulkan diagnosa, pasien bisa jadi korban

  1. Semoga tidak di tuntut pak🙂
    Kalau ternyata dituntut juga berarti nanti para blogger siap2 menghimpun dukungan dan saya juga pasti pasang banner di blog saya untuk bapak🙂.

    Namun menyikapi cerita bapak diatas, etika dlm medis kiranya dikedepankan bukan hanya mengejar bisnis semata. Sedih ya, nyawa koq dibisniskan dan lebih sedih lagi ketika hukum yg mengatur tentang hal ini belum cukup kuat melindungi pasien.

    Persoalan yg kompleks sekali, saya melihat saat ini untuk menjadi kuliah kedokteran itu mudah, yang peting uangnya cukup utk byr uang pangkal universitas (pengalaman pribadi dr mengamati di skitar rumah). Menciptakan dokter yg memegang teguh sumpahnya dimulai dr awal, dari kepribadian dokter itu sendiri, seyogyanya universitas2 yg memiliki fak kedokteran bisa lbh bijak menyeleksi calon siswanya.

    Ternyata hal ini memiliki alasan kompleks yang melatarbelakangi. Yg terpenting kita sbg pasien perlu waspada dgn selalu mencari opini bbrp dokter🙂 salam utk Daniel dan keluarga ya pak…
    EKA

    Like

  2. BREAKING NEWS !!!
    JAKSA AGUNG MEMERINTAHKAN MEMERIKSA PARA JAKASA YANG MENUNTUT PRITA, YANG MENURUTNYA
    TIDAK PROFESIANAL.

    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

    Like

  3. HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s