Akibat arogansi, pasien lari, RS Omni terancam tutup

Manajemen RS Omni Internasional (OI) Tangerang, “digebukin” sana-sini, setelah pengaduannya tentang pencemaran nama baik yang dituduhkan dilakukan oleh Prita Mulyasari, di ekspose media. Tidak tanggung-tanggung, Komnas HAM, Komisi IX DPRRI dan pengurus IDI Pusat memanggil manajemen RS OI untuk mempertanggungjawabkan tuduhannya.

Komisi IX DPRRI bahkan merekomendasikan pencabutan ijin operasional RS OI, serta meminta mencabut gugatannya tanpa syarat, dan meminta RS OI meminta maaf secara terbuka kepada Prita Mulyasari. Dengar pendapat yang dilakukan DPR RI tersebut, dilakukan setelah manajemen RS OI tampaknya bersikukuh bahwa mereka “tak bersalah”.

Sebelum Prita Mulyasari “dikeluarkan” dari LP Wanita Tangerang, manajemen RS OI secara arogan mengatakan bahwa mereka sudah “benar” dan melakukan penanganan pasien sesuai prosedur. Pengacaranya bahkan sesumbar di depan media, bahwa Prita benar-benar ingin mencemarkan RS OI.

Arogansi RS OI itulah yang membuat blunder dan membuat berbagai pihak mengecam RS OI. Apalagi sampai semua Calon Presiden memberikan perhatian dan simpati yang sangat serius kepada Prita. Para blogger di Indonesia menyatukan dukungan kepada Prita. Media mengcover kasus Prita secara luas, dan dari sinilah semakin terungkap praktek tidak sedap yang dilakukan oleh RS OI.

Meski pencabutan ijin operasi RS OI masih memerlukan proses, tapi rekomendasi DPR RI, tampaknya sudah menghancurkan reputasi RS Omni Internasional. Dengan pemberitaan kasus yang seperti itu, dijamin, orang akan berpikir berkali-kali untuk mendapatkan perawatan di RS OI.

Hukuman terberat bagi RS OI justru datang dari masyarakat yang sudah kehilangan respek dan kepercayaan kepada RS OI. Hal inilah yang tidak diperhitungkan oleh manajemen RS OI. Apalagi Jaksa Agung sudah memerintahkan pemeriksaan terhadap Jaksa Penuntut Umum. Menurut informasi, jaksa yang bermain dalam kasus ini akan dipecat oleh jaksa agung. Hal ini mengindikasikan bahwa antara RS OI dan jaksa kemungkinan besar “ada main”. Maka kalau hari-hari ini dilihat ke RS OI, mungkin banyak pasien tak akan mau datang ke RS OI untuk berobat. Bisa-bisa tidak lama lagi RS OI bakal tutup sendiri, karena kehilangan pelanggan.

Manajemen rumah sakit, sering terlalu berorientasi bisnis, sehingga ketika merasa ada “gangguan”, mereka langsung bereaksi berlebihan. Sekarang para dokter dan manajemen RS OI merasakan akibat yang mereka lakukan. Arogansi dan sikap sok hebat berakibat fatal. Dalam teori manajemen yang sesungguhnya, kepuasan pelanggan, adalah nomor satu. Tapi kenapa manajemen rumah sakit sering “merampok” pasien. Dalam bahasa sehari-hari kita akan bilang: “Rasain lo RS OI”.

3 thoughts on “Akibat arogansi, pasien lari, RS Omni terancam tutup

  1. gw khawatir RS Omni tuh ganti nama sama kaya kasus “EMPAT MATA” acara empat mata di banned ganti nama jadi Bukan Empat Mata. Nanti RS Omni kaya gitu kali ganti jadi RS Tukul padahal managemen masih Omni yang lama

    Like

  2. Pendekatan kekuasaan dan modal dalam menghadapi sebuah perkara adalah cara cara lama.
    Metode OI merupakan bentuk keangkuhan yang sudah tidak layak hidup di era modern.
    Dengan demikian, keberadaannya sdh menyimpang jauh dr harapan. Tutup saja RS OI. Bubarkan ambisi bisnis berlebihan seperti yg ditunjukkan oleh OI

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s