Aura ketegangan pada deklarasi damai”

Rabu malam 10 Juni 2009, Komisi Pemilihan Umum (KPU) melaksanakan deklarasi damai antar calon presiden dan calon wakil presiden. Itu adalah perhelatan politik, tapi sedikit dikemas dengan acara kesenian. Saya tak berminat mencermati sisi politiknya, saya lebih suka melihat hal lain.

Sejatinya acara itu, dari judulnya, adalah acara damai. Jadi mestinya seluruh peserta dan orang-orang yang ikut dalam perhelatan itu mestinya dalam suasana damai. Damai harusnya terpancar dari masing-masing orang yang ikut pada acara tersebut, dan mestinya damai dirasakan oleh semua orang adalah damai yang sesungguhnya, yang berasal dari hati. Damai yang menyejukkan.

Tapi malam itu, entah karena acaranya adalah perhelatan politik, damai yang sejuk tak terasa, sebaliknya ketegangan yang terlihat diantara para yang hadir. Dari sorotan wajah-wajah yang “diclose-up” oleh kamera televisi, terlihat betul aura ketegangan yang tinggi, terutama calon presiden dan calon wakil presiden.

Yang terlihat paling tegang adalah Megawati. Selama saya menyaksikan acara TV, Mega sedikitpun tak tersenyum, wajahnya terlihat tegang dan dingin. Prabowo juga terlihat sangat serius, tapi masih terlihat bertegur sapa dengan SBY. SBY sendiri juga terlihat tegang dan “agak gelisah” ketika menyaksikan “monolog” Butet Kertarajasa, dan ketika mendengar pidato Mega.

Cawapres Budiono, terlihat tenang, tapi cukup serius menyaksikan pertujukan kesenian maupun ketika mendengarkan pidato. Yang paling rileks adalah JK, hampir selama pidato, JK selalu tersenyum. Ia pun terlihat santai menikmati “pidato” Butet Kertarajasa. Sedangkan Wiranto, masih memperlihatkan sikap seorang militer yang serius mempehatikan apapun. Aura ketegangan menyelimuti para Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.

Bahkan beberapa anggota KPU juga terlihat tegang ketika mendengarkan “pidato” Butet dan pidato Mega. Monolog Butet adalah paket dari acara kesenian Capres Mega. Monolog Butet, sesungguhnya juga bagian dari Pidato Mega, jadi secara total Capres dengan nomor undian 1, melakukan 3 kali pidato, sementara pasangan nomor 2 dan nomor 3, masing-masing dengan 2 kali pidato.

Pidato Butet dan Pidato Mega, secara bahasa formal, memang bersifat normatif. Tapi dari berbagai aspek, pidato pasangan nomor urut 1 tersebut memang “menyinggung sana, menyundul sini“. Pidato tersebut dapat juga “menebarkan” bibit -bibit ketegangan. Yang termasuk “disundul” adalah KPU, maka sebagian anggota KPU tampak gelisah.

Seandainya saja kamera TV secara terus-menerus meng close-up para cares dan cawapres, maka akan sangat terlihat ketegangan masing-masing. Yang ditayangkan di layar TV adalah cuplikan wajah-wajah yang tegang pada acara itu.

Dalam acara deklarasi damai saja, para capres sudah tegang, apalagi pada suasana kampanye, tentulah menjadi “panas”, atau bahkan mungkin lebih panas dari gesekan api. Secara bahasa verbal, ketiga pasangan menyerukan pelaksanaan kampanye dan Pilpres yang damai, tapi dari bahasa tubuh yang terpancar, ketiga pasangan sudah dalam kondisi ketegangan yang tinggi. Memang tidak mudah untuk menyatukan KATA dengan PERBUATAN, apalagi dalam suasana perebutan kekuasaan, Pemilihan Presiden.

One thought on “Aura ketegangan pada deklarasi damai”

  1. Jangankan para capres dan cawapress itu pak…

    arisan keluarga juga tegang ! hahahha
    amangboru dukung SBY
    Bapak uda dukung Mega
    Tulang maunya JK
    Semua bilang calonnya yang bagus, arisan alah kadi ajang talk show dengan suara keras bersahutan.

    alamaaaaaaak panas… panassss hehehehe😀
    semoga mana dame lah semuanya

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s