Debat capres, pro kapitalis: dagelan sinetron yang membosankan.

Lagi-lagi kita kita disuguhkan suatu dagelan sinetron yang tak bermutu dalam debat Capres yang tadi malam disiarkan langsung stasiun televisi. Semula saya berharap debat capres itu benar-benar akan bisa menunjukkan kualitas kepemimpinan para capres. Saya menunggu dari sesi awal sampai sesi akhir, ternyata hasilnya, sungguh mengecewakan.

Debat itu tak bermutu mungkin disebabkan oleh tiga hal yaitu pertama, KPU yang tak mampu menyusun suatu debat yang bermutu, kedua karena stasiun TV yang menentukan skenario debat, ketiga, para Capres mendikte KPU untuk mengikuti selera para Capres. Atau penyebab keempat, yaitu gabungan dari penyebab pertama sampai ketiga. Padahal masyarakat sebenarnya berharap kualitas kepemimpinan capres dapat terlihat dan dapat dinilai.

Saya mencoba mencermati satu persatu penyebab yang saya sebutkan diatas. Debat capres adalah perhelatan KPU, sehingga baik buruknya debat itu adalah tanggung jawab KPU. Dengan kewenangan, tanggung jawab yang ada pada KPU, seharusnya debat itu dirancang menjadi debat yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar formalitas “ngobrol” ngalor-ngidul.

Mungkin terlalu jauh untuk membandingkan dengan debat Capres di Amerika yang memang cukup seru. Tapi setidaknya KPU bisa merancang suatu format Capres yang baik, yang memberikan gambaran kepada masyarakat akan kemampuan dan kepemimpinan Capres. Tapi yang jelas, debat Capres 18 Juni 2009, masih tak layak disebut sebagai sebuah debat. Disini, KPU harus banyak belajar untuk memperbaiki pelaksanaan debat berikutnya.

Moderator Anis baswedan, sebenarnya mempunyai kualitas dan kapasitas yang mumpuni menjadi moderator. Tapi terlihat jelas, Anis Baswedan hanya menjalankan skenario yang sudah disiapkan oleh “produser” acara debat itu. Anis tak dibiarkan untuk bisa mengatur lalu lintas debat, atau mengumpan pertanyaan yang lebih berbobot. Anis Baswedan hanya sekedar pelaksana skenario dari sutradara. Sayang sekali orang sekaliber Anis Baswedan, hanya jadi “pion catur” pelaksana.

Hal kedua yang membuat debat menjadi tambah hambar adalah kehadiran “host” Helmy Yahya. Produser acara debat rupanya masih beranggapan bahwa diperlukan seorang selebriti seperti Helmy Yahya agar acara itu layak tayang di televisi. Padahal, kehadiran Helmy, dengan cara seperti pada debat itu, sebenarnya tidak diperlukan sama sekali. Moderator Anis Baswedan, sebenarnya mampu memandu seluruh acara, tanpa kehadiran “sipengganggu” Helmy Yahya.

Kondisi ini terjadi karena debat capres di televisi dipaksakan harus mempunyai bobot komersial. Kapitalisme membebani debat capres, itu terbukti dengan adanya banyak sekali iklan komersial yang memotong pelaksanaan capres. Jadi tidak salah kalau disebut debat capres tersebut sebagai pro kapitalis (atau mungkin pro neolib?). Inilah yang disebut, KPU dikooptasi oleh komersialisasi TV dan kapitalis. Sebagai bandingan, debat Capres di Amerika (negara yang kapitalis) disiarkan langsung di TV, dan tidak diselingi iklan.

Faktor ketiga yang menjadikan debat tidak bermutu, kemungkinan adalah skenario dari para Capres itu sendiri. Ada kemungkinan para Capres, tidak menginginkan debat yang “seru” dimana para capres, satu sama lain tidak ingin saling “merendahkan”. Dalam debat yang terjadi, ketiga Capres, hampir dalam banyak hal sependapat, nyaris tak ada beda pendapat. Padahal sebuah debat yang sesungguhnya, adalah untuk memberikan kesempatan berbeda pandangan, dan mempertanyakan pandangan pihak lain.

Yang dipertontonkan para capres malam itu adalah “seolah-olah” mereka bertiga adalah kawan akrab yang tidak berkompetisi. Padahal pada kesempatan lain, para capres saling menyindir pribadi yang lain. Kenapa pas ketemu bertiga, kayaknya akur dan tak ada apa-apa. Apakah ini sinetron dagelan, atau semua menyembunyikan sesuatu. Kalau bertemu muka, bermanis-manis ria, saling memuji, tapi begitu jalan sendiri, langsung menjelekkan yang lain. Apa ini yang namanya model baru kepemimpinan ??.

Jadilah debat yang bukan debat, jadinya cuma dagelan sinetron. Kalau begini jadinya, tak bisa disalahkan kalau ada orang yang tak mencontreng mereka.

4 thoughts on “Debat capres, pro kapitalis: dagelan sinetron yang membosankan.

  1. Setuju dengan part dimana Anis Baswedan tidak dioptimumkan ‘kepiawaiannya’. Sedang dia sebenarnya bisa juga menjadi ‘program director’ handal sekaligus moderator pada program debat tersebut !
    Helmi yahya yang kecimpringan dari awal selayaknya tidak usah ditampilkan, sangat mengganggu ‘credibility’ program dengan comment2nya yang sangat tidak penting dan menyebut program itu dengan hiperbolik….”kita akan segera kembali ke program debat yang maha penting ini….”
    Bener2 menerapkan sebuah kata ‘Maha’ yang tidak pas…..seharusnya dia tau bahwa kata ‘maha’ hanya pantas untuk sesuatu yang mempunyai sifat ‘maha’.
    Apapun itu, tapi ini kemajuan dari budaya politik negeri….pendidikan politik yang masih harus banyak diperbaharui !

    Like

  2. Ketika saya melihat da mendengar misi vis mereka, saya langsung mengantuk dan lalu tidur…sekejap kemudian matahari sudah terbit..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s