Satukan tekad untuk menyelamatkan Kali Brantas

Tanggal 25 Juni 2009, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, meminta pihak terkait untuk menyatukan tekad menyelamatkan kali Brantas. Tekad itu dinyatakan  Pak De Karwo, panggilan akrab gubernur Jatim, pada acara hari peringatan lingkungan hidup tingkat Jawa Timur di desa Sumber Brantas, Kota Batu, Jatim.

Uniknya, Pak De Karwo menyampaikan pidato pernyataan tekad dengan cara yang  informal. Ketika panitia meminta gubernur untuk memberikan pidato sambutan, setelah menyampaikan salam, Pak De Karwo pidato sangat singkat. Beberapa kalimat disampaikan terkait fakta Kali Brantas yang semakin kritis. Gubernur mengatakan bahwa Kali Brantas menunjang kehidupan 43 persen penduduk Jawa Timur, dan sungai itu mengalir melalui 16 daerah kabupaten/kota.

Akan tetapi di daerah hulu kali Brantas, di kawasan tangkapan air disekitar perbatasan Kota Batu dan Kabupaten Malang, semula ada 111 mata air, dan sekarang tinggal 57 buah. Dari jumlah 57 mata air tersebut, debitnya semakin hari semakin kecil. Sementara itu, di sepanjang daerah aliran sungai Brantas, diperkirakan terjadi erosi permukaan air tanah sebesar 2,2 ton/hektar per tahun.

Kondisi kekritisan inilah yang diungkapkan Pak De Karwo dalam pidatonya selama lebih kurang 2 – 3 menit. Lalu gubernur memanggil Kepala Perhutani Jawa Timur, Direktur Utama PT Jasa Tirta I, serta Walikota Batu, untuk naik ke panggung mendampingi gubernur. Kepala Perhutani diminta bicara dan menyampaikan janji untuk menyelamatkan hutan sehingga mata air bisa kembali seperti semula. Gubernur meminta agar Perhutani membuat komitmen spesifik. Tentu saja menghadapi permintaan itu, Kepala Perhutani tak bisa menolak.

Giliran berikutnya, Gubernur meminta Dirut PT Jasa Tirta I untuk menyampaikan janji dan komitmen untuk mengamankan mata air di hulu sungai Brantas. Dirut PT Jasa Tirta juga tak bisa menolak, meski dalam pernyataannya, Dirut PT Jasa Tirta memberikan pernyataan yang agak umum.  Giliran ketiga yang diminta Gubernur adalah Walikota Batu, Eddy Rumpoko. Walikota Eddy Rumpoko membuat pernyataan untuk mendukung upaya menyelamatkan lahan kritis di wilayah Kota Batu. Gubernur meminta spesifik agar para petani dibina tentang cara-cara mengolah lahan yang bisa menghindari erosi.

Pak De Karwo mengatakan, dari pada berpidato panjang-panjang, mendingan meminta instansi terkait membuat pernyataan. Gubernur Jatim meminta, agar perayaan lingkungan hidup tahun depan (2010) diadakan di tempat yang sama, sambil sekaligus melihat, dalam satu tahun kedepan, apakah janji dan pernyataan yang dibuat hari itu akan bisa dilihat kemajuannya. Tidak lupa gubernur mengingatkan bahwa janji dan pernyataan yang dibuat itu tidak saja disaksikan para peserta yang hadir, tapi juga disaksikan oleh Tuhan Yang  Maha Esa. Setelah itu gubernur mengakhiri pidatonya.

Jadinya gubernur hanya berbicara sedikit, tapi malah minta pihak terkait bicara pada kesempatan beliau pidato. Menurut saya, “teknik” yang digunakan Gubernur itu lebih efektif daripada pidato verbal yang lama. Komitmen untuk menyelamatkan kali Brantas mulai dari hulu sampai ke hilir, akan dilihat tahun depan, apakah ada kemajuan, atau malahan jumlah mata air di hulu Brantas akan semakin sedikit.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s