Menjelang malam, makan bakmi di Ginza

Saya baru pertama kali nginap di kawasan Ginza, daerah yang sering disebut sebagai termahal di Tokyo, mungkin juga di dunia. Sebelum sampai di hotel, saya bayangkan bahwa saya akan diberi fasilitas hotel bisnis yang biasanya bintang lima.

Jam sudah hampir pukul 10.30 malam ketika saya sampai di Tokyo Station, setelah menempuh perjalanan panjang dari Surabaya, transit di Hongkong, lalu landing di Narita. Dari Airport Narita, saya ambil keretaapi Narita Express, sebagaimana disarankan oleh panitia yang mengundang saya ke Tokyo. Konter penjualan tiket Narita Express, ada di bagian luar terminal-2 kedatangan, di konter ini bisa beli tiket berbagai jenis kereta api, seperti JR dan Shinkansen.
Seperti gambar dibawah inilah skema bagian kedatangan terminal-2 Narita yang diberikan kepada saya.

Slide1

Begitu sampai di konter penjualan tiket, saya pesan ke Tokyo StaTion, ternyata jadwal Narita Express berikutnya adalah pada jam 09.47 malam, sementara jam masih jam 9 sewaktu saya keluar dari terminal kedatangan. Jadi saya masih harus menunggu sekitar 45-47 menit sebelum kereta bertolak menuju Tokyo Station. Harga tiket dari Narita ke Stasiun Tokyo adalah 2.950 Yen atau sekitar Rp.300.000. Kereta Narita Express adalah kereta yang hanya berhenti di stasiun tertentu. Dari Narita, kereta ini langsung ke Tokyo Station tanpa berhenti di stasiun yang dilewati.

Sekitar jam 09.45, KA Narita Express muncul di stasiun terminal-2, saya lalu naik mencari tempat duduk yang sudah tertera di tiket, gerbong-1, seat 12-A. Tepat jam 09.47, KA Narita Express bergerak melaju meninggalkan stasiun terminal-2 Narita. Perjalanan dari stasiun Narita sampai Tokyo Station (central) sekitar 36 menit, menurut jadwal yang tertera di tiket.

Begitu sampai di Tokyo Station (sentral), saya keluar dari KA Narita Express. Celinguk kiri, celinguk kanan untuk mencari petunjuk dalam bahasa Inggeris. Stasiun sentral Tokyo, besar bukan main, pada jam 10 malam, kesibukan masih tinggi. Orang berlalu lalang, berjalan sangat cepat, seolah takut tertinggal. Menurut petunjuk yang diberikan kepada saya, dari Tokyo Station saya harus menuju stasiun Shimbashi. Untuk itu saya harus mencari kereta dengan rute Shimbashi, yaitu Yamanote Line.

Di stasiun sentral Tokyo ada setidaknya 8 lines kereta diluar monorail, subway, kereta regional dan dan kereta super cepat (bullet train) Shinkansen. Stasiun ini bertingkat-tingkat sampai ke jalur subway. Jadi saya harus mencari jalur Yamanote Line. Dari simbol-simbol yang ada di dalam stasiun, saya melihat bahwa Yamanote Line adalah yang berwarna oranye. Untuk memastikan tempat Yamanote Line berada, saya bertanya kepada petugas di Tokyo Station sekaligus membeli tiket ke stasiun Shimbashi.

Untungnya petugas Tokyo Station bisa berbahasa Inggeris, jadi bisa menjelaskan kepada saya petunjuk menuju Yamanote Line. Beberapa tahun lalu saya ke Nagoya, Jepang, sangat sulit menemui petugas stasiun yang bisa berbahasa Inggeris. Mungkin di Tokyo Station, petugasnya sudah lebih baik dibanding stasiun kereta api lainnya di Jepang.

Saya kemudian menuju platform dimana Yamanote Line berada. Setelah menunggu sekitar 10 menit, kereta berikutnya tiba, dan saya pun masuk ke dalam Yamanote Line. Setelah berjalan selama 2 menit, Yamanote Line sudah sampai di stasiun pertama, dan berhenti selama sekitar setengah menit. Lalu dua menit berikutnya sudah sampai di Shimbashi Station, saya pun menuju keluar stasiun. Di petunjuk, untuk menuju Ginza, saya harus mencari pintu keluar (exit) Ginza. Tidak sulit menemukan pintu keluar Ginza.

Begitu saya diluar stasiun, saya jadi kebingungan, arah mana yang harus saya ambil untuk menuju hotel Nikko. Di depan pintu luar ada jalan raya, dan sekitar 20 meter berikutnya sudah ada persimpangan, dan disekitarnya terdapat bangunan pencakar langit yang cukup banyak. Saya merasa kehilangan orientasi. Jam sudah hampir 10.30 malam, saya berusaha mencari petugas stasiun, untuk minta tolong menujukkan arah ke Hotel Nikko, tapi tak seorang pun petugas yang terlihat. Untuk beberapa saat saya berdiri saja mencoba menenangkan diri sambil berpikir ke arah mana saya harus melangkah.

Akhirnya saya mencoba mencermati kertas petunjuk yang saya bawa, menurut petunjuk itu saya harus mengambil “Ginza Exit”. Setelah dari platform kereta bawah tanah tadi, “Ginza Exit” adalah arah kiri, maka setelah tiba di “permukaan”, saya pikir saya harus meneruskan arah kiri. Dengan logika itu saya melangkah kearah kiri dan kemudian menyeberang jalan. Di situ ada kios (convenience store) penjual makanan, saya mau bertanya untuk memastikan apakah saya di arah yang benar, tapi kios kecil itu sangat sibuk, sehingga tak memperhatikan orang lain. Saya lalu keluar, dan mulai berpikir lagi.

Saya putuskan untuk naik taksi saja, supaya tidak salah dan pasti sampai hotel. Maka saya menghampiri sebuah taksi yang berhenti di pinggir jalan. Kemudian saya menunjukkan kertas minta tolong diantarkan ke hotel Nikko Ginza, lalu si supir taksi, tanpa berbicara banyak, dia hanya menunjuk kedepan bahwa Nikko sudah dekat. Dia hanya bilang: “the..the“. Mungkin maksudnya there, pikir saya. Sambil bilang “Arigato“, saya pun melangkah. Benar saja, sekitar 100 meter kemudian saya sudah bisa membaca tulisan Nikko, meski papan tulisan tidak terlalu besar.

Semula saya membayangkan hotel Nikko Ginza seperti hotel yang sama di Jakarta. Hotel Nikko yang terletak di jalan Thamrin Jakarta cukup besar dan megah. Jadi saya pikir Nikko Ginza ya hampir samalah dengan Nikko Thamrin. Lagi pula saya diundang oleh World Bank, dan biasanya World Bank menempatkan orang yang diundangnya di hotel bisnis setidaknya bintang 4, atau bintang 5.

Setelah sampai di Ginza Nikko, saya agak surprise, ternyata hanya sekelas hotel melati dengan lobby yang kecil dan sempit. Penginapan saya sudah dibuking panitia, jadi saya cek in cuma menunjukkan paspor. Kamar yang saya peroleh juga sangat kecil, mirip apartemen studio dengan bed kecil, dan meja yang pas-pasan. Plafondnya juga rendah, tapi amenities hotel, cukup lengkap.

Iseng-iseng saya cek harga hotelnya, saya jadi kaget lagi, ternyata hotel sekelas melati di Ginza, seperti Nikko, harganya lebih mahal dari hotel bintang 5 di Kitakyushu yang pernah saya tempati beberapa kali. Jadi benarlah, bahwa segala sesuatu di Ginza Tokyo sangat mahal, termasuk hotel. Karena sudah cukup larut dan perjalanan panjang, saya langsung tidur terlelap.

Keesokan harinya sudah ditetapkan bahwa saya akan di jemput tepat jam 9 pagi oleh Mr. Tamura dari Padeco. Saya tau, kalau orang Jepang tidak akan telat satu menit pun, karena itu jam 08.50 pagi saya sudah siap di lobby setelah sarapan terlebih dulu. Ternyata di lobby saya bertemu peserta lain dari Bogor, yaitu pak Indra. Benar saja, jam 9 kurang 5 menit, Tamura-san tiba di lobby. Ternyata dia menjemput tiga orang, saya, pak Indra dan seorang lagi Mr. Dong dari Haipong, Vietnam.

Sejak jam 9.30 sampai jam 5 sore, kami ada di kantor World Bank Tokyo untuk workshop Global City Indicator Program. Setelah workshop, Mr. Dong dan pak Indra mengajak jalan-jalan. Saya tanya, mau jalan kemana, mereka balik nanya saya. Saya tanya lagi, apa dulu yang mau dicari, kalau hanya sekedar jalan, saya milih istirahat saja di kamar, karena kemarin cukup capek di perjalanan dan seharian di kantor World Bank. Akhirnya Pak Indra dan Mr. Dong berangkat, sementara saya leyeh-leyeh saja di kamar.

Mendekati jam 8, saya mulai merasa perlu cari makan, maka saya turun dari kamar untuk melihat-lihat makanan apa yang bisa cocok. Saya keluar hotel, jalan kaki menyusuri kawasan Ginza Tokyo. Toko-toko, restoran masih buka. Di kawasan hotel Nikko banyak restoran dan club malam yang terletak di bangunan-bangunan bertingkat.

Sambil berjalan pelan-pelan saya melihat banyak orang yang lalu lalang, tua muda, laki perempuan. Ada yang berjalan santai, ada juga yang berjalan cepat-cepat seperti biasanya orang Jepang. Di beberapa perempatan jalan sempit di Ginza, ada kelompok 2 sampai 3 orang berdiri dengan pakaian rapi. Mereka ngobrol-ngobrol (yang tentu saja saya tak ngerti, karena mereka pakai bahasa Jepang). Sempat juga saya melihat seorang pria berjalan menjejeri seorang wanita, setelah berjalan sekitar 25 meter, pria itu menjauhi si wanita.

Saya juga mengamati toko-toko yang memajang pakaian, tas dan perlengkapan lain. Di salah satu toko saya melihat tas wanita, yang kelihatannya biasa saja, tapi dibanderoli 150 ribu yen, artinya sekitar Rp. 15 juta. Perkiraan saya tas seperti itu di Surabaya berkisar antara 1 – 1,5 juta saja. Tentu harga 150 ribu yen itu adalah harga Ginza.

Setelah berjalan beberapa blok akhirnya saya berbalik menuju hotel, di tengah jalan saya melihat kios bakmi. Sekilas saya melihat gambar yang dipajang, dan akhirnya saya memutuskan untuk masuk. Pelayan kios menawarkan daftar menu. Nampaknya ia faham bahwa saya tak bisa bahasa Jepang, dan dia pun tak bisa bahasa Inggeris. Saya memilih gambar yang ada mi dan sayuran, dan menunjukkannya kepada pelayan, yang kemudian menyebut sesuatu kepada juru masak.

Tak lama muncullah semangkuk mi yang dilengkapi dengan kuah. Kuahnya seperti kuah soto Jakarta yang diberi santan. Mi yang disajikan mirip mi telor, dan tentu saja dilengkapi dengan sayatan daging dan telor ayam. Saya tak punya pilihan dan mulai menyantap, tentu saja rasanya berbeda dengan mi pangsit di Surabaya. Tapi mau apa lagi, kalau saya pilih yang lain, belum tentu rasa yang sesuai. Jadi saya terpaksa kompromi dengan lidah untuk mengisi perut. Kenyang juga jadinya.

Karena besoknya jam 5 pagi saya sudah harus berangkat ke Bandara Narita, jadi tidak akan sempat sarapan pagi di hotel. Ya, saya mampirlah ke “convenience store” setelah makan bakmi Ginza. Di kios 24 jam ini saya beli “onigiri“, untuk bekal besok paginya, lalu naik ke kamar untuk istirahat. Begitulah yang saya ketahui tentang Ginza, dimana saya sempat makan bakmi dikawasan termahal di Tokyo.

3 thoughts on “Menjelang malam, makan bakmi di Ginza

  1. Ginza emang muwahal. Satu tempat lagi yang mirip Ginza ada di Roppongi Hills, nah kalo di Roppongi Hills ini rada mendingan, ekslusif tapi ga terlalu mahal. Ya harga nya ampir sama kayak di Jakarta lah.

    Btw, beneran tuh Yamanote Line warna orange? Yang warna oranye kan Chuo Line.. heuheu… Because Yamanote Line is the line I love the most. hahaha..

    Yang paling gw suka di kereta adalah mendengar sang narator membacakan pengumuman : “This is the Yamanote Line train bound for Ikebukuro, the next station is Shinjuku, the door on the left side will open, please change here for the Chuo Line and The Ginza Subway Line”.. haha lucu banget…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s