Oge, Anak Tengger penjual kupluk dan kaos kaki.

Libur sekolah tahun ini, saya sekeluarga ditambah keponakan dan ipar dari Jakarta, menikmati keindahan kawasan gunung Bromo. Destinasi wisata top Jawa Timur ini mempunyai potensi yang sangat luar biasa, sayang pengelolaannya terkesan semakin memprihatinkan.

Kunjungan saya ke Bromo kali ini adalah untuk yang kedua kalinya, seperti yang pertama, saya menggunakan akses dari Probolinggo dan menginap di desa Ngadisari, kecamatan Sukapura. Untuk mencapai Bromo, bisa juga melalui Kabupaten Pasuruan.

Sebelum berangkat ke Bromo, saya coba tanya “Ompu Google”, tentang informasi Gunung Bromo. Informasi dari “Ompu Google” sebenarnya ada beberapa, sayang tidak ada informasi yang cukup lengkap. “Ompu Google“, hanya menyajikan informasi umum saja. Informasi dari “Ompu Google” tidak cukup bagi orang yang akan bepergian ke Bromo untuk menghitung berapa lama waktu tempuh, fasilitas penginapan, ongkos yang mesti dikeluarkan dan akses yang lebih mudah dan murah.

Saya coba minta bantuan kenalan di sebuah biro perjalanan untuk pesan tempat penginapan di Bromo (Ngadisari), tapi ternyata, tidak ada hotel dan penginapan yang bisa dibooking lewat biro travel. Saya berusaha pesan kamar, dengan maksud agar tidak kesulitan, apalagi mengajak keponakan dari Jakarta. Kenalan saya itu bilang supaya saya langsung saja ke Ngadisari, nanti baru cari hotel atau penginapan disana kalau sudah sampai. Apa boleh buat, tak ada pilihan lain, hotel atau penginapan ya tergantung kondisi lapangan saja nantinya.

Akhirnya rombongan kami, yang berjumlah 12 orang, dengan 2 kendaraan, berangkat dari Surabaya dengan mengandalkan ingatan saya beberapa tahun silam tentang Bromo ditambah informasi dari “Ompu Google“. Kami beruntung, karena jalan raya Porong, yang biasanya macet akibat Lumpur Lapindo, ternyata sore itu cukup lancar. Selepas Porong, lalu lintas jalur Pantura relatif lancar. Apalagi setelah jalan antara Gempol dan Bangil sudah diperlebar.

Bangil, kota kecamatan yang beberapa kali meraih penghargaan kota terbersih Adipura, semakin mantap menjadikan diri sebagai kota bordir. Berbagai board dipasang disepanjang jalan menegaskan Bangil sebagai “KODIR” alias kota bordir. Sore itu, jalan didepan alun-alun kota bangil sedang di “overlay”, sehingga lalu lintas agak merayap. Tapi setelah itu jalanan cukup lancar.

Selepas kota Pasuruan, laju kendaraan kami kembali melambat, karena di wilayah Grati, jalannya hanya dua lajur untuk kedua arah baik dari arah Pasuruan maupun dari arah Probolinggo. Padahal kendaraan truk gandeng dan tronton jumlahnya cukup banyak.

Setelah melewati Pasar Nguling menuju Tongas, mata saya semakin mencorong ke sebelah kanan, memperhatikan persimpangan jalan yang menuju Gunung Bromo. Amin, si pengemudi, sudah saya minta tidak terlalu dalam menginjak gas supaya pertigaan ke Bromo jangan sampai terlewat . Kalau kelewatan, kami harus lewat Kota Probolinggo yang sedikit lebih jauh. Ternyata, pengamatan saya sebagai “navigator” masih cukup jeli, saya menemukan jalan menuju Bromo. Berbelok ke kanan di Tongas, jalan menjadi sempit, dan sore mulai gelap.

Menjelang jam 7 malam, kami sampai di desa Ngadisari, tepatnya di pertigaan dusun Ngadisari, tidak jauh dari balai desa, kami sudah “dihadang” oleh para “biro jasa” yang menawarkan hotel, villa, dan penginapan. Kami menghentikan kendaraan, dan saya turun berunding dengan para penjual jasa itu. Seseorang mengajak saya untuk melihat sebuah rumah yang ia tawarkan, sayapun mengikutinya. Heri, demikian nama lelaki yang menawarkan rumah berlantai dua, yang terpisah satu sama lain.

Lantai atas terdiri dari empat kamar, dengan masing-masing 2 dipan. Kamarnya agak sempit, dan ruang tamu juga sempit. Di lantai bawah terdapat 3 kamar, dengan masing-masing tempat tidur dari “spring bed”. Ruang tamunya cukup luas, dan ada sofa yang cukup besar dan empuk. baik lantai atas dan lantai bawah cukup bersih. masing-masing punya satu kamar mandi dengan alat pemanas air sebagai pelengkap. Kami memutuskan mengambil lantai bawah saja, karena tempat tidurnya lebih baik. Anak saya Daniel, memilih untuk tidur di sofa ketimbang di kasur.

Belum selesai dengan urusan kamar, sudah ada orang yang menawarkan persewaan mobil “jeep” untuk dipakai ke Pananjakan. Beberapa orang coba menawarkan dan mengatakan lebih baik booking sekarang, dari pada mencari jeep sebelum berangkat ke Pananjakan. Orang tersebut menawarkan Rp. 500 ribu satu jeep untuk melihat 2 lokasi. Kami menawar Rp. 250 ribu. Setelah tawar menawar yang cukup alot, akhirnya kami setuju untuk membayar Rp. 300 ribu untuk satu jeep yang mengantar ke dua lokasi yaitu Pananjakan untuk melihat matahari terbit dan kemudian ke kawah Bromo. Ternyata menurut papan pengumuman yang ada di pertigaan jalan, harga resmi sewa jeep adalah Rp. 275 ribu. Tapi itu baru saya lihat keesokan harinya setelah kami kembali dari kawah Bromo.

CIMG1573

Oge Gigionanta yang dipanggil Oge, dan temanya Suparno, datang menawarkan dagangan, begitu kami masuk kedalam rumah. Belum sempat membereskan tas, kedalam kamar, Oge, siswa kelas 5 SD dan Suparno adik kelasnya, tau-tau sudah menggelar dagangannya di depan pintu. Sebenarnya dari Surabaya, kami sudah membawa semua “perlengkapan” untuk melihat sunrise di Gunung Panajakan. Sarung tangan, kaus kaki tebal, jaket, topi kupluk, sweater dan pakaian hangat lainnya sudah cukup. Jadi kami tidak memerlukan lagi barang dagangan Oge dan Suparno. Tapi mereka berdua tetap menunggu di depan pintu, meski kami katakan kami sudah punya perlengkapan pakaian hangat.

Selesai memasukkan barang dan menentukan siapa tidur dimana, kami mencari warung. Sejak dari Surabaya, kami tidak berhenti di jalan untuk makan malam. Anak-anak dan keponakan saya sudah lapar. Kali ini mereka minta diberi kebebasan untuk makan mi instan. Sekembalinya dari warung yang tinggal satu-satunya buka malam itu, Oge dan Suparno masih bertahan di depan rumah menunggui dagangannya. Hebat juga kesabaran kedua anak ini untuk menawarkan jualannya. Mereka adalah penjual yang ulet.
CIMG1820
Besoknya begitu kami kembali dari kawah Bromo, Oge dan Suparno sudah muncul lagi menawarkan barang dagangannya. Mereka berdua rupanya masih berharap agar kami membeli satu dua dagangannya. Saya mengajak Oge dan Suparno ngobrol ngalor ngidul tentang sekolahnya. Sepulang sekolah, Oge harus berjualan untuk membantu kedua orang tuanya yang buruh tani. Kadang ia berjualan sampai jauh malam, dan baru kembali ke rumah sekitar jam 11 malam. Apalagi seperti masa libur, ia jualan sejak pagi sampai malam.

Akhirnya istri saya meminta sebuah kupluk yang berharga Rp. 15 ribu, lalu istri saya menyodorkan dua buah lembaran duapuluh ribuan, sambil berpesan agar kembaliannya dibagi berempat, Oge dan adiknya, serta Suparno dan adiknya. Oge bilang terimakasih dan dia bilang akan terus sekolah meski harus sambil jualan.

Kegigihan Oge untuk berjualan dan sekolah adalah gambaran situasi kemiskinan anak negeri. Mestinya Oge tak perlu jualan, bukankah sudah ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Apa Oge dan orang tuanya tidak tau ??.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s