Menghirup debu tahi kuda di Gunung Bromo

Selepas menikmati “sunrise” di Pananjakan, kami turun menuju Kawah Bromo. Jalanan turun terjal dengan tikungan tajam, merupakan tantangan tersendiri. Apalagi pada bagian tertentu jalan rusak berlubang, sehingga kendaraan harus ekstra hati-hati. Kalau tidak, jurang ditepi jalan siap menampung pengemudi yang lengah.

Tapi begitu jalan terjal terlewati, hamparan dataran pasir Gunung Bromo menyambut pagi yang masih dingin. Sebagian hamparan dataran pasir di kaldera Bromo sudah ditumbuhi rumput-rumput. Pada bagian-bagian tertentu terdapat jejak jalan yang dilalui kendaraan. Dibagian tertentu hamparan pasir, ada tempat-tempat dimana pasirnya tidak padat, kalau ada kendaraan yang melintas diatas pasir itu, bisa-bisa terjebak, kendaraan tidak bisa bergerak. Pagi itu kami melihat sebuah mobil sedan yang terjebak di dalam pasir.

CIMG1734

Hamparan dataran pasir di gunung Bromo, sangat luas. Saat ini mobil pengunjung tidak bisa mendekat ke arah tangga yang menuju kawah. Pengunjung yang berminat ke kawah harus berjalan kaki, atau menggunakan kuda sewaan yang tersedia disana. Begitu mobil berhenti, pemandu kuda segera berdatangan menawarkan jasa untuk mengantar sampai ke tangga beton yang menuju kawah.

CIMG1750

Menurut salah seorang pemandu kuda, jumlah kuda yang disewakan di Gunung Bromo sudah mencapai 500 ekor. Hari yang ramai umumnya adalah pada hari Minggu dan hari Libur, pada saat itulah hampir semua pemandu kuda beroperasi. Akan tetapi setiap hari, sebagian besar kuda beroperasi setiap harinya.

Sebagaimana umumnya hewan, kuda tidak bisa diatur kapan akan buang kotoran (feses), kuda akan BAB dimana dia suka, tidak peduli apakah ia sedang membawa tamu wisatawan luar negeri, atau kuda hanya saat merumput. Kuda-kuda yang disewakan di Bromo juga adalah yang bisa BAB setiap saat. Dan kotorannya berserakan dimana-mana.

Keberadaan kuda di Gunung Bromo sesungguhnya sangat membantu wisatawan yang ingin menuju puncak kawah yang masih mengeluarkan asap. Kuda-kuda itu bisa membawa pengunjung sampai ke anak tangga melalui pendakian bukit yang cukup terjal. Jadi sangat menolong untuk menghemat tenaga pengunjung.

CIMG1746

Kuda-kuda yang ditawarkan sebenarnya dilengkapi dengan semacam “kantong” untuk menampung kotoran. Bentuk kantong kotoran itu tampaknya kurang bagus desainnya, sehingga sebagian kotoran yang dikeluarkan kuda, masih berceceran. Memang tidak mudah mendesain kantong, yang benar-benar bisa menampung kotoran tanpa ada yang tercecer. Idealnya, bentuk kantong penampung itu mestinya seperti “diaper” (popok) nya bayi. Tapi kuda mana yang mau menggunakan “diaper“.

Dari yang saya saksikan hari itu, tidak semua kuda dilengkapi kantong penampung kotoran. Setiap saat kuda BAB, kotorannya akan beserakan dan bercampur dengan pasir. Pada musim kering dan kemarau, kotoran kuda itu juga ikut berterbangan.

Pagi hari ketika matahari mulai bersinar, kuda-kuda yang berjalan di jalanan sempit (setelah melewati Pura), debu berterbangan cukup pekat. Sewaktu melalui jalan sempit yang sudah terjal, kuda-kuda berpapasan dengan sesama kuda dan pengunjung lainnya. Pada saat itulah, debu tahi kuda berterbangan ke udara. Debu, tahi kuda dan gas belerang dari kawah Bromo sangat menyesakkan, dan mengganggu kesehatan.

Tahi kuda yang berserakan di gunung Bromo, bercampur sedemikian rupa sehingga sulit memisahkannya dengan pasir, kecuali, permukaan pasir dikeruk. Tapi siapa yang akan mengeruk pasir yang luasnya puluhan hektar itu. Lama kelamaan jumlah tahi kuda akan terus bertambah. Kalau setiap hari jumlah kuda rata-rata beroperasi 300 ekor, dan setiap ekor BAB dan sebagian tercecer di Bromo, maka dalam setahun jumlah tahi kuda bisa menjadi beberapa ton yang berserakan di kawah Bromo. Kalau lima tahun, tinggal mengalikan saja. Jumlah itu bisa membahayakan kesehatan pengunjung dan wisatawan Gunung Bromo.

Kalau kondisi tahi kuda di Gunung Bromo tidak segera dicari penyelesaiannya, dikuatirkan jumlah pengunjung ke Bromo lama-kelamaan akan berkurang. Siapa yang mau menghisap debu tahi kuda. Pengunjung ingin menikmati indahnya Bromo, tapi, kalau harus menghisap tahi kuda, maka orang akan berpikir dua kali untuk datang kembali.

Mengharapkan para pemandu kuda untuk menyelesaikan, rasanya tidak mungkin. Pemerintah Kabupaten Probolinggo (Dinas Pariwisata?) dan Propinsi Jawa Timur, harus mencari upaya untuk menyingkirkan tahi kuda tanpa menyingkirkan kudanya dari Gunung Bromo. Supaya Gunung Bromo tetap menarik untuk didatangi wisatawan. Semoga.

One thought on “Menghirup debu tahi kuda di Gunung Bromo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s