Sesak napas karena gas metan ??.

Kemarin, koran Jawa Pos di Surabaya memuat headline besar tentang semburan gas dan material di Siring Barat, Porong, tidak jauh dari lokasi lumpur Lapindo. Akibat semburan material dan gas di permukiman itu, tanah menjadi ambles. Sayang, judul dan isi berita, ada yang salah kaprah.

Amblesnya lahan di Siring Barat, Porong menjadi berita utama di sejumlah koran Surabaya. Lahan yang ambles berada di sisi barat Jalan Raya Porong, tepatnya di kelurahan Siring Barat, berseberangan dengan lokasi Lumpur Lapindo. Semburan lumpur panas Lapindo selama 3 tahun lebih, membuat kondisi kawasan Porong sangat meprihatinkan. Gas, lumpur dan air tidak hanya menyembur di lokasi pengeboran Lapindo, tetapi juga sudah terjadi di kawasan permukiman.

Judul sub-berita utama (headline) Jawa Pos tertulis : “Gas Metan Bikin Warga Sesak Napas”.  Cuplikan tulisan itu, selengkapnya seperti di bawah ini.

SEMBURAN air disertai gas mudah terbakar di kawasan Siring, Porong, Sidoarjo tersebut membawa petaka. Salah seorang tetangga Okky Andriyanto, pemilik rumah yang roboh di Siring Barat, menjadi korban. Kemarin sekitar pukul 11.00, Achmad Arifudin dirawat inap di Puskesmas Porong karena sesak napas dan mual.

Remaja 14 tahun itu terpaksa meninggalkan sekolah sebelum jam pelajaran berakhir. Achmad mengaku sejak pagi merasa pusing dan mual. ”Bau gas metannya serasa menempel terus di hidung saya,” ujar siswa baru di SMA Bhayangkari 3 Porong itu.

Sejak itu, dia langsung diantarkan berobat ke Puskesmas Porong. Sebelumnya, Achmad mengaku mengalami pusing. Bahkan, rasa pusing tersebut terjadi sejak Minggu (12/7). ”Tadi (kemarin, Red) kok ditambah mual-mual dan badan sakit semua,” tuturnya.

***

Sumber berita Jawa Pos, berasal dari pernyataan seorang pemuda siswa SMA yang sempat di rawat di Puskesmas Porong.  Menurut si pemuda, Achmad Arifudin, ia mengalami sesak nafas karena gas metan. Pernyataan Achmad Arifudin bahwa gas metan mengakibatkan sesak nafas tidaklah benar. Karena sejatinya gas metan, bukanlah gas beracun. Ia tidak berbau dan tidak berasa, secara visual, keberadaan gas metan tidak bisa dilihat dengan mata. Jadi tidak mungkin gas metan mengakibatkan sesak nafas.

Dari pernyataannya, jelas bahwa Achmad Arifudin, siswa kelas 1 SMA, tidak mengetahui sifat gas metan. Sesak nafas yang diderita Arifudin bukan disebabkan oleh gas metan. Jawa Pos mestinya tidak asal memuat pernyataan narasumber yang tidak mempunyai kompetensi tentang gas metan. Atau setidaknya wartawan atau redaksi bisa mencek dulu apa dan bagaimana gas metan.

Kalau benar Achmad Arifudin mengalami sesak nafas setelah berada di lokasi tanah yang ambles,  kemungkinan ia menghirup gas belerang (H2S), atau gas amoniak (NH3).  Kedua gas ini dapat menimbulkan sesak nafas, kalau terhirup dalam jumlah besar. Kalau terhirup di lokasi tanah ambles Siring Barat, kecil kemungkinan mengakibatkan sesak nafas, kecuali yang bersangkutan memang sudah mengidap penyakit sesak nafas atau yang sejenis.

Gas H2S maupun gas NH3, jika berada di lokasi udara terbuka, akan segera bereaksi dengan Oksigen, dan menjadi terurai. Sehingga jumlah (konsentrasi) gas tersebut di lokasi ruang terbuka akan segera menjadi kecil dan relatif tidak berbahaya. Kecuali orang menghirup langsung dari lubang semburan (kemungkinan ini sangat kecil), mengingat lokasi tanah ambles berada di ruang terbuka.

Informasi lengkap tentang gas metan klik disini.

One thought on “Sesak napas karena gas metan ??.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s