Sepeda motor jadi “pembunuh nomor satu” di Surabaya.

Harian Jawa Pos, Senin dan Selasa (28/7) secara berturut-turut memuat liputan tentang kecelakaan lalulintas yang melibatkan sepeda motor. Menurut berita  yang mengutip Kasatlantas Polwiltabes Surabaya, setiap hari rata-rata dua orang meninggal di Surabaya yang melibatkan sepeda motor. Itu artinya sepeda motor sudah menjadi “number one killer” di kota Surabaya.

Menurut informasi koran tersebut, selama tahun 2008, terjadi 1.250 kecelakaan yang melibatkan 1.540 sepeda motor. Korban meninggal mencapai 599 orang dan 342 orang (sekitar 57 persen) adalah pemakai motor. Di tahun 2009,  pada semester awal, 392 orang meninggal. Sebanyak 312 orang atau 79 persen adalah pemakai sepeda motor. Kalau setahun bisa jadi 700 orang meninggal akibat kecelakaan sepeda motor. Ini angka yang fantastis, bayangkan 700

Diduga penyebab utama kecelakaan  adalah pelanggaran lalu lintas dan rendahnya disiplin berkendara. Rendahnya disiplinan itu juga tecermin pada karakter tabrakan yang terjadi. Yaitu, tabrak samping (265 kejadian) dan tabrak depan (247 kejadian). ”Itu bukti melanggar markah. Kedisiplinan mereka memang masih rendah,” kata Kasatlantas Polwiltabes Surabaya AKBP Agus Wijayanto.

Sejak Januari sampai Juni 2009, sudah 312 orang tewas karena kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Selain korban tewas, masih banyak korban luka-luka. Sebagian dari korban luka itu ada yang mengalami cacat tubuh, yang mengakibatkan kemampuannya melakukan kegiatan sehari-hari menjadi terganggu.

Data kepolisian  juga menunjukkan kalau sebagian besar yang terlibat dalam kecelakaan itu adalah orang-orang pada usia produktif. Artinya korban kecelakaan itu adalah para pekerja yang mungkin sebagian besar adalah penunjang ekonomi keluarga. Bila mereka tewas, berarti keluarga korban bisa goyah. Apalagi kalau tumpuan keluarga sampai cacat tetap, yang semula tumpuan keluarga, malahan menjadi membebani keluarga. Tentu ulasan dampak kecelakaan lalulintas bisa dibuat panjang, tapi intinya sepeda motor di kota-kota kita sudah dalam taraf yang mengkawatirkan.

Pada bulan September 2008, saya menulist post bahwa sepeda motor adalah monster ganas di jalan raya. Ketika itu menjelang Lebaran, karena “kepepet” Polisi terpaksa mengawal para pengendara sepeda motor untuk jarak jauh, yaitu para pemudik Lebaran. Mengendara sepeda motor jauh lebih capek ketimbang mengendara mobil, kalau mengendarai sepeda motor untuk jarak jauh, maka risiko kecelakaan menjadi lebih besar, karena pengendara sudah sangat kelelahan.

Sepeda motor juga semakin menyengsarakan masyarakat. Hal itu tidak saja karena faktor keamanan dan kecelakaan, tapi juga karena emisi gas buang sepeda motor yang merusak lingkungan. Asap dari knalpot sepeda motor jauh leih berbahaya dari asap mobil.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s