Air minum dalam kemasan tidak ramah lingkungan

Air sangat penting dalam kehidupan. Semua mahluk memerlukan air untuk kelangsungan hidupnya.  Manusia tidak makan masih bisa bertahan selama beberapa hari, tapi kalau tidak minum beberapa jam, manusia tak akan mampu. Begitu pentingnya air bagi kehidupan, tapi anehnya kita sering tidak peduli tentang air.

Dalam beberapa bulan ke depan, sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau. Besar kemungkinan akan terjadi kemarau yang sangat kering dan panjang. Pada masa memasuki kemarau seperti sekarang ini, kita diingatkan lagi pentingnya melestarikan air.

Proses penyiapan air yang siap diminum mempunyai  jalan yang cukup panjang.  Sebelum kita meneguk air, pernahkan kita bertanya, darimana air berasal, dan bagaimana air itu disiapkan dan diproses. Ternyata, sebagian air mempunyai “perjalanan” yang cukup panjang sebelum kita meneguknya. Perjalanan panjang “proses penyiapan”, air membutuhkan enerji, dan kemungkinan juga menghasilkan limbah. Kebutuhan enerji dalam proses penyiapan air tersebut disebut “energy footprint“.

Air minum yang “energy  footprint” nya paling panjang adalah air minum dalam kemasan (AMDK). Untuk menyiapkan sebotol AMDK didepan kita, air baku bisa diambil dari mata air pegunungan, atau dari sumur, atau dari air PDAM.  Meski semua AMDK mempromosikan diri mengambil air dari mata air pegunungan, sebenarnya lebih banyak mengambil air baku dari sumber selain mata air.

Tahapan prosesnya meliputi 6 kelompok yaitu pengambilan air baku untuk menjadi AMDK, proses pengolahan, proses pengemasan, proses pengangkutan (termasuk distribusi), promosi, proses penjualan sebelum sampai ditangan konsumen. Semua proses  tersebut membutuhkan enerji yang berupa minyak bumi atau listrik.

Sebuah studi di Amerika Serikat, menemukan bahwa pada tahun 2007, jumlah AMDK yang dikonsumsi sebesar 33 milyar liter. Untuk menyiapkan AMDK sebanyak itu, proses penyiapannya membutuhkan antara 32-54 juta liter BBM. Studi itu lebih lanjut mengkaji kebutuhan BBM untuk membuat bahan kemasan berupa botol dan “gelas plastik”. Bahan kemasan pada umumnya dibuat dari “plastik” polyethylene terephthalate (PET). Sehingga banyak sekali enerji yang dibutuhkan untuk membuat kemasan dan botol dari bahan PET.

Studi di Amerika itu menemukan bahwa untuk kemasan AMDK, menghabiskan 1 juta ton PET. Untuk seluruh dunia, diperkirakan AMDK menghabiskan 3 juta ton PET dalam tahun 2007 saja. Untuk memproduksi botol PET di seluruh dunia membutuhkan 50 juta ton BBM. Studi itu dilaksanakan oleh Pacific Institute dibawah pimpinan  Peter Gleick, dan Heather Cooley.

Padahal di Amerika, kualitas air minum perpipaan dari “PDAMnya sono“, hampir sama dengan kualitas AMDK. Sangat mengherankan mengapa konsumsi orang Amerika, akan AMDK sedemikian besar manakala mereka dapat mengkonsumsi air perpipaan secara langsung.  Berbeda dengan kondisi di Indonesia, dimana air perpipaan dari PDAM memang belum layak diminum secara langsung.

Karena itu, sekarang ini, sudah banyak pemikiran dan wacana untuk mengurangi penggunaan AMDK. Salah satu kota di Australia, kota Bundanoon di negara bagian New South Wales, sepakat untuk melarang penjualan air minum dalam kemasan (AMDK) di kota itu. Kesepakatan itu dihasilkan akhir Juni 2009, dari suatu pertemuan warga kota dan merupakan kesepakatan seluruh warga kota. Gerakan pelarangan penjualan AMDK itu berawal dari kesadaran bahwa AMDK sangat boros enerji dan tidak ramah lingkungan. Warga kota Bundanoon bergerak menyadarkan warga bumi bahwa penghematan enerji harus dilakukan di semua aspek.

…. (berlanjut)…. di posting lainnya 

Artikel lanjutan, klik disini.

3 thoughts on “Air minum dalam kemasan tidak ramah lingkungan

  1. Maka air lebih mahal dari bensin. Perusahaan AMDK makin kaya dan menurutku mereka makin tak berperasaan.
    Mereka seharusnya memberikan 50% keuntungannya untuk penghijauan gunung-gunung.

    Like

  2. Sebenarnya pemerintah juga bersalah karena air PDAM masih tercemar heavy metal. Yang mencemari air sungai ialah perusahaan dan penduduk itu sendiri .

    Memasak air sendiri menghabiskan LPG juga. Hal ini tidak mengurangi CO2.

    Diperlukan hukum yang konkrit dan tegas seperti hukum narkoba. Tanpa hukum yang kejam niat baik publik akan selalu dirusak oleh segelintir manusia/kelompok yang mempunyai kepentingan pribadi.

    Menangkap bandar narkoba selicin belut saja bisa, kenapa tidak bisa menangkap pencemar air sungai kita. Mungkin bapak polisi kurang termotivasi.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s