Dimana sih “batas akhir” (push to the limit) ??

“Ayo bang, do your best. Kamu bisa mencapainya”.
Kalimat itu sering saya ucapkan memotivasi anak saya Daniel. Itu terutama saya lakukan ketika dia mau menamatkan SMP, dan siap-siap ikut test masuk SMA. Saya menantangnya untuk mendaftar ke SMA yang terfavorit di Surabaya.

Sekarang Daniel sudah kelas 3 SMA (kelas 12 katanya sekarang). Tahun depan waktunya masuk perguruan tinggi. Persaingan menuju perguruan tinggi yang baik, semakin lama semakin ketat. Saya coba memberikan gambaran kepadanya bagaimana tingginya persaingan itu.

Nampaknya Daniel mulai memahami beratnya persaingan, sehingga ia mau mengikuti “bimbel” yang jadwalnya cukup padat. Kashian juga kalau melihatnya sampai kecapekan setelah mengikuti semua ritual harian, mulai dari sekolah di pagi hari, sampai selesai bimbel di malam hari.

Waktu kelas 1 SMA, sebelum penjurusan ke IPA atau IPS, di sekolahnya dilakukan psiko test. Hasilnya Daniel disarankan nantinya melanjutkan kuliah ke jurusan teknik industri. Sejak SMP dan sampai pertengahan kelas 1 SMA, dia bilang kepinginnya kuliah jurusan arsitektur. Tapi setelah psikotest itu, nampaknya Daniel menjadi enjoy dengan jurusan teknik industri. Dari browsing internet yang ia lakukan, saran psikotest itu semakin memantapkan keinginannya memilih teknik industri.

Saya beritahu, kalau jurusan teknik industri adalah jurusan yang peminatnya sangat banyak. Berdasarkan tren dari tahun ke tahun teknik industri adalah jurusan favorit. Apalagi Daniel, ingin mencoba jurusan teknik industri ITB, sudah pasti persaingannya luar biasa. Tidak mungkin bisa masuk jurusan itu, dengan belajar seadanya.

Persaingan ketat itu membuat anak muda kelas 3 SMA harus berjuang habis-habisan mempersiapkan diri. Saya kadang-kadang bilang sama Daniel:
Ayo push to the limit.

Tapi, saya juga jadi berpikir, benarkah saya harus mendorong nya sampai batas akhir. Apa ukuran batas akhir bagi seorang anak kelas 3 SMA. Apakah mereka tak boleh menikmati masa remaja yang indah itu, demi persaingan-persaingan untuk kuliah. Haruskah mereka mengharamkan permainan “mortal combat” di PSP nya??.

Jangan-jangan saya mendorong anak saya terlalu jauh, hingga bisa-bisa dia terperosok. Sistem penerimaan mahasiswa baru yang demikian ketat, dan persaingan yang tinggi, sudah menyebarkan awan kecemasan bagi pelajar SMA. Orang tua, juga jadi ikut cemas, bahkan sering menjadi yang paling cemas.
Ah.. mau sekolah aja susahnya….

One thought on “Dimana sih “batas akhir” (push to the limit) ??

  1. Saya dapat memahami maksud juga kekuatiran bapak. Bukankah memberikan pendidikan yg baik adalah keinginan semua org tua.

    Dulu saya juga selalu disemangati bapak saya untuk semangat belajar biar bisa diterima di UI, awalnya senang tapi lama2 malah jadi stresss.. mana bapak saya pake ngancam kalo gak negeri gak kuliah…

    Memang jd serius belajar tp dengan stress tingkat tinggi, alhasil pingsan di tempat les. Plus bedrest 1 minggu di RS😀

    Sekali – kali menyemangati bagus pak.. juga memberitahu medan pertempuran tahun depan seperti apa, agar tidak membuang waktu. Tapi kalo keseringan bisa stress bgt. Rasanya gak enak. Gak nyaman.
    Maaf jadi menggurui😉
    ini curhat sebenernya hahaha

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s