Kolaborasi wayang kulit, barongsai dan reog Ponorogo

“Ning..nang…ning…nong…., Ning..nang…ning…nong….
Gdubrakk…tak…tak….. plakk….,Ning..nang…ning…nong….; Ning..nang…ning…nong”….

Tepat jam 20.48, suara gamelan mulai berkumandang, sesaat kemudian 7 orang pesinden wanita melantunkan tembang khas wayang kulit. Pertunjukan wayang multi kultur yang dikolaborasi dengan barongsai dan reog, dimulai.

barongsai 17 1n
Perayaan tujuhbelas agustus di Surabaya, salah satunya ditandai dengan pertunjukan wayang kulit kontemporer di “Hallo Surabaya”, Jalan Bubutan. Selain wayang yang dengan dalang 3 orang secara simultan, pagelaran semakin menarik dengan eksperimen berkolaborasi dengan barongsai dan kesenian Reog Ponorogo. Kolaborasi semakin lengkap, karena salah satu pesindennya adalah Ms. Elizabeth, “sinden bule kelahiran Amerika“.

Tiga orang dalang yang mewakili etnis masing-masing naik panggung malam itu. Ki Tee Boen Liong, mewakili etnis Cina, Ki Jayus Musa Al Jambari, mewakili etnis Arab, dan Ki Enthus Susmono, dari etnis Jawa. Ki Tee Boen Liong dan Ki Jayus tampil terlebih dahulu. Dalam pengamatan saya, kedua dalang itu cukup piawai mengolah cerita dan mempertontonkan atraksi ketrampilan gerak wayang. lakon malam itu adalah “Gatut Kaca Lahir”.

Secara verbal, saya tidak mengerti bahasa Jawa “standar wayang kulit“. Jadi banyak yang tidak saya fahami detail “olah fokal” sang dalang, yang terdiri dari 3 orang. Untunglah Dalang Ki Tee Boen Liong dan Ki Jayus sedikit-sedikit memasukkan bahasa Suroboyoan, jadi ada yang bisa saya ikuti.

Pada saat dalang kedua, Ki Jayus tampil, pada saat itulah, ditengah cerita, ditampilkan peragaan barongsai. Dalam lakon wayang umum setiap babak cerita ada jeda, lalu ada “insert” berupa tembang oleh para pesinden. Setelah sinden menembang beberapa saat, lalu barongsai tampil memukau, pemain barongsai sangat trampil berlompatan pada susunan bangku dan meja. Ketrampilan yang sangat luar biasa, sebab sedikit saja salah, kedua pemain barongsai bisa terjatuh, bahkan bisa cedera. Musik barongsai, dibarengi dengan iringan musik gamelan yang dikomandoi oleh dalang Ki Enthus Susmono.

Selepas, penampilan barongsai, penari Reog muncul ke panggung. Kehadiran reog, tak kalah serunya dengan barongsai. Sayang area “panggung” yang terlalu sempit, sehingga penari reog tidak bisa tampil maksimal. Setelah kolaborasi barongsai, dan reog, pertunjukan wayang kembali dilanjutkan oleh Dalang Ki Jayus Musa.

Menjelang jam 23.30, barulah Ki Enthus Susmono tampil. Dalam beberapa menit saja Ki Enthus sudah membuat banyak penonton tertawa. Saya sudah merasa lelah dan ngantuk, sekitar jam 00.15 saya meninggalkan arena wayang. Sebab percuma saya disana berlama-lama, kalau pulang dalam keadaan ngantuk, malah bisa celaka di jalan.

Malam itu penonton keturunan Cina cukup banyak, ada sekitar 4 orang biksu Budha juga ikut menonton. Dan ada 3 orang asing yang hadir. Saya tidak yakin mereka ngerti bahasa Jawa, karena berbahasa Indonesia juga tidak bisa. Tapi memahami budaya memang tidak harus selalu memakai bahasa verbal, memahami dengan jiwa dan rasa budaya juga bisa dilakukan.

Liputan lainnya ada di koran Surya, 19 Agustus 2009: di situs: Ki Enthus Susmono

2 thoughts on “Kolaborasi wayang kulit, barongsai dan reog Ponorogo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s