Konsentrasi CO2 meningkat tajam di 2008

Meski kampanye kepedulian perubahan iklim terus gencar dilakukan, tapi emisi gas rumah kaca belum memberikan hasil yang menggembirakan. Malahan konsentrasi CO2 di atmosfir meningkat 2 persen selama tahun 2008 saja. Itu berarti, bumi semakin panas, iklim semakin tak menentu. Pada akhirnya bencana lingkungan akan semakin sering terjadi.

Menurut sebuah lembaga di Jerman, The German Renewable Energy Institute IWR, pada tahun 2008, konsentrasi CO2 di atmosfir sudah mencapai 31,5 millliar ton.  Angka ini naik 40 persen dari keadaan di tahun 1990. Menurut informasi yang dirilis kantor berita Reuter 10 Agustus 2009 itu, peningkatan CO2 diatmosfir disebabkan antara lain oleh belum efektifnya mekanisme Kyoto Protocol.

Untuk diketahui, pada tahun 1997, Kyoto Protocol dideklarasikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) secara global, dan ditargetkan untuk bisa menurunkan gas rumah kaca ke level di tahun 1990. Tapi sudah lebih dari 10 tahun Kyoto Protocol, emisi konsentrasi GRK, jangankan turun, malahan meningkat terus. Sudah banyak kesepakatan dideklarasikan, para pemimpin dunia sudah sepakat untuk berbuat lebih, agar konsentrasi GRK bisa turun. Deklarasi itu mengikat secara legal, agar negara-negara maju (Annex-1) mengurangi emisi GRK ke level 1990.

Di sisi lain, dua negara penghasil emisi GRK terbesar, Cina dan Amerika, memang belum meratifikasi Kyoto Protocol. Meratifikasi saja belum, apalagi melaksanakan, itulah Amerika dan Cina. Amerika berdalih, bahwa penurunan GRK tidak harus melalui mekanisme seperti yang disepakati pada Kyoto Protocol. Amerika berpendapat bahwa mereka akan menurunkan GRK tanpa suatu kesepakatan legal internasional yang mengikat.

Alasan Amerika itu sebenarnya mengada-ada saja. Ketidak ikutan Amerika meratifikasi Kyoto Protocol, terutama disebabkan oleh kuatnya lobi perusahaan-perusahaan Amerika untuk menunda ratifikasi itu. Bila Amerika meratifikasi Kyoto Protocol, banyak perusahaan Amerika harus mengeluarkan biaya besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara sistematis.

Kalau peningkatan gas CO2 terus mengikuti kecendrungan seperti tahun 2008, maka perkiraan para ahli bahwa global warming akan membawa bencana, hanyalah tinggal tunggu waktu. Penurunan CO2 tidak cukup hanya dalam bentuk komitmen antar negara. Setiap negara harus membuat program yang mengikat untuk menurunkan emisi GRK dengan target yang terukur. Program mengikat itu harus dituangkan dalam bentuk aturan kewajiban peraturan perundang-undangan.

Kalau aturan perundang-undangan sudah menetapkan kewajiban untuk menurunkan emisi CO2, maka setiap orang terikat secara hukum untuk melaksanakan. Sampai sekarang, belum banyak negara yang sudah menetapkan target pengurangan emisi GRK dalam bentuk undang-undang atau peraturan daerah. Indonesia, meski menjadi tuan rumah COP-13 UNFCCC, belum juga menetapkan secara jelas target pengurangan emisi GRK.

Jadi tidak heran, dengan hasil analisis IWR dari Jerman, kalau bumi semakin panas, semakin membara. Penurunan emisi GRK masih belum  dilaksanakan secara konsisten. Sejumlah aktivis lingkungan sudah membuat analisa, perkiraan dan menyiapkan rencana. Tapi kalau stakeholder lain, tidak konsisten mendukung, maka sulit mengharapkan ada perubahan yang signifikan.

Tulisan saya tentang ramalan tahun 2100, mungkin bisa jadi kenyataan, meski banyak orang yang tak setuju dengan isi tulisan itu. Kecendrungan banyak negara masih saling menunggu pihak lain untuk berbuat. Mudah-mudahan tidak sampai menunggu bencana lingkungan semakin ganas. Topan “Morakot” di Taiwan, menewaskan lebih dari 500 orang di awal Agustus 2009. Topan “Morakot” dapat dikatakan sebagai salah satu dari akibat perubahan iklim yang tidak menentu.

Silahkan lihat artikel tentang peningkatan CO2  disini.

2 thoughts on “Konsentrasi CO2 meningkat tajam di 2008

  1. Horas Amang
    Tulisannya mantap
    Numpang nanya:
    1. Apakah alat ukur atau metoda yang dipakai untuk mengukur kadar CO2 tersebut?
    2. Apakah ada referensi tentang kemampuan suatu tumbuhan menyerap CO2? misal, pohon akasia akan menyerap CO2 xxx kubic per hari, kelapa sawit akan menyerap CO2 xxx kubic per hari

    Salam
    Jhon Maraya Sihaloho/N Br Silaban DB 16
    *****yang lagi minat lingkungan*****

    Like

  2. Trimakasih lae Sihaloho.
    Pertanyaannya sulit juga ya, saya tidak tau alat apa yang dipakai oleh The German Renewable Energy Institute, IWR. Kalau lembaga seperti ini biasanya, selain hasil percobaan sendiri, juga menggunakan analisa dari percobaan lain. Tentu IWR punya kredibilitas cukup untuk menyatakan hal itu.

    Pertanyaan kedua juga bukan gampang, tapi link berikut mungkin bisa membantu ya. Coba klik disini: http://www.ucmerced.edu/news_articles/11142008_how_fast_can_plants.asp

    Belum puas juga?, wah kita coba lagi, di situs berikut ini http://www.sciencemag.org/cgi/content/short/322/5904/1085
    Info ini mungkin membantu (atau malah membingungkan, karena cuma abstrak dari suatu riset)

    Ini juga mungkin bisa membantu ya. klik aja di http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20080730172259AAVNN25

    Horas.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s