Dengan kamera sederhana, mengintip sunrise di Bromo **)

Sebelum saya menutup pintu penginapan, pak Agus pemilik jip hardtop mengingatkan:
“Besok pagi sekitar jam 3-an saya akan membangunkan bapak, nanti pintunya saya ketuk-ketuk”.
Ok, kami akan siap jam 3.30″ kata saya. Pesan Pak Agus saya ulangi kepada semua anggota rombongan, supaya tidak telat bangun.

Benar saja, sekitar jam 03.15 suara ketukan terdengar di pintu depan, “Pak, bangun pak“, suara itu terdengar dua kali. Ketika saya dengan malas mulai duduk, ternyata istri saya sudah lebih dulu bangun. Dia sedang membangunkan anggota rombongan lain. Seperti biasanya, setiap bangun pagi, maka ritual pertama adalah ke kamar mandi untuk pisss. Rupanya malah sudah ada yang duluan booking kamar mandi. Ya, antri dulu untuk ritual pagi ini.

Akhirnya sekitar jam 4 pagi, kami semua berangkat menuju bukit Pananjakan untuk menyaksikan matahari keluar dari puncak bukit. Kami menyewa dua buah jip, karena rombongan semua berjumlah 12 orang. Perjalanan sampai puncak Pananjakan kurang dari satu jam. Walau secara jarak, saya kira jaraknya tidak terlalu jauh.

Begitu sampai di lokasi pengamatan di Pananjakan, ternyata sudah banyak orang disana. Masing-masing menggunakan jaket tebal untuk menahan dingin. Ada yang bawa selimut dan disampirkan dibahu, dilengkapi dengan topi dan sarung tangan. Banyak yang datang berkelompok, dan umumnya sudah siap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan matahari pagi di Gunung Bromo. Saya perhatikan, hampir semua sudah pakai kamera digital, ada yang kamera saku (pocket camera), tidak sedikit yang bawa kamera profesional.

Ditengah banyaknya orang berdiri menanti fajar matahari, ada beberapa pedagang yang menawarkan film untuk kamera model lama (non digital). Rupanya ya, masih ada juga yang menggunakan kamera lama. Saya bawa kamera saku digital yang dibeli di tahun 2004, dengan spesifikasi 4 mega pixel. Waktu itu, spesifikasi seperti itu termasuk tertinggi untuk kamera saku. Daniel, anak saya yang akan memotret fajar Bromo.

Begitu ada kesempatan muncul cahaya kuning di sebelah Timur, semua sudah siap siap pasang aksi untuk memencet tombol kamera masing-masing. Anakku Daniel, sejak awal sudah mencari lokasi strategis untuk mendapatkan sudut pengambilan gambar yang bagus. Daniel menggunakan kamera digital sederhana, jadi sudut pengambilan sangat penting. Hasilnya tidak terlalu jelek (paling tidak menurut saya), seperti yang ada dibawah ini.

CIMG1650

(Sepulang dari Bromo, gambar ini saya upload di Facebook, salah seorang kawan memberi komentar: “Pake kamera merk apa, dan bagaimana pengaturan shutternya”. Saya jelaskan bahwa kamera yang digunakan adalah kamera saku digital, yang saya beli tahun 2004. jadi tidak banyak ngaturnya)

Sebenarnya ada belasan foto yang sempat dibuat Daniel. Salah satunya adalah yang berikut. Foto ini diambil, ketika matahari belum terlihat, begitu banyak orang yang menantikan. CIMG1627

Saya tak sempat menghitung berapa banyak orang yang datang ke Bromo melihat fajar kala itu. Mungkin lebih dari 300 orang, tapi hampir semua pelataran di Pananjakan penuh orang berdiri untuk menyaksikan keindahan alam ciptaan Tuhan itu. Kalau separuhnya saja bawa kamera digital, dan diantaranya ada separuh juga yang upload di internet, berarti sudah ratusan foto fajar di Gunung Bromo yang diupload di internet oleh pengunjung dalam satu hari. Tinggal kalikan saja kalau mau tau berapa dalam satu tahun.

Setelah puas menikmati fajar (sunrise), kami bergeser menyaksikan kawasan Gunung Bromo, dengan puncak Gunung Semeru di kejauhan. Kami tetap masih berada di pelataran Pananjakan, cuma arah melihatnya bergeser agak ke Selatan. Disini pun tak kalah bagus. Karena yang tampak adalah gunung-gunung yang diselimuti awan. Lagi-lagi Daniel mencet tombol kamera nya, seolah tak mau kehilangan momen yang bagus.
CIMG1703
Inilah foto bersama yang sempat saya abadikan, istri, anak dan keponakan. Di latar belakang terlihat puncak Gunung Bromo yang mengeluarkan asap putih. Lebih jauh lagi terlihat Gunung Semeru, dikelilingi awan-awan. Pemandangan yang sangat indah, seolah kita berada ditengah awan. Para pengunjung memanfaatkan momen penting ini, sebab bila terlalu siang, boleh jadi awan-awan itu sudah menghilang.

Saya tambahkan satu lagi foto Daniel di Bromo. (sebagai apresiasi untuknya karena sudah mengabadikan momen-momen bagus.)
CIMG1689

Tidak terasa, ternyata kami menjadi termasuk rombongan yang terakhir meninggalkan Pananjakan. Kebanyakan orang sudah turun duluan, pak Agus, supir jip yang kami sewa sudah menanti untuk membawa kami ke kawah pasir Gunung Bromo.

**
Cerita liburan sekolah 2009.

3 thoughts on “Dengan kamera sederhana, mengintip sunrise di Bromo **)

  1. Dari beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, saya paling terpesona dengan Bromo, keindahannya begitu memukau, dan membuat kita menyadari betapa kecil arti kita sebagai manusia dibanding alam semesta ini.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s