Dua telinga untuk cepat mendengar, dan satu mulut agar lambat bicara

Judul diatas sudah sering kita dengar diucapkan oleh banyak orang, sudah sering ditulis di berbagai media dan buku. Lalu apa makna sesungguhnya yang ada dalam statemen pada judul itu.

listeningJudul itu, meski seperti sebuah hiperbola, mengandung maksud agar kita mencari informasi sebanyak mungkin, mendengarkan masukan dari semua pihak, lalu menganalisa persoalan dengan cermat, sebelum mengeluarkan pendapat atau mengambil keputusan.

Pernyataan seperti judul itu sering dibahas dalam acara-acara seminar motivasi, atau acara latihan kepemimpinan. Tujuannya tiada lain, adalah untuk mengajak orang lebih cermat dalam menganalisa suatu persoalan, dan tepat dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin di tingkatan manapun, harus bisa mempertanggungjawabkan keputusan yang diambilnya. Untuk itu ia harus menyerap banyak data dan informasi, menerima pendapat berbagai pihak. Semakin banyak informasi yang didapat, maka semakin baik analisa yang bisa dibuat. Dengan begitu, diharapkan tindakan yang akan dilakukan atas analisa yang dibuat, akan semakin baik, dan memberikan manfaat yang besar.

Para motivator, instruktur, dan pembicara seminar sering menggunakan contoh dua telinga dan satu mulut sebagai analogi untuk menjelaskan proses analisis persoalan. Tuhan menciptakan manusia dengan sistem yang demikian, sekaligus menggambarkan bahwa Tuhan sudah mendesign manusia dengan sempurna dibidang manajemen personal. Apa jadinya seandainya manusia mempunyai dua telinga dan dua mulut.

Meski demikian, para personal marketing, tidak sepenuhnya setuju dengan judul tersebut diatas. Kelompok ini meyakini bahwa seseorang justru harus banyak bicara untuk meningkatkan “selling value” dirinya. Seseorang dianggap sukses, kalau ia mampu mempengaruhi orang dengan pendapat dan pesan yang ia sampaikan. Dan salah satu media yang paling ampuh adalah bicara. Orang yang ingin sukses menjual sesuatu, harus bisa bicara banyak dan bermutu.

Pandangan marketing yang demikian tentu tidak salah. Aspek marketing dan manajemen kepemimpinan adalah dua hal yang bisa saling melengkapi. Dalam hal-hal tertentu banyak bicara juga memberi manfaat besar, tetapi dalam kondisi yang lain, silent is gold. Bila seseorang dapat mengintegrasikan keduanya, dan tau kapan saat yang tepat untuk bicara, maka hal itu adalah ibarat seorang sniper yang tepat membidik sasaran.

Seseorang harus selalu meng-update dan merefresh makna dari pernyataan diatas, agar tetap relevan dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya demikian pesan yang saya tangkap dari judul post ini, sekaligus menjadi topik khotbah yang saya dengar dalam kebaktian sore kemarin. Tuhan punya rencana yang indah dengan menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kita lebih sabar mendengar saudara yang lain, dan cermat memberikan pendapat dan kesaksian.

3 thoughts on “Dua telinga untuk cepat mendengar, dan satu mulut agar lambat bicara

  1. Hmmm, salam kenal Amang.
    Dua telinga memang diperlukan untuk menyerap informasi 2 kali lipat lebih banyak dari berbicara. Memang, saya kira benar pernyataan “Diam itu emas, tapi ketika kita berbicara, pembicaraan itu harus lebih bernilai dari emas”. Tulisan yang menarik Amang.
    Btw saya langganan RSSnya ya Amang. Salam.

    Like

  2. Saya unjuk jari !
    Saya di bidang marketing soalnya😀
    Hehehe sedang berusaha bgt mengerem bicar hehehhe
    Belajar mendengar😉

    saya setuju dengan ini Pak..
    kalo lbh banyak mendengar jd bisa mengambil keputusan atau mengutarakan maksud dengan baik

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s